Terungkap, Trump Pakai Hacker Sebelum Culik Maduro Tanpa Terlihat

Redaksi,  CNBC Indonesia
05 January 2026 12:20
Presiden Venezuela Nicolas Maduro. (Tangkapan Layar Instagram/AnwarIbrahim_my)
Foto: Presiden Venezuela Nicolas Maduro. (Tangkapan Layar Instagram/AnwarIbrahim_my)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan cara tentara AS bisa menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro dengan senyap. Ternyata, AS mengerahkan serangan siber untuk memadamkan listrik di ibu kota Venezuela, Caracas.

"Di sana gelap, lampu di Caracas semuanya mati karena keahlian yang kami miliki, sangat gelap, dan mematikan," kata Trump dalam konferensi pers di Mar-a-Lago.

Menurut Politico, pernyataan Trump adalah pertama kalinya AS terang-terangan menggunakan kekuatan siber mereka untuk menyerang negara lain. Biasanya, operasi siber dilakukan dengan sangat rahasia. AS disebut sebagai salah satu negara dengan operasi siber paling unggul di dunia.

Jenderal Dan Caine, Kepala Staf Militer AS, menyatakan bahwa Komando Siber AS, Komando Antariksa AS, dan Komando Tempur AS mengerahkan kekuatan dengan efek beragam untuk "menciptakan jalan masuk" sehingga tentara AS bisa memasuki Venezuela. Namun, Caine tidak mengungkapkan "efek" yang dimaksud.

Grup pelacak aktivitas internet, NetBlocks melaporkan bahwa akses internet mati total di Caracas akibat pemadaman listrik sejak Sabtu dini hari. Pendiri NetBlocks, Al Toker, menyatakan bahwa listrik padam akibat serangan siber yang tertarget.

Sebelumnya, Venezuela pernah terkena serangan siber yang mengganggu produksi minyak. Perusahaan migas Venezuela, PDVSA pada bulan lalu menuduh AS melakukan serangan siber yang membuat operasional mereka berhenti total.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela masih membayangi kawasan Karibia, meski prospek Washington mengambil alih kendali langsung atas negara Amerika Selatan itu tampak mereda pada Minggu (4/1/2026), sehari setelah penangkapan mengejutkan Presiden Nicolas Maduro.

Namun, pejabat AS menegaskan bahwa mereka tetap menempatkan sekitar 15.000 personel di kawasan Karibia dan membuka kemungkinan intervensi militer lanjutan jika Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, tidak memenuhi tuntutan Washington.

Rodríguez di depan publik mempertahankan sikap menantang, tetapi isi pembicaraan tertutup yang ia lakukan dengan para pejabat Amerika Serikat belum sepenuhnya terungkap. Setelah penangkapan Maduro pada Sabtu, Presiden AS Donald Trump sempat menyatakan bahwa Amerika Serikat akan memimpin Venezuela, negara berpenduduk sekitar 30 juta jiwa.

Pada Minggu, Trump kembali melontarkan peringatan keras kepada Rodríguez. "Jika dia tidak melakukan apa yang seharusnya, dia akan membayar mahal, mungkin lebih besar daripada Maduro," kata Trump dalam wawancara dengan majalah The Atlantic.

Baca artikel CNBC Indonesia "Update Terkini Invasi AS ke Venezuela, Pemerintah Baru-Dakwaan Maduro" selengkapnya di sini: https://www.cnbcindonesia.com/news/20260105052953-4-699524/update-terkini-invasi-as-ke-venezuela-pemerintah-baru-dakwaan-maduro

Download Apps CNBC Indonesia sekarang https://app.cnbcindonesia.com/

(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Google Tebar Peringatan Keras, Cek Setelan HP Android Segera


Most Popular
Features