MARKET DATA

Asia Kebakaran Hebat: Ringgit - Rupiah Terkapar, Tapi Won Perkasa

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
06 November 2026 10:00
Mata uang Rupiah, Yuan, dan Won. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Mata uang Rupiah, Yuan, dan Won. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (6/11/2026). Meski dolar AS masih mengalami tekanan, sebagian besar mata uang kawasan justru belum mampu bergerak positif.

Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.19 WIB, tujuh dari sembilan mata uang Asia yang dipantau melemah terhadap dolar AS. Hanya dua mata uang yang berhasil mencatat penguatan.

Ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam pagi ini. Ringgit melemah 0,30% ke posisi MYR4,056/US$.

Rupiah menyusul dengan pelemahan 0,19% ke posisi Rp18.110/US$, sehingga mata uang Garuda masih bertahan di atas level psikologis Rp18.100/US$.

Yen Jepang turut terkoreksi 0,17%, disusul dolar Singapura yang turun 0,15% dan peso Filipina sebesar 0,13%.

Baht Thailand melemah 0,09%, sedangkan yuan China turun tipis 0,01%.

Di tengah tekanan yang melanda mayoritas mata uang Asia, dolar Taiwan justru menjadi yang paling perkasa dengan kenaikan 0,18% ke posisi TWD33,009/US$.

Won Korea Selatan menjadi satu-satunya mata uang lain yang menguat, yakni sebesar 0,12% ke KRW1.356,39/US$.

Pergerakan mata uang Asia pagi ini berlangsung ketika dolar AS masih menghadapi tekanan dari gejolak pasar saham Amerika.

Indeks dolar AS (DXY) pada pukul yang sama tercatat melemah 0,12% ke posisi 101,669.

Pelemahan dolar terjadi setelah aksi jual besar-besaran melanda Wall Street pada perdagangan Kamis waktu setempat. Tekanan terutama datang dari saham-saham perusahaan teknologi dan kecerdasan buatan (AI).

Kemenangan besar Partai Demokrat dalam pemilu sela AS memunculkan kekhawatiran baru mengenai kemungkinan pengetatan aturan terhadap industri AI, khususnya pembangunan pusat data.

Kondisi tersebut membuat saham teknologi mengalami tekanan tajam. Indeks Nasdaq bahkan mencatat penurunan harian terdalam sejak April 2025, ketika pasar diguncang pengumuman tarif perdagangan besar-besaran oleh Presiden AS Donald Trump.

Aksi jual saham ini mendorong investor mencari tempat yang lebih aman untuk menyimpan dana, salah satunya obligasi pemerintah AS.

Meningkatnya permintaan obligasi membuat harganya naik dan imbal hasilnya turun. Kondisi tersebut kemudian mengurangi daya tarik dolar AS.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke sekitar 4,84%, mendekati level terendah sejak 10 September.

Sementara itu, imbal hasil Treasury tenor dua tahun, yang lebih sensitif terhadap ekspektasi suku bunga The Federal Reserve (The Fed), turun sekitar 10 basis poin menjadi 4,47%.

Analis OCBC menilai gejolak saham AI kali ini memberikan dampak yang tidak biasa terhadap dolar AS.

"Aksi jual saham AI menciptakan dua kekuatan yang saling berlawanan bagi dolar AS," tulis analis OCBC, dikutip dari Reuters.

Menurut OCBC, meskipun kondisi pasar yang bergejolak biasanya meningkatkan permintaan terhadap dolar sebagai aset aman, penurunan imbal hasil Treasury justru menahan penguatan greenback.

Pasar Menanti Data Tenaga Kerja AS

Selain perkembangan saham teknologi, perhatian pasar kini tertuju pada laporan tenaga kerja AS yang akan diumumkan Jumat waktu setempat.

Laporan nonfarm payrolls (NFP) periode Oktober akan menjadi salah satu petunjuk penting mengenai kondisi ekonomi AS sekaligus arah suku bunga The Fed berikutnya.

Sebelum laporan tersebut dirilis, pasar sudah mendapat gambaran dari data klaim pengangguran mingguan yang menunjukkan kondisi tenaga kerja AS masih cukup kuat.

Jumlah warga AS yang pertama kali mengajukan tunjangan pengangguran turun sebanyak 6.000 menjadi 189.000 orang.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan ekonom sebesar 196.000 orang, sekaligus menyamai posisi terendah dalam 57 tahun yang sempat tercatat pada Juli.

Analis MUFG menilai perkembangan tersebut memberikan sinyal bahwa pasar tenaga kerja AS masih menunjukkan perbaikan.

"Data terbaru menunjukkan adanya perbaikan di pasar tenaga kerja, dan kami memperkirakan kondisi tersebut akan berlanjut dalam laporan ini," tulis analis MUFG, dikutip dari Reuters.

Kondisi tenaga kerja menjadi penting karena dapat memengaruhi keputusan The Fed mengenai suku bunga pada Desember.

Peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Desember kini turun menjadi sekitar 70%, dari sebelumnya lebih dari 80% pada Rabu.

Penurunan ekspektasi tersebut ikut memberikan tekanan terhadap dolar AS.

Namun, apabila data tenaga kerja yang dirilis malam nanti ternyata lebih kuat dari perkiraan, pasar berpotensi kembali memperbesar peluang kenaikan suku bunga The Fed.

Dengan dolar AS yang masih bergerak melemah dan pasar menunggu laporan tenaga kerja, mata uang Asia belum menunjukkan penguatan yang merata.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular