Studi Terbaru Bongkar Fakta-Fakta Mengejutkan Video Medis di Youtube,

Romys Binekasri,  CNBC Indonesia
07 February 2026 20:45
Ilustrasi menonton tv (Cottonbro via Pexels)
Foto: Ilustrasi menonton (Cottonbro via Pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia - Para peneliti dari National Cancer Center mengungkapkan, sebagian besar video YouTube medis tidak menyajikan konten sesuai fakta. Hal yang paling mengejutkan adalah konten tersebut dibuat oleh dokter.

Lebih dari 60% video YouTube berbahasa Korea dengan konten medis memiliki kredibilitas yang sangat rendah, bahkan yang dibuat oleh dokter profesional sekalipun.

Penelitian ini diterbitkan dalam JAMA Network Open, sebuah jurnal medis akses terbuka bulanan yang diterbitkan oleh American Medical Association.

Mirisnya, penelitian yang dipimpin oleh Kang Eun-kyo, asisten profesor kesehatan masyarakat dan kecerdasan buatan, juga menemukan bahwa video dengan kredibilitas terendah mendapatkan lebih banyak penayangan daripada video yang paling relevan secara medis.

Mengutip situs Korea Herald, tim Kang meninjau sebanyak 309 video dengan rata-rata 164.454 penayangan dan durasi rata-rata 19 menit pada Juni 2025. Semua video memiliki setidaknya 10.000 penayangan, berdurasi setidaknya satu menit, berisi komentar spesifik, dan tiga perempatnya dibuat oleh dokter.

Video-video tersebut dinilai berdasarkan tingkat kredibilitasnya, mulai dari A (kepastian tinggi dari tinjauan sistematis dan/atau pedoman), B (kepastian sedang dari uji klinis acak, studi kohort, dan studi observasional berkualitas tinggi dengan kutipan yang jelas), C (kepastian rendah dari studi observasional terbatas, mekanisme fisiologis, atau seri kasus tanpa penilaian kritis), hingga D (sangat rendah atau tidak ada kepastian dari bukti anekdot).

Fakta mengejutkan, sebanyak 62,5% video mendapatkan nilai D, sementara hanya 19,7% yang mendapatkan nilai A. Sisanya mendapatkan nilai B sebanyak 14,6 % dan C sebanyak 3,2%.

Ditemukan, video dengan nilai D memiliki jumlah penayangan 34,6% lebih tinggi daripada video dengan nilai A.

Studi tersebut menyimpulkan, kesenjangan bukti kredibilitas yang substansial ditemukan dalam konten berbagi video yang dibuat oleh dokter, di mana otoritas medis sering kali melegitimasi klaim yang tidak memiliki dukungan empiris yang kuat.

"Temuan ini menekankan perlunya pedoman konten berbasis bukti dan pelatihan komunikasi sains yang lebih baik bagi para profesional kesehatan untuk menjaga integritas ilmiah dalam informasi kesehatan digital," ungkapnya, Sabtu (7/2/2026).

Temuan ini menunjukkan potensi bahaya di salah satu negara yang paling melek teknologi di dunia, di mana semakin banyak penduduknya yang mengandalkan video YouTube untuk mendapatkan informasi medis.

Sebab, penelitian menunjukkan masyarakat sangat terpengaruh oleh apa yang mereka lihat di YouTube. Sebuah studi tahun 2021 tentang efek video medis YouTube menemukan bahwa perilaku kesehatan pemirsa lebih cenderung dipengaruhi oleh kompetensi, pengaruh, dan kesukaan mereka terhadap pembuat konten.

"Hasil analisis menunjukkan bahwa reputasi pembuat konten yang dirasakan oleh pemirsa dan atribut konten berkorelasi positif dengan niat perilaku kesehatan, yang dimediasi oleh keandalan informasi," kata para peneliti dalam studi yang diterbitkan oleh Korean Academic Society for Public Relations.

(dce)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Video: Cara InterSystems Bantu Dokter-Rumah Sakit Manfaatkan Data & AI


Most Popular
Features