MARKET DATA

Lengkap! Ini Rapor Kinerja Emiten RI Kuartal III: 324 Perusahaan Buruk

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
04 November 2026 10:35
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/10/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah dinamika ketidakpastian ekonomi yang semakin terasa di tanah air, terdapat suatu fakta yang cukup menarik dan perlu diperhatikan oleh seluruh stakeholder Indonesia. Perusahaan-perusahaan terbuka di Indonesia tercatat membukukan pertumbuhan cukup signifikan pada rilis kuartal III-2026.

Kinerja laba perusahaan tercatat dalam rekap 796 emiten yang riilis hingga Selasa (3/11/2026) menunjukkan perbaikan hingga September 2026. Akumulasi laba setelah memperhitungkan perusahaan yang merugi mencapai Rp466,15 triliun, meningkat 14,37% secara tahunan atau year-on-year (YoY).

Pada Januari-September 2025, jumlahnya mencapai Rp407,59 triliun. Artinya, terdapat tambahan keuntungan sebesar Rp58,57 triliun dalam sembilan bulan pertama tahun ini.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan keuntungan perusahaan yang mencetak laba sekaligus menyusutnya akumulasi kerugian. Meski demikian, perbaikannya belum merata di seluruh emiten maupun sektor.


Keuntungan perusahaan yang membukukan laba meningkat menjadi Rp490,73 triliun, dari Rp438,28 triliun setahun sebelumnya. Sementara itu, total kerugian perusahaan yang merugi menyusut menjadi Rp24,57 triliun, dari Rp30,69 triliun.

Kombinasi tersebut membuat akumulasi keuntungan tumbuh dua digit. Namun, kenaikan angka keseluruhan perlu dibaca bersama perubahan kinerja masing-masing perusahaan.

Lebih Banyak Emiten Membaik

Dari 796 perusahaan yang dibandingkan, 472 emiten atau 59,30% mengalami perbaikan laba/rugi, sedangkan 324 emiten atau 40,70% mengalami penurunan kinerja.

Perbaikan ini mencakup perusahaan yang labanya meningkat, kerugiannya menyusut, maupun berbalik dari rugi menjadi untung.

Sebanyak 68 perusahaan berhasil keluar dari kerugian, lebih banyak dibandingkan 57 perusahaan yang berbalik merugi. Jumlah emiten yang membukukan laba positif pun meningkat dari 602 menjadi 613 perusahaan, sementara jumlah perusahaan yang merugi turun dari 194 menjadi 183 perusahaan.

Meski mayoritas membaik, masih terdapat 197 emiten yang mengalami penurunan laba dan 70 perusahaan yang kerugiannya membesar. Artinya, pertumbuhan keuntungan secara keseluruhan belum mencerminkan perbaikan yang seragam.

Energi Paling Kencang, Keuangan Tetap Terbesar

Secara sektoral, energi mencatat pertumbuhan laba tertinggi, yakni 47,41% YoY. Akumulasi keuntungannya meningkat dari Rp43,35 triliun menjadi Rp63,91 triliun.

Energi juga menjadi penyumbang tambahan laba terbesar secara nominal, mencapai Rp20,56 triliun. Berikutnya terdapat barang konsumen primer dengan tambahan Rp18,88 triliun, keuangan Rp16,41 triliun, serta barang baku Rp15,86 triliun.

Di sisi lain, keuangan masih menjadi penyumbang laba terbesar, mencapai Rp147,22 triliun. Nilai tersebut setara dengan sekitar 31,58% dari akumulasi laba seluruh emiten dalam rekap.

Barang konsumen primer menyusul dengan keuntungan Rp78,77 triliun, kemudian barang baku sebesar Rp78,14 triliun. Besarnya keuntungan ketiga sektor tersebut menunjukkan peran mereka dalam menopang hasil keseluruhan.

Berikut adalah data dari laba/rugi 9M emiten yang sudah melaporkan kinerja keuangan kuartal III 2026:

Teknologi dan Perindustrian Menahan Pertumbuhan

Di tengah kenaikan laba sejumlah sektor, teknologi mengalami penurunan paling dalam secara persentase. Akumulasi keuntungannya menyusut 82,91%, dari Rp9,46 triliun menjadi Rp1,62 triliun.

Perindustrian juga menghadapi tekanan. Labanya turun 25,59%, dari Rp38,70 triliun menjadi Rp28,80 triliun. Secara nominal, penurunan sebesar Rp9,90 triliun ini lebih besar dibandingkan penyusutan laba teknologi sebesar Rp7,85 triliun.

Sementara itu, transportasi dan logistik masih mencatatkan akumulasi kerugian. Nilainya membesar dari Rp1,49 triliun menjadi Rp1,85 triliun, sehingga pemulihan keuntungan belum terlihat pada tingkat sektor.

Dengan demikian, kenaikan laba keseluruhan sebesar 14,37% terutama ditopang tambahan keuntungan energi, barang konsumen primer, keuangan, dan barang baku. Tekanan pada perindustrian, teknologi, serta transportasi dan logistik menahan laju pertumbuhannya.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Most Popular