MARKET DATA

Harga Batu Bara Diam di Tempat di Tengah Hujan Kabar Buruk

mae,  CNBC Indonesia
03 November 2026 08:25
Ilustrasi pengiriman batu bara sebagai bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) menggunakan kapal Baruna Power 3301 milik PT PLN Energi Primer Indonesia. (PT PLN Persero)
Foto: Ilustrasi pengiriman batu bara sebagai bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) menggunakan kapal Baruna Power 3301 milik PT PLN Energi Primer Indonesia. (PT PLN Persero)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara diam di tempat di tengah anjloknya harga minyak serta turunnya permintaan.

Harga batu bara pada perdagangan Senin (2/11/2026) ditutup di posisi US$ 151,35 per ton. Harganya stabil.

Sebagai catatan, harga minyak mentah dunia anjlok lebih dari 7% pada Senin (2/11/2026), seiring meningkatnya harapan berakhirnya perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran setelah perundingan damai melibatkan pejabat Iran dan Qatar.

Minyak mentah dan batu bara adalah dua komoditas yang saling melengkapi sehingga harganya memengaruhi satu sama lain

Dari India dilaporkan mereka mencatat penurunan total impor batu bara sebesar 5,83% pada Agustus 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kementerian Batu Bara India menyampaikan, impor batu bara turun dari 111 juta ton pada Agustus 2025 menjadi 104 juta ton pada Agustus tahun ini.

 

Kementerian menyebut penurunan tersebut mencerminkan upaya berkelanjutan untuk meningkatkan produksi batu bara domestik, memperbaiki ketersediaan pasokan, dan memperkuat rantai pasok guna mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Secara terperinci, impor batu bara untuk pembangkit listrik turun 6%, dari 22 juta ton pada Agustus 2025 menjadi 21 juta ton pada Agustus 2026.

Impor batu bara untuk pencampuran (blending) di pembangkit listrik berbasis batu bara domestik juga turun 35%, dari 4 juta ton menjadi 3 juta ton dalam periode yang sama. Sementara itu, impor batu bara kokas (coking coal) berkurang 4%, dari 28 juta ton menjadi 27 juta ton.

Di sisi lain, pembangkit listrik berbasis batu bara mencatat kenaikan minimal sebesar 0,98% sejak Agustus tahun lalu.

Kementerian juga menyoroti penurunan porsi batu bara impor dalam total konsumsi batu bara India, dari 21% pada Agustus 2025 menjadi 19% pada Agustus 2026, atau turun 1,90 poin persentase.

 

Kementerian menegaskan akan terus mendorong peningkatan produksi dan penyerapan batu bara domestik, memperkuat konektivitas tahap awal pengangkutan (First Mile Connectivity), meningkatkan infrastruktur distribusi batu bara, serta memantau persediaan batu bara di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) secara ketat.

Sementara itu, pasar batu bara kokas (coking coal) China mengawali pekan dengan sikap hati-hati. Pemulihan pasokan mulai terlihat, tetapi permintaan dari industri hilir masih lemah, sementara arus masuk batu bara dari Mongolia tetap terbatas.

Mengutip laporan Sxcoal, produksi batu bara kokas di sejumlah wilayah utama China mulai meningkat. Namun, pasokan belum sepenuhnya pulih sehingga pelaku pasar masih mencermati keseimbangan antara ketersediaan barang dan permintaan.

Dari sisi permintaan, pembeli di industri hilir belum agresif melakukan pembelian. Kondisi ini membuat pasar belum memiliki dorongan kuat untuk mencatat kenaikan harga yang berkelanjutan.

 

Terbatasnya pasokan dari Mongolia juga menjadi perhatian. Sebagai salah satu sumber batu bara kokas bagi China, kelancaran arus pasokan dari negara tersebut turut memengaruhi ketersediaan bahan baku di pasar domestik.

Kombinasi pemulihan pasokan yang belum merata, permintaan yang lesu, dan terbatasnya pasokan dari Mongolia membuat pelaku pasar cenderung mengambil sikap wait and see.

Ke depan, arah pasar batu bara kokas China akan bergantung pada kecepatan pemulihan pasokan, perkembangan impor dari Mongolia, serta kekuatan permintaan dari industri hilir.

China juga melaporkan ada kuartal III-2026, pembangkit listrik berbasis batu bara China mengalami penurunan produksi dan pangsa terhadap total pembangkitan listrik secara tahunan (year-on-year/YoY). Kondisi ini menandai kemajuan baru dalam transisi energi rendah karbon.

Seiring percepatan kebijakan peningkatan produksi dan pengamanan pasokan batu bara, pasokan batu bara berangsur pulih. Sementara itu, konsumsi relatif stabil sehingga kesenjangan antara pasokan dan permintaan semakin menyempit.

 

Persediaan batu bara termal juga tetap berada dalam kisaran aman dan wajar. Kondisi ini menjadi modal penting untuk menjamin pasokan selama puncak kebutuhan energi pada musim dingin.

Produksi listrik dari batu bara China tercatat turun secara tahunan pada Juli, Agustus, dan September 2026, masing-masing sebesar 4,0%, 4,6%, dan 1,9%. Penurunan tersebut diikuti oleh berkurangnya konsumsi batu bara termal.

Setelah pangsa pembangkitan listrik berbasis batu bara di China untuk pertama kalinya turun di bawah 50% pada semester I-2026, porsinya kembali menyusut menjadi 49,1% pada akhir September 2026.

(mae/mae)



Most Popular