Revolusi di Texas, Benteng Terkuat Trump Kini Direbut Demokrat
Jakarta, CNBC Indonesia - Peta politik Amerika Serikat (AS) mengalami perubahan mengejutkan dalam pemilu sela (midterm elections) pada Selasa (3/11/2026). Texas, negara bagian yang selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu benteng terkuat Partai Republik, berbalik memberikan kemenangan besar kepada Partai Demokrat.
Kemenangan tersebut menjadi peristiwa bersejarah bagi Texas. Partai Demokrat berhasil merebut kursi gubernur, memenangkan pemilihan anggota Senat AS, serta mengambil alih kendali Dewan Perwakilan Rakyat tingkat negara bagian yang sebelumnya dikuasai Republik.
Hasil ini mengejutkan mengingat Texas telah memilih kandidat presiden dari Partai Republik dalam 12 pemilihan berturut-turut sejak 1980.
Pada pemilu presiden 2024, Donald Trump bahkan memenangkan Texas dengan perolehan sekitar 56,1% suara, jauh mengungguli Kamala Harris dari Demokrat yang memperoleh 42,5%.
Hasil Pemilu AS Foto: Reuters |
Namun, hanya berselang dua tahun, kemenangan bersejarah Demokrat menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam peta dukungan politik Texas, meskipun Partai Republik masih mempertahankan pengaruh di sejumlah lembaga pemerintahan negara bagian.
Perubahan tersebut sekaligus membuka pertanyaan mengenai masa depan politik Texas dan dampaknya terhadap pemilu presiden AS pada 2028.
Demokrat Sapu Kemenangan di Texas, Apa Saja Yang Berubah?
Pemilu sela 2026 menjadi salah satu kekalahan terbesar Partai Republik di Texas dalam beberapa dekade terakhir. Demokrat tidak hanya memenangkan satu kontestasi penting, tetapi juga berhasil merebut berbagai jabatan pemerintahan negara bagian yang sebelumnya menjadi wilayah kekuasaan Republik.
Dalam pemilihan Senat AS, James Talarico dari Demokrat mengalahkan Ken Paxton dari Republik.
Berdasarkan hasil penghitungan yang dipublikasikan Texas Secretary of State hingga 4 November 2026, Talarico memperoleh sekitar 5,44 juta suara atau 55,1%, sementara Paxton mendapatkan sekitar 4,25 juta suara atau 43,0%.
Kemenangan juga terjadi dalam pemilihan gubernur. Gina Hinojosa dari Demokrat mengalahkan Greg Abbott, gubernur Republik yang telah memimpin Texas sejak Januari 2015. Hinojosa mengantongi sekitar 5,23 juta suara atau 52,8%, mengungguli Abbott yang memperoleh sekitar 4,52 juta suara atau 45,7%.
Meski demikian, Partai Republik masih mempertahankan mayoritas di Texas State Senate. Artinya, kemenangan Demokrat belum memberikan kendali penuh atas proses legislasi negara bagian, sehingga berbagai perubahan kebijakan tetap membutuhkan kompromi politik.
Sementara itu, di tingkat federal, Demokrat juga memenangkan beberapa distrik pemilihan untuk DPR AS (U.S. House of Representatives), termasuk wilayah yang sebelumnya cenderung mendukung Republik.
Sejarah Pemilu Presiden: Texas Setia Kepada Republik Selama Hampir Setengah Abad
Untuk memahami seberapa besar perubahan politik di Texas, perlu melihat rekam jejak pemilihan presiden AS di negara bagian tersebut.
Texas merupakan salah satu negara bagian dengan sejarah politik yang unik. Sebelum menjadi basis Republik, Texas justru memiliki tradisi panjang mendukung Partai Demokrat.
Namun, pergeseran preferensi politik mulai terlihat pada paruh kedua abad ke-20, seiring menguatnya dukungan terhadap Partai Republik.
Pada pemilu presiden 1976, Jimmy Carter dari Demokrat berhasil memenangkan Texas dengan perolehan 51,1% suara, mengungguli Gerald Ford dari Republik yang meraih 48,0%.
Kemenangan Carter menjadi kemenangan terakhir kandidat presiden Demokrat di Texas hingga pemilu terakhir pada 2024.
Sejak 1980, Texas secara konsisten memilih calon presiden dari Partai Republik, termasuk Ronald Reagan, George H.W. Bush, George W. Bush, Mitt Romney, hingga Donald Trump.
Dominasi tersebut terlihat dalam pemilu 1984 ketika Ronald Reagan memperoleh 63,6% suara, sementara kandidat Demokrat Walter Mondale hanya mendapatkan 36,1%.
Pada pemilu 2004, George W. Bush juga memenangkan Texas secara telak dengan dukungan 61,1% suara.
Meski demikian, kekuatan Republik tidak selalu stabil. Pada 2020, Joe Biden memperoleh 46,5% suara, mempersempit selisih dengan Trump yang memperoleh 52,1%. Akan tetapi, pada 2024, Trump kembali memperlebar keunggulan dengan meraih 56,1% suara.
Konsistensi tersebut menjadikan Texas salah satu sumber suara elektoral terpenting bagi Partai Republik. Dalam sistem pemilihan presiden AS saat ini, Texas memiliki 40 suara Electoral College, terbesar kedua setelah California.
Dengan demikian, kemenangan Demokrat dalam pemilu sela 2026 menjadi perkembangan penting, meskipun belum dapat dijadikan bukti bahwa Texas akan memilih kandidat presiden Demokrat pada 2028.
Sejarah Senat: Demokrat Akhiri Penantian 38 Tahun
Perubahan politik Texas juga terlihat dari sejarah pemilihan anggota Senat AS.
Selama beberapa dekade terakhir, kedua kursi senator AS dari Texas dikuasai Partai Republik. Padahal, sebelumnya Texas pernah memiliki tradisi kuat dalam memilih senator Demokrat.
Mengutip data historis pemilu dari 270toWin, salah satu titik penting perubahan tersebut terjadi pada 1961 ketika John Tower memenangkan pemilihan khusus Senat AS, sekaligus menjadi tokoh Republik pertama yang terpilih melalui pemilihan tingkat negara bagian sejak era Rekonstruksi pasca-Perang Saudara AS.
Partai Demokrat masih mampu mempertahankan salah satu kursi Senat selama beberapa dekade setelahnya, terutama melalui Lloyd Bentsen yang memenangkan pemilihan kembali pada 1976, 1982, dan 1988.
Namun, setelah kemenangan Bentsen pada 1988, tidak ada kandidat Demokrat yang kembali memenangkan pemilihan Senat AS di Texas hingga 2026.
Salah satu upaya terdekat terjadi pada 2018 ketikaBeto O'
Rourke hampir mengalahkan senator petahana Republik Ted Cruz. O'Rourke kalah dengan selisih sekitar 2,6 poin persentase atau sekitar 220.000 suara.
Harapan Demokrat kembali menghadapi hambatan pada 2024 ketika Cruz berhasil mempertahankan kursinya dengan selisih kemenangan lebih besar.
Mengutip Time, kemenangan James Talarico atas Ken Paxton dalam pemilu 2026 akhirnya mengakhiri penantian panjang Demokrat. Hasil ini menjadi kemenangan pertama kandidat Demokrat dalam pemilihan Senat AS di Texas sejak 1988.
Gina Hinojosa Cetak Sejarah Gubernur Latina Pertama di Texas, Texas Pernah Jadi Basis Demokrat
Kemenangan Gina Hinojosa dalam pemilu gubernur Texas 2026 mencatat sejarah baru. Politikus Demokrat tersebut berhasil mengalahkan Greg Abbott, sekaligus menjadi perempuan Latina pertama yang terpilih sebagai gubernur Texas.
Kemenangan ini juga mengakhiri dominasi Partai Republik dalam pemilihan gubernur Texas selama 32 tahun, sejak George W. Bush mengalahkan gubernur Demokrat petahana Ann Richards pada 1994.
Namun, Texas sebenarnya tidak selalu menjadi basis Partai Republik. Berdasarkan data Texas Legislative Reference Library, jabatan gubernur Texas justru didominasi Partai Demokrat selama beberapa dekade sebelum pergantian kekuasaan pada akhir 1970-an.
Sepanjang 1949-1979, Texas dipimpin lima gubernur Demokrat secara berturut-turut, yakni Allan Shivers, Price Daniel, John Connally, Preston Smith, dan Dolph Briscoe.
Dominasi tersebut mulai berubah pada 1979 ketika Bill Clements menjadi gubernur dari Partai Republik. Meski demikian, Demokrat masih sempat kembali berkuasa melalui Mark White pada 1983-1987 dan Ann Richards pada 1991-1995.
Setelah kekalahan Richards pada pemilu 1994, jabatan gubernur Texas terus dipegang Republik melalui George W. Bush, Rick Perry, dan Greg Abbott, hingga kemenangan Hinojosa pada 2026.
Mengutip The Texas Tribune (4/11/2026), Hinojosa yang berusia 52 tahun berasal dari kawasan Rio Grande Valley di Texas bagian selatan. Kemenangannya menjadi tonggak keterwakilan politik masyarakat Hispanik dan Latino, yang mencakup sekitar 41% populasi Texas.
Dalam kampanyenya, Hinojosa menyoroti persoalan biaya hidup, pendidikan publik, dan tata kelola pemerintahan. Ia juga mengusulkan pembayaran satu kali sebesar US$1.500 kepada rumah tangga Texas serta mengkritik sejumlah insentif perusahaan dan pengembangan pusat data.
Meski demikian, Hinojosa masih menghadapi tantangan dalam menjalankan agenda kebijakannya. Mayoritas Partai Republik di Texas State Senate berpotensi membatasi sejumlah rencana pemerintahannya yang membutuhkan persetujuan legislatif.
Mengapa Texas Berbalik Mendukung Demokrat, Apa Dampaknya Bagi Pemilu Presiden 2028?
Kemenangan Demokrat di Texas tidak terlepas dari perubahan preferensi pemilih, meningkatnya partisipasi masyarakat, serta ketidakpuasan terhadap kondisi ekonomi dan kebijakan pemerintahan Donald Trump.
Mengutip The Texas Tribune, sejumlah wilayah perbatasan Texas dengan Meksiko yang sebelumnya mendukung Trump pada pemilu 2024 kini beralih ke Demokrat. Wilayah Starr, Zapata, Maverick, Hidalgo, dan Webb bahkan mencatat pergeseran dukungan lebih dari 38 poin persentase ke arah Demokrat.
Partisipasi pemilih di 16 wilayah perbatasan juga meningkat lebih dari delapan poin persentase dibandingkan pemilu sela 2022. Pergeseran dukungan turut terjadi di kawasan pinggiran kota, termasuk Collin dan Denton.
Menurut Jeronimo Cortina, ilmuwan politik dari University of Houston, ketidakpuasan terhadap janji ekonomi Trump menjadi salah satu faktor perubahan tersebut. Sementara itu, pengetatan imigrasi juga dinilai berdampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah perbatasan.
Perubahan ini berpotensi memengaruhi peta pemilu presiden AS pada 2028. Mengutip Time, Texas memiliki 40 suara elektoral, setara dengan hampir 15% dari 270 suara yang diperlukan untuk memenangkan kursi presiden.
Apabila Demokrat mampu mempertahankan dukungannya, Texas berpotensi menjadi wilayah persaingan penting yang selama ini cenderung menjadi basis suara Republik.
Meski demikian, kemenangan dalam pemilu sela 2026 belum tentu menandakan perubahan politik permanen. Hasil pemilu presiden 2028 akan menjadi ujian apakah Demokrat mampu mempertahankan momentum tersebut.
(slm/slm)