Alasan Tersembunyi Trump Caplok Greenland, Bukan Keamanan

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
14 January 2026 11:25
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terus menyatakan keinginannya untuk menguasai Greenland yang saat ini merupakan wilayah Denmark. (AFP/ODD ANDERSEN)
Foto: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terus menyatakan keinginannya untuk menguasai Greenland yang saat ini merupakan wilayah Denmark. (AFP/ODD ANDERSEN)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana pencaplokan Greenland oleh pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diprediksi bakal menguntungkan banyak raksasa teknologi AS. Para investor dikabarkan tengah menilai potensi keuntungan dari mineral penting dan mineral langka yang ada di Greenland untuk mendukung pasar teknologi.

Kedua sumber daya itu bisa mendukung mulai dari smartphone, kendaraan listrik, pusat data AI, semikonduktor hingga teknologi pertahanan canggih.

Kehadiran sumber daya ini bisa menguntungkan perusahaan besar dalam Magnificent Seven. Ketujuh perusahaan itu akan bisa mendapatkan jalan pintas geopolitik untuk mendapatkan pasokan material langka yang beragam dan andal.

Salah satunya adalah Apple yang bergantung pada logam tanah jarang, yang tersedia di Greenland. Sumber daya itu digunakan seperti untuk magnet iPhone, layar, serta kamera. Selain itu juga untuk chip dan baterai.

Laporan CNBC Internasional baru-baru ini juga mengungkapkan minat investor yang meningkat soal kendali AS pada Greenland. Mereka mempertanyakan apakah bisa mempercepat proyek pertambangan dan mengamankan rantai pasok yang sedang didominasi oleh China.

CEO Critical Metals Corp, Tony Sage mengatakan rencana Trump itu membuat para investor bertambah antusiame. Termasuk para pendukung perusahaannya dan investor pada tujuh perusahaan teknologi terbesar AS.

Critical Metals Corp sendiri bekerja untuk unsur tanah jarang berat, seperti Yttrium, Gadolinium, Terbium, Dysprosium, Holmium, Erbium, Thulium, Ytterbium, Lutetium, dan Gallium. Semua sumber daya itu penting bagi beberapa hal termasuk roket luar angkasa hingga jet tempur.

"Ini merupakan material penting untuk teknologi pertahanan, robotika, semikonduktor dan aplikasi dirgantara. Kita tidak bisa menerbangkan roket ke antariksa, membangun kapal selam nuklir atau jet tempur generasi berikutnya tanpa material ini," jelasnya, dikutip dari Mac Daily News, Selasa (13/1/2026).

CEO Amaroq Minerals, Eldur Olafsson mengatakan China menyetop germanium dan gallium saat Trump memberlakukan tarif pada Beijing. Padahal keduanya sangat dibutuhkan untuk AI.

Meski banyak yang menyambutnya positif, namun ada beberapa pihak yang mengkritisi soal pembelian Greenland. Misalnya Tracy Hughes dari Critical Mineral Institutes mengingatkan proyek di wilayah itu masih dalam tahap eksplorasi awal dan tidak secara signifikan berdampak pada pasar dalam beberapa dekade berikutnya.

Trump Sebut Alasan Keamanan

Terletak di antara AS dan Rusia, Greenland yang merupakan wilayah Denmark yang luas telah lama dipandang sebagai wilayah yang sangat penting secara strategis, terutama dalam hal keamanan Arktik. Wilayah dengan hampir 57.000 penduduk ini berada di dekat jalur pelayaran Arktik yang sedang berkembang.

"Saat ini, Greenland dipenuhi kapal-kapal Rusia dan China di mana-mana. Kita membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional," kata Trump beberapa saat lalu.

Pencairan es yang cepat menciptakan peluang substansial mengurangi waktu perjalanan Asia-Eropa dibandingkan dengan Terusan Suez. Greenland juga terletak di atas apa yang disebut Celah GIUK, titik sempit angkatan laut antara Greenland, Islandia, dan Inggris yang menghubungkan Arktik ke Samudra Atlantik.

Tentu saja, AS sudah memiliki kehadiran di Greenland. Pangkalan Luar Angkasa Pituffik, yang sebelumnya bernama Pangkalan Udara Thule, terletak di barat laut Greenland, tepat di seberang Teluk Baffin dari Nunavut, Kanada.

Diperkirakan sekitar 150 anggota militer AS ditempatkan secara permanen di sana. Angka ini turun dari sekitar 6.000 selama era Perang Dingin.

Para analis mengatakan Greenland dapat terbukti bermanfaat bagi AS sebagai tempat persiapan untuk kehadiran "pertahanan yang lebih besar dan sebagai lokasi untuk pencegat rudal AS". Ini khususnya dalam konteks salah satu kebijakan utama pemerintahan Trump yakni pembuatan sistem pertahanan rudal "Golden Dome".

Bagi sebagian orang, pernyataan Trump bahwa mencaplok Greenland adalah bagian inti dari keamanan nasional AS telah menimbulkan pertanyaan. Deklarasi tersebut menandai perubahan nada yang signifikan dibandingkan hampir setahun yang lalu, ketika presiden terpilih saat itu menyebut "keamanan ekonomi" sebagai faktor utama untuk mencaplok pulau tersebut.

Direktur Program Keamanan Internasional di lembaga think tank Chatham House London, Marion Messmer, mengakui bahwa memang benar bahwa Rusia dan China telah meningkatkan aktivitas militer mereka di Arktik dalam beberapa tahun terakhir. Dan, jika Moskow meluncurkan rudal ke AS, kemungkinan besar rudal tersebut akan terbang di atas Greenland.

"Namun, yang tidak jelas adalah mengapa Washington membutuhkan kendali penuh atas Greenland untuk mempertahankan diri," kata Messmer dalam analisis tertulisnya.

"Selama Perang Dingin, AS menempatkan hingga 6.000 tentara di berbagai kamp di seluruh pulau," tambahnya.

"Mereka mungkin dapat meningkatkan kehadiran pasukan lagi jika merasa membutuhkan kehadiran yang lebih besar di wilayah tersebut - tanpa mempertanyakan kedaulatan Denmark."

Sebenarnya dalam sebuah jajak pendapat sebagian besar penduduk Greenland menentang kendali AS. Namun mayoritas besar mendukung kemerdekaan dari Denmark.

(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Potret Trump Kumpul Bareng Bos-Bos Raksasa Teknologi Dunia


Most Popular
Features