Pola Hujan Sudah Berubah Total, Musim Banjir Makin Sering
Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah penelitian menemukan hujan di musim dingin mengalami perubahan. Khususnya di kawasan Eropa Utara, termasuk Inggris, yang mengalami musim dingin basah lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.
Penelitian yang dipimpin ilmuwan dari Universitas Newcastle, James Carruthers menganalisa data dari tahun 1950 hingga 2024. Mereka menemukan perubahan itu dipicu karena pemanasan global yang disebabkan manusia.
Saat curah hujan musim dingin di Eropa Utara menjadi lebih basah, keadaan berbeda terjadi di cekungan Mediterania. Di sana, curah hujannya menyusut dan membuat kekeringan lebih parah terjadi.
"Studi baru kami menunjukkan curah hujan musim dingin meningkat lebih cepat dari yang diproyeksikan model iklim, mencapai tingkat yang tidak terdeteksi model hingga 2040-an," kata Hayley Fowler dari Universitas Newcastle, dikutip dari Earth.com, Kamis (12/2/2026).
Penelitian ini menggunakan teknik penyesuaian dinamis. Metode tersebut menghubungkan pola cuaca harian dengan total curah hujan.
Dari sana, para peneliti dapat menghilangkan dampak pergeseran jalur badai. Data yang tersisa adalah terkait perubahan lebih lambat akibat pemanasan global.
Salah satu faktor perubahan ini terjadi karena arus jet Atlantik Utara. Aliran tersebut mengarahkan banyak badai musim dingin ke Eropa.
Saat menguat atau bergeser, arus itu dapat mendorong badai lebih sering dan intens di Eropa Utara serta daerah selatan yang lebih kering.
Salah satu dampak yang dicatat para peneliti dari perubahan ini adalah banjir. Kemungkinan musim dingin akan mendapatkan banjir dengan intensitas yang tinggi dan parah, khususnya untuk daerah di Eropa Utara.
"Tingkat risiko yang dihadapi sekarang lebih besar dari yang ditunjukkan oleh model iklim," jelas Carruthers.
Sebagai informasi, model iklim masih digunakan pemerintah untuk merencanakan pertahanan banjir dan sistem air. Namun laman Earth mencatat model ini menyederhanakan realitas dan mengabaikan sejumlah proses penting.
Sementara itu, di wilayah yang lebih selatan dengan curah hujan yang lebih sedikit akan berdampak pada air yang kurang untuk mengisi kembali waduk dan tanah sebelum musim panas. Dampaknya akan sangat merugikan pertanian, kebakaran hutan, dan air yang terbatas.
(dem/dem)[Gambas:Video CNBC]