Ramai-ramai Setop Pakai ChatGPT, Ternyata Ini Alasannya

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
11 February 2026 14:10
Indian flag and ChatGPT logo are seen in this illustration taken, January 22, 2025. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration
Foto: REUTERS/Dado Ruvic

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah kampanye dibuat agar pengguna ChatGPT membatalkan langganan mereka pada aplikasiĀ chatbot tersebut. Ini terjadi ternyata karena hubungan pembuat OpenAI dengan pemerintahan presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Kampanye bernama QuitGPT ini dimulai oleh seorang pengembang software asal Singapura bernama Alfred Stephen. Pada September lalu, dia membeli langganan ChatGPT plus senilai US$20 per bulan.

Namun ternyata dia merasa frustasi dengan kemampuan pengkodean chatbot. Termasuk balasan ChatGPT yang bertele-tele.

Dari sana, dia menyuarakan untuk pengguna membatalkan langganan ChatGPT. Alasannya juga bukan hanya karena kemampuan chatbot, melainkan beberapa bukti hubungan erat OpenAI dengan pemerintah AS.

Salah satunya adalah Greg Brockman selaku presiden OpenAI yang memberikan sumbangan pada Trump melalui PAC MAGA Inc untuk kemenangan presiden 2024 lalu. Selain itu juga alat penyaringan resume milik Badan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) yang didukung ChatGPT-4.

"Itu benar-benar pemicu terakhir," kata Stephen soal donasi Brockman, dikutip dari Technology Review, Rabu (11/2/2026).

Kasus terakhir muncul setelah agen lembaga setempat menembak mati dua orang di Minneapolis bulan Januari lalu.

Stephen diketahui telah membatalkan langganan ChatGPT. Saat melakukannya, dia menuliskan untuk 'tidak mendukung rezim fasis' pada pertanyaan survei apa yang bisa dilakukan OpenAI untuk tetap berlangganan.

Kampanye ini nyatanya menarik sejumlahĀ orang. Penyelenggara mengklaim 17 ribu orang mendaftar di situs web, ada juga yang membagikan kampanye di media sosial.

Selain itu postingan soal kampanye di Instagram juga telah ditonton 36 juta kali serta disukai 1,3 juta kali.

Namun QuitGPT bukan satu-satunya gerakan berhenti menggunakan ChatGPT dan OpenAI. Banyak gerakan serupa yang meminta pembatalan langganan chatbot populer itu.

Sejumlah pengguna menceritakan soal GPT 5.2 hingga ada pula yang membagikan meme soal sifat menjilat chatbot. Selain itu ada juga ajakan untuk melakukan pembatalan massal di San Fransisco, sindiran untuk pemakamana GPT-40, serta hubungan erat OpenAI dengan pemerintah Trump.

(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Warga RI Sudah Kecanduan Parah, Masuk Daftar 'Top 5' Dunia


Most Popular
Features