Bill Gates Terpaksa Turun Gunung Bereskan Ulah Trump
Jakarta, CNBC Indonesia - Pada awal 2025 lalu, pemerintahan Presiden AS Donald Trump membekukan anggaran bantuan luar negeri untuk mendorong efisiensi. Hal serupa kemudian diikuti oleh Inggris dan Jerman.
Secara keseluruhan, bantuan pengembangan untuk kesehatan global anjlok hingga 27% sepanjang tahun lalu jika dibandingkan dengan 2024, menurut estimasi Gates Foundation.
Sebagaimana diketahui, Gates Foundation selama ini dikenal dengan aktivitas filantropi di sektor kesehatan, iklim, dan pendidikan. Untuk itu, yayasan milik pendiri Microsoft, Bill Gates, tersebut turun tangan dalam merespons pemangkasan anggaran bantuan internasional.
Gates Foundation dan OpenAI berkolaborasi dalam kemitraan senilai US$50 juta untuk membantu beberapa negara Afrika menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI), dalam meningkatkan sistem kesehatan dan memitigasi dampak dari pemotongan anggaran bantuan internasional.
Kemitraan dua entitas tersebut dinamai 'Horizon1000'. Rencananya, mereka akan berkoordinasi dengan pemimpin negara-negara Afrika dalam menentukan skenario terbaik penggunaan AI, dimulai dari Rwanda.
"Di negara-negara miskin dengan kelangkaan pekerja kesehatan atau infrastruktur sistem kesehatan yang tidak memadai, AI bisa menjadi 'gamechanger' dalam mengekspansi akses kesehatan berkualitas," tulis Gates dalam unggahan di blognya, dikutip dari Reuters, Kamis (22/1/2026).
Berbicara dengan Reuters di Davos pada pekan ini, Gates mengatakan AI berpotensi membantu dunia kembali ke jalur pengembangan kesehatan yang layak, usai terjadi pemangkasan anggaran bantuan internasional besar-besaran.
"Menggunakan inovasi AI, saya rasa kita bisa kembali on track," kata Gates kepada Reuters.
"Komitmen kami adalah revolusi di sektor kesehatan setidaknya terjadi di negara-negara miskin dengan proses yang cepat seperti di negara-negara kaya," ia menambahkan.
Horizon1000 bertujuan untuk menjangkau 1.000 klinik kesehatan primer dan komunitas sekitarnya di beberapa negara pada 2028, kata Gates. Ia menambahkan bahwa beberapa negara hanya memiliki satu dokter per 50.000 orang bahkan di daerah perkotaan besar. Angka itu jauh di bawah rasio di sebagian besar negara berpenghasilan tinggi.
Gates mengatakan kepada Reuters bahwa inisiatif tersebut kemungkinan akan fokus pada peningkatan perawatan bagi wanita hamil dan pasien HIV. Mereka bisa memanfaatkan AI untuk berkonsultasi hingga sampai di klinik.
Setibanya di klinik, AI akan membantu mengurangi pekerjaan administrasi dan menghubungkan riwayat pasien dan janji temu dengan lebih efektif, tambahnya.
"Menurut kami, kunjungan ke klinik bisa dua kali lebih cepat dan jauh lebih berkualitas," katanya.
(fab/fab)[Gambas:Video CNBC]