Komputer Tak Laku, Laptop Terancam Tak Ada yang Mau Beli

Intan Rakhmayanti,  CNBC Indonesia
19 January 2026 07:20
The new Apple iMac desktop computer sits on display at Apple headquarters, Tuesday, Aug. 7, 2007 in Cupertino, Calif. Apple Inc. updated its iMac computers Tuesday with a slimmer design, faster chips and glossy screens, hoping to further propel sales that already outpace the rest of the PC industry. The all-in-one desktop computers now have aluminum casings, replacing the white plastic facade that has defined the computer lineup for years. (AP Photo/George Nikitin)
Foto: Ilustrasi iMac (AP Photo/George Nikitin)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga komponen utama komputer personal (PC), baik laptop maupun desktop, dalam beberapa waktu terakhir melonjak tinggi. Kondisi ini menjadi ancaman serius buat pedagang komputer di seluruh dunia.

Kondisi harga RAM yang tidak terkendali terus memberikan tekanan terhadap industri teknologi. Berdasarkan laporan terbaru, penjualan motherboard dilaporkan mengalami penurunan hingga 50% sebagai dampak dari krisis tersebut.

Kenaikan harga DDR5 telah berada di luar kendali. Media teknologi Jepang Gazlog melaporkan bahwa harga kit RAM 64GB kini lebih mahal dibandingkan konsol PlayStation 5 atau kartu grafis RTX 5070.

Kondisi ini membuat banyak toko mencabut harga tetap dari rak pajang DDR5, dan hanya mengikuti harga pasar yang berubah setiap hari, demikian dikutip dari TechSpot, Senin (19/1/2026).

Selain itu, pengguna yang ingin meningkatkan performa PC dari sistem DDR4 atau versi lebih lama tidak punya pilihan lain selain membeli DDR5, yang kini harganya melambung.

Akibatnya, para produsen motherboard seperti Asus, MSI, dan Gigabyte terpaksa menurunkan target penjualan secara drastis.

Menurut laporan Gazlog, tingginya harga RAM membuat penjualan motherboard merosot 40-50% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Kondisi ini diperkirakan menular ke penurunan penjualan CPU dalam beberapa waktu ke depan.

Sumber utama kenaikan harga adalah permintaan masif dari pusat data AI yang memborong DRAM untuk mendukung pembangunan infrastruktur komputasi mereka.

Permintaan yang ekstrem ini membuat kapasitas produksi masa depan sudah habis dibeli industri besar, meninggalkan sedikit ruang untuk pasar konsumen.

Di platform Reddit, mulai muncul seruan agar gamer memboikot pembelian RAM sebagai bentuk protes. Harapannya, produsen akan menurunkan harga apabila permintaan dari konsumen umum anjlok.

Namun analis menilai langkah ini hampir pasti tidak efektif. Mayoritas pendapatan produsen memori berasal dari sektor enterprise, industri, dan data center, bukan dari PC rumahan.

Selain itu, boikot massal jarang berhasil, seperti yang terlihat pada krisis kartu grafis saat masa pandemi. Selalu ada konsumen yang tetap membeli, dan scalper yang memanfaatkan kelangkaan.

Krisis RAM juga mulai merembet ke pasar kartu grafis. AMD kabarnya akan menaikkan harga GPU hingga 10%, baik AMD maupun Nvidia dikabarkan tengah mempertimbangkan penghentian beberapa model low-end dan mid-range demi mengamankan margin.

(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Krisis Baru Harga RAM Naik Gila-gilaan, Gerakan Boikot Menggema


Most Popular
Features