Kerja Kantoran Makin Seret, Profesi Lama Tiba-tiba Naik Daun

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
26 January 2026 15:05
infografis bank di dunia yang melakukan  PHK terhadap karyawannya
Foto: infografis/infografis bank di dunia yang melakukan PHK terhadap karyawannya/Aristya Rahadian krisabella

Jakarta, CNBC Indonesia - Pembahasan mengenai kecerdasan buatan (AI) mendominasi pertemuan tahunan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss.

Sejumlah eksekutif menyatakan AI akan menghilangkan beberapa jenis pekerjaan, namun menciptakan yang baru. Mereka juga menilai perusahaan akan menggunakan AI sebagai alasan atas keputusan PHK yang sebenarnya sudah direncanakan.

CEO Nvidia Jensen Huang menyebut teknologi AI akan mendorong peningkatan upah dan lebih banyak pekerjaan bagi tukang ledeng, teknisi listrik, dan pekerja baja. Ia bahkan menekankan frasa "pekerjaan, pekerjaan, pekerjaan" untuk menggambarkan potensi ekspansi.

"Energi menciptakan pekerjaan. Industri chip menciptakan pekerjaan. Lapisan infrastruktur menciptakan pekerjaan," kata Huang, dikutip dari Reuters, Senin (26/1/2026).

Namun di balik optimisme, skeptisisme mengenai dampak AI terhadap pekerja tetap mencuat. Serikat buruh mempertanyakan distribusi manfaat teknologi, sementara sejumlah delegasi mengangkat risiko chatbots terhadap kesehatan mental konsumen.

Menurut Sekretaris Jenderal UNI Global Union Christy Hoffman, AI sering dikemas sebagai alat produktivitas yang secara praktis berarti melakukan lebih banyak pekerjaan dengan jumlah tenaga kerja lebih sedikit.

"AI dijual sebagai alat produktivitas, yang sering kali berarti melakukan lebih banyak dengan jumlah pekerja yang lebih sedikit," ujar Hoffman.

Matthew Prince, CEO perusahaan keamanan internet Cloudflare, mengatakan bahwa AI akan terus berkembang dan para pengembang kecil dapat mengatasi gangguan pasar atau pendanaan.

Prince, memperingatkan bahwa AI dapat menjadi sangat dominan di masa depan hingga usaha kecil tersingkir sementara agen otonom menangani permintaan belanja konsumen.

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia usaha mengeluhkan bagaimana melampaui uji coba AI yang gagal dan memonetisasi gelombang AI yang dimulai oleh ChatGPT pada 2022.

Sementara itu, pelaku industri menilai AI telah memasuki fase pengembalian investasi. IBM menyebut otomatisasi proses bisnis kini sudah dapat dioperasionalkan. BNY mencatatkan pemangkasan waktu riset onboarding klien dari dua hari menjadi 10 menit. Cisco bahkan menyebut proyek kompleks yang sebelumnya membutuhkan 19 tahun kerja manual kini rampung dalam hitungan minggu.

Meski demikian, survey PwC menyebut hanya satu dari delapan CEO yang percaya bahwa AI menekan biaya dan menghasilkan pendapatan tambahan. Pertanyaan juga muncul mengenai model bisnis yang dapat menutupi biaya besar AI.

Di sisi ketenagakerjaan, BlackRock menyatakan tidak berniat memangkas karyawan dan memilih menjaga jumlah tenaga kerja tetap seiring ekspansi bisnis. Sebaliknya, Amazon disebut tengah menyiapkan putaran PHK kedua sebagai bagian dari target pengurangan sekitar 30.000 posisi korporat.

Menurut International Trade Union Confederation, kecemasan terkait pekerjaan meningkat karena minimnya keterlibatan pekerja dalam implementasi teknologi baru. Hal ini mendorong pandangan bahwa AI merupakan ancaman bagi tenaga kerja.

Bagi Bill Gates, peluang dan disrupsi AI tidak terpisahkan. Ia menilai peningkatan produktivitas ekonomi bersifat positif dan mengusulkan opsi seperti pajak atas aktivitas AI untuk mendukung pekerja terdampak.

"Tentu ada masalah, namun semuanya dapat diselesaikan," ujar Gates tentang AI secara umum.

(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Cari Kerja Sekarang Susah, Banyak Orang Pilih Ganti Profesi Ini


Most Popular
Features