Eropa Mulai Tendang Amerika, Bikin Sendiri Penggantinya

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
30 January 2026 07:20
Rabbi Haim Ovadia leads a virtual morning minyan via electronic tablet as 32 people attending his Zoom meeting pray with him during a virtual morning minyan transmitted from Ovadia's home in Potomac Md., Monday, April 6, 2020. Ovadia started the virtual morning minyan, daily prayers that typically require the physical presence of ten adult Jews in the same room, after coronavirus concerns closed many synagogues. He also has an afternoon minyan and classes online. "People are suffering," says Ovadia, "the crisis got people to connect, to reach out, and say 'I need this'." He says the prayers provide a ritual and sense of community despite the pandemic crisis. (AP Photo/Jacquelyn Martin)
Foto: ilustrasi video conference (AP/Jacquelyn Martin)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Prancis mengumumkan rencana untuk menggantikan platform konferensi video asal Amerika Serikat, seperti Microsoft Teams dan Zoom, dengan platform buatan dalam negeri bernama Visio.

Platform tersebut ditargetkan digunakan di seluruh kementerian dan lembaga pemerintah pada 2027.

Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi nasional Prancis untuk mengurangi ketergantungan pada penyedia teknologi asing dan memperkuat kedaulatan digital, terutama dalam pengelolaan infrastruktur komunikasi pemerintah yang bersifat krusial.

Menteri Urusan Aparatur Sipil Negara dan Reformasi Negara Prancis, David Amiel, mengatakan langkah tersebut bertujuan menghentikan penggunaan solusi non-Eropa.

"Tujuannya adalah mengakhiri penggunaan solusi non-Eropa dan menjamin keamanan serta kerahasiaan komunikasi elektronik publik dengan mengandalkan alat yang kuat dan berdaulat," ujar Amiel, dikutip dari EuroNews, Kamis (20/1/2026).

Visio merupakan platform konferensi video yang dikembangkan di dalam negeri dan telah menjalani uji coba selama satu tahun. Saat ini, platform tersebut telah digunakan oleh sekitar 40.000 pengguna di lingkungan pemerintahan.

Platform ini menjadi bagian dari program Suite Numérique, sebuah ekosistem alat digital berdaulat yang dirancang untuk menggantikan layanan daring asal Amerika Serikat seperti Gmail dan Slack. Suite Numérique ditujukan khusus untuk aparatur sipil negara dan tidak diperuntukkan bagi masyarakat umum maupun sektor swasta.

Visio dilengkapi fitur transkripsi rapat dan identifikasi pembicara berbasis kecerdasan buatan yang dikembangkan bersama startup Prancis, Pyannote.

Infrastruktur platform ini juga dihosting di sovereign cloud milik Outscale, anak usaha Dassault Systèmes.

Pemerintah memperkirakan peralihan ke Visio dapat menekan biaya lisensi perangkat lunak hingga 1 juta euro per tahun untuk setiap 100.000 pengguna.

Selain efisiensi biaya, kebijakan ini juga dipicu oleh kekhawatiran Eropa terhadap ketergantungan berlebih pada infrastruktur TI Amerika Serikat, terutama setelah terjadinya gangguan layanan cloud AS pada tahun lalu.

Menurut Amiel, strategi ini mencerminkan komitmen Prancis menjaga kedaulatan digital di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.

"Strategi ini menegaskan komitmen Prancis terhadap kedaulatan digital di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik serta kekhawatiran akan pengawasan asing maupun gangguan layanan," pungkasnya.

(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Tinggalkan Amerika dan China, Eropa Siapkan Rencana Besar


Most Popular
Features