Bumi Sudah Berubah, Peneliti Ungkap Fakta 66 Juta Tahun Lalu

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
04 February 2026 10:45
A view from the edge of space is seen from Virgin Galactic's manned space tourism rocket plane SpaceShipTwo during a space test flight over Mojave, California, U.S. December 13, 2018. Virgin Galactic/Handout via REUTERS.  ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. NO ARCHIVES, NO SALES.
Foto: Pemandangan dari tepi angkasa terlihat dari pesawat ruang angkasa pariwisata roket berawak Virgin Galactic, SpaceShipTwo, selama penerbangan uji antariksa di atas Mojave, California, AS, 13 Desember 2018. Virgin Galactic / Handout melalui REUTERS.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pada satu waktu, Bumi pernah berubah dari iklim yang tropis hangat menjadi sangat dingin. Para peneliti dari Universitas Southampton bersama beberapa peneliti dari China, AS, Israel, Denmark, Jerman, Belgia dan Belanda berupaya untuk menjawab misteri 66 juta tahun lalu atau setelah zaman dinosaurus.

Menurut para peneliti, perubahan ini terjadi karena kadar kalsium yang ada di air laut. Terdapat penurunan kadar laut lebih dari 50% selama 66 juta tahun terakhir, yang mengubah cara lautan berinteraksi dengan atmosfer.

Penulis utama, David Evans menjelaskan kadar kalsium yang larut mencapai dua kali lebih tinggi pada awal Era Senozoikum. Kadar yang tinggi ini membuat karbondioksida yang disimpan lebih sedikit dan melepaskannya di udara.

Namun saat kadar menurun, membuat Co2 terlepas dari atmosfer. Kemudian juga menurunkan suhu mencapai 20 derajat celcius.

"Seiring menurunnya kadar itu, Co2 terserap keluar dari atmosfer dan suhu Bumi ikut turun, membuat iklim turun hingga 15-20 derajat Celcius," kata Evans dikutip dari ScitechDaily, Rabu (4/2/2026).

Tim peneliti melakukan penelitian dengan sisa fosil makhluk laut kecil yang ditemukan dengan menggali dari sedimen di dasar laut. Ini dilakukan untuk menyusun catatan kimia laut yang lebih mendetil.

Mereka juga membuat model buatan komputer, yang menunjukkan kadar kalsium yang tinggi dan mengubah jumlah karbon yang berada di lautan seperti karang hingga plankton.

Lebih lanjut para peneliti menemukan penurunan kadar kalsium laut ini juga sejalan dengan proses pemekaran dasar samudera yang melambat. Ini adalah proses vulkanik untuk menciptakan dasar laut yang baru.

Proses yang melambat itu membuat pertukaran kimia antara batuan dan air laut juga berubah. Pada akhirnya membuat adanya penurunan konsentrasi kalsium terlarut secara bertahap.

"Biasanya kimia air laut menjadi sesuatu yang dipandang untuk merespon faktor-faktor lain penyebab perubahan iklim, bukan sebagai penyebab itu sendiri," jelas peneliti lainnya dari Universitas Rutgers AS, Yair Rosenthal.

"Mungkin saja perubahan pada proses di kedalaman Bumi adalah yang bertanggung jawab pada pergeseran iklim selama waktu geologis," dia menambahkan.

(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Temuan China Bongkar Sejarah Bumi, Buktinya Harta Karun Australia


Most Popular
Features