Raja Senjata Nuklir Dunia Mulai Keok, China Jadi Ancaman
Jakarta, CNBC Indonesia - Peta kekuatan nuklir dunia mengalami perubahan besar dalam dua dekade terakhir. Amerika Serikat (AS) dan Rusia memangkas ribuan hulu ledak nuklir, sementara sejumlah negara Asia justru memperluas persenjataannya.
Berdasarkan data Federation of American Scientists (FAS), total persediaan hulu ledak nuklir militer di sembilan negara turun sekitar 37%, dari 15.499 pada 2006 menjadi 9.745 pada 2026.
Meski mengalami penurunan, Rusia dan AS masih mendominasi kekuatan nuklir dunia. Keduanya menguasai sekitar 83% persediaan hulu ledak nuklir militer global.
Sebaliknya, China mencatatkan ekspansi signifikan dengan kenaikan persenjataan nuklir sebesar 164% dalam 20 tahun. India dan Pakistan juga menunjukkan peningkatan tajam.
Data tersebut mencakup hulu ledak yang telah ditempatkan maupun disimpan sebagai cadangan militer, tetapi tidak termasuk senjata yang telah dipensiunkan dan menunggu pembongkaran.
Rusia Salip AS, tetapi Keduanya Masih Mendominasi
Pada 2006, AS tercatat memiliki 7.853 hulu ledak nuklir dalam persediaan militernya, lebih banyak dibandingkan Rusia yang memiliki 6.643 hulu ledak.
Namun, dua dekade kemudian, posisi tersebut berbalik. Rusia menjadi negara dengan persediaan nuklir militer terbesar pada 2026, yakni sekitar 4.400 hulu ledak, sementara AS berada di posisi kedua dengan 3.700 hulu ledak.
Artinya, persediaan nuklir AS menyusut sekitar 53%, sedangkan Rusia turun sekitar 34% dibandingkan 2006.
Penurunan tersebut mencerminkan proses pengurangan persenjataan nuklir setelah berakhirnya Perang Dingin, termasuk melalui sejumlah kesepakatan pengendalian senjata strategis antara kedua negara.
Meski demikian, dominasi Rusia dan AS masih sangat besar. Persediaan militer masing-masing negara jauh melampaui China yang berada di posisi ketiga.
Ketidakpastian juga meningkat setelah perjanjian pengendalian senjata nuklir New START berakhir pada 5 Februari 2026. Berakhirnya kesepakatan tersebut menghapus batasan hukum terakhir terhadap jumlah senjata nuklir strategis yang ditempatkan oleh kedua negara.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap masa depan pengendalian senjata nuklir, terutama apabila persaingan strategis antara kekuatan besar kembali meningkat.
China Melesat 164%, Salip Prancis dan Inggris
Di tengah pengurangan persenjataan AS dan Rusia, China justru mempercepat pengembangan kemampuan nuklirnya.
Berdasarkan estimasi FAS, jumlah hulu ledak nuklir China meningkat dari 235 pada 2006 menjadi 620 pada 2026, atau melonjak sekitar 164%.
Pertumbuhan tersebut membawa China melampaui Prancis dan Inggris sebagai negara dengan persediaan hulu ledak nuklir militer terbesar ketiga di dunia.
Sebagai perbandingan, Prancis memiliki sekitar 290 hulu ledak pada 2026, turun dari 350 pada 2006. Sementara Inggris mencatatkan penurunan dari 245 menjadi 225 hulu ledak.
Ekspansi China berlangsung bersamaan dengan modernisasi sistem persenjataannya, termasuk pembangunan fasilitas peluncuran rudal balistik antarbenua dan pengembangan kemampuan peluncuran nuklir dari kapal selam.
Menurut FAS, China tengah membangun sekitar 320 silo rudal berbahan bakar padat di tiga lokasi, serta 30 silo tambahan untuk rudal berbahan bakar cair.
China juga mengoperasikan enam kapal selam bertenaga nuklir yang mampu membawa rudal balistik, memperkuat kemampuan strategisnya di wilayah laut.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa keseimbangan kekuatan nuklir global mulai berubah, meskipun persediaan nuklir China masih jauh lebih kecil dibandingkan Rusia dan AS.
India dan Pakistan Ikut Memperbesar Persenjataan
Pertumbuhan persediaan nuklir tidak hanya terjadi di China. India dan Pakistan juga meningkatkan kemampuan persenjataannya dalam dua dekade terakhir.
Jumlah hulu ledak nuklir India meningkat dari 43 pada 2006 menjadi sekitar 190 pada 2026, atau melonjak hampir 342%.
Sementara itu, Pakistan mencatatkan kenaikan dari 50 menjadi 170 hulu ledak, setara dengan pertumbuhan 240%.
Peningkatan tersebut berlangsung di tengah ketegangan keamanan regional yang telah lama melibatkan kedua negara. India juga semakin memperhitungkan perkembangan kekuatan militer China dalam perencanaan strategisnya.
Korea Utara turut menjadi salah satu negara yang kini memiliki persenjataan nuklir. Meski estimasi yang dapat diandalkan untuk 2006 tidak tersedia, FAS memperkirakan negara tersebut memiliki sekitar 60 hulu ledak nuklir yang telah dirakit pada 2026.
Adapun Israel diperkirakan memiliki 90 hulu ledak, meningkat dari sekitar 80 pada 2006.
Perkembangan ini memperlihatkan bahwa meskipun total persenjataan nuklir dunia menyusut, modernisasi dan ekspansi persenjataan di sejumlah negara tetap berlangsung.
Persaingan Nuklir Masih Membayangi Keamanan Global
Perubahan persediaan nuklir selama 20 tahun memperlihatkan dua tren yang berlangsung secara bersamaan.
Di satu sisi, AS dan Rusia mengurangi persenjataan dalam jumlah besar. Namun, di sisi lain, China, India, Pakistan, dan Korea Utara memperluas kemampuan nuklirnya.
Perubahan tersebut berpotensi memengaruhi hubungan geopolitik, prioritas anggaran pertahanan, serta stabilitas keamanan kawasan.
Dari sisi ekonomi, meningkatnya persaingan militer dapat mendorong kebutuhan investasi pada teknologi pertahanan dan infrastruktur keamanan. Namun, peningkatan pengeluaran pertahanan juga berpotensi menambah tekanan fiskal dan mengurangi ruang anggaran untuk kebutuhan pembangunan lainnya.
Dengan berakhirnya New START dan meningkatnya kemampuan nuklir sejumlah negara Asia, tantangan pengendalian persenjataan global kini semakin kompleks.
Penurunan jumlah hulu ledak secara keseluruhan belum tentu mencerminkan berkurangnya risiko konflik nuklir, terutama ketika persaingan strategis antarnegara terus berkembang
Pemanfaatan Nuklir untuk Energi juga Meningkat
Di luar kepentingan militer, teknologi nuklir juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi listrik global.
Berdasarkan data International Energy Agency (IEA), produksi listrik tenaga nuklir dunia menunjukkan peningkatan sepanjang 2023-2025, dengan kontribusi utama berasal dari Amerika, Eropa, dan Asia Pasifik.
Produksi Listrik Tenaga Nuklir Dunia Meningkat pada 2023–2025. Foto: IEA (2026), Electricity generation from nuclear, 2023-2025, IEA, Paris https://www.iea.org/data-and-statistics/charts/electricity-generation-from-nuclear-2023-2025, Licence: CC BY 4.0 |
Peningkatan tersebut didorong oleh kebutuhan listrik yang terus bertambah, upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, serta target penurunan emisi karbon. Melansir IEA 2025, pembangkit listrik tenaga nuklir dinilai mampu menyediakan pasokan listrik yang stabil dengan emisi karbon operasional yang rendah.
Sejumlah negara juga memperpanjang masa operasional reaktor yang sudah ada dan membangun fasilitas baru untuk memperkuat ketahanan energi.
Meski demikian, pemanfaatan nuklir untuk pembangkit listrik berbeda dengan pengembangan senjata nuklir. Peningkatan produksi listrik nuklir tidak berarti suatu negara turut memperbesar persenjataan nuklirnya.
(slm/wur)