Bukan Rudal-Nuklir, Senjata Baru China Bisa Bikin Amerika Tekuk Lutut
Jakarta, CNBC Indonesia - China dilaporkan telah mengembangkan teknologi militer baru yang berpotensi mengubah peta persaingan senjata luar angkasa global. Teknologi tersebut memungkinkan serangan gelombang mikro berdaya tinggi yang dinilai lebih sulit dideteksi dan diidentifikasi dibandingkan senjata anti-satelit konvensional.
Melansir Euro News, temuan ini terungkap dalam sebuah studi yang menyebutkan bahwa sistem tersebut suatu hari nanti bisa digunakan untuk mengganggu jaringan satelit orbit rendah Bumi, seperti Starlink. Jika benar-benar dioperasikan, kemampuan ini berpotensi menempatkan China di depan Amerika Serikat dan Rusia dalam perlombaan senjata luar angkasa.
Penelitian tersebut dilakukan oleh para ilmuwan dari Institut Teknologi Nuklir Barat Laut (NINT), sebuah lembaga riset yang terkait dengan militer China dan berbasis di Xi'an. Mereka mengklaim telah berhasil membangun penggerak pulsa terkecil di dunia untuk senjata gelombang mikro berdaya tinggi atau high-power microwave (HPM).
Perangkat yang diberi nama TPG1000Cs ini memiliki panjang sekitar empat meter dengan bobot sekitar lima ton. Ukuran tersebut jauh lebih ringkas dibandingkan sistem sejenis yang selama ini diketahui, sehingga dinilai lebih mudah diintegrasikan ke dalam platform senjata yang lebih kecil.
"Sistem ini telah menunjukkan pengoperasian yang stabil selama durasi satu menit terus menerus, mengakumulasikan sekitar 200.000 pulsa dengan kinerja yang konsisten," tulis studi tersebut, dikutip dari Euro News, Minggu (8/2/2026).
Sebagai perbandingan, sistem HPM yang dikenal sebelumnya, umumnya hanya mampu beroperasi selama beberapa detik dan berukuran jauh lebih besar, sehingga dinilai kurang praktis untuk penggunaan militer tertentu.
Dalam studi itu juga disebutkan bahwa TPG1000Cs mampu menghasilkan pulsa listrik hingga 20 gigawatt. Angka ini jauh melampaui daya sekitar 1 gigawatt yang, menurut para ahli, sudah cukup bagi senjata gelombang mikro berbasis darat untuk berpotensi mengganggu jaringan satelit orbit rendah seperti Starlink.
Cara Kerja dan Keunggulan Strategis
Amerika Serikat, Rusia, dan China selama ini diketahui sama-sama menjajaki pengembangan teknologi gelombang mikro berdaya tinggi sebagai senjata anti-satelit. Salah satu pertimbangan utamanya adalah risiko besar dari penghancuran satelit menggunakan senjata konvensional.
Serangan fisik terhadap satelit dapat menciptakan awan puing-puing di orbit yang berpotensi membahayakan wahana antariksa lain, termasuk milik negara penyerang itu sendiri. Sebaliknya, senjata gelombang mikro secara teoritis mampu melumpuhkan perangkat elektronik satelit tanpa menghasilkan puing signifikan.
Teknologi ini bekerja dengan cara menyimpan energi listrik, lalu melepaskannya dalam semburan singkat namun sangat kuat. Denyut tersebut menghasilkan radiasi gelombang mikro intens yang dapat mengganggu atau merusak sistem elektronik target.
Sebagai catatan, komunikasi satelit Starlink telah digunakan secara luas untuk menopang infrastruktur komunikasi Ukraina selama invasi Rusia, berkat ketahanannya terhadap berbagai upaya pengacauan sinyal.
Studi mengenai TPG1000Cs ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah berbahasa Mandarin High Power Laser and Particle Beams pada 13 Januari lalu.
Dalam beberapa tahun terakhir, China memang semakin aktif menerbitkan riset yang menyoroti pentingnya mengembangkan kemampuan untuk mengganggu konstelasi satelit berskala besar, termasuk jaringan Starlink milik Elon Musk.
Para peneliti menyebut terobosan ini dimungkinkan berkat penggunaan bahan isolasi cair khusus bernama Midel 7131.
"Dengan mengadopsi dielektrik cair berdensitas energi tinggi Midel 7131 dan jalur pembentuk pulsa lebar ganda, penelitian ini mencapai miniaturisasi transformator Tesla terintegrasi dan sistem pembentuk pulsa," tulis para ilmuwan dalam penelitian tersebut.
(hsy/hsy)[Gambas:Video CNBC]