MARKET DATA
Newsletter

Harga Minyak Anjlok Jelang Pemilu AS, BI-Menkeu Buka Suara Hari Ini

mae,  CNBC Indonesia
03 November 2026 06:45
Ilustrasi SBN ritel. (Dok. Pexels)
Foto: Ilustrasi SBN ritel. (Dok. Pexels)
  • Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam, bursa saham menguat sebaliknya rupiah melemah
  • Wall Street mayoritas melemah hanya Dow Jones menguat
  • Data ekonomi, melemahnya harga minyak hingga kebijakan pemerintah akan menjadi penggerak pasar hari ini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam pada perdagangan Senin (2/11/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat setelah mengalami tekanan tajam sepanjang pekan lalu. Namun, rupiah kembali melemah dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) meningkat.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan kompak menguat pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen pasar keuangan Indonesia hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini. 

Dari pasar saham, IHSG ditutup menguat 0,79% atau 39,78 poin ke posisi 5.096,83 pada perdagangan Senin (2/11/2026).

Pergerakan IHSG cukup fluktuatif. Indeks sempat terperosok ke kisaran 4.980 pada awal perdagangan, sebelum berbalik menguat dan kembali menembus level psikologis 5.000.

Penguatan tersebut terjadi setelah IHSG anjlok 7,03% sepanjang pekan lalu dan merosot 16,70% selama Oktober 2026.

Nilai transaksi perdagangan mencapai Rp12,4 triliun dengan volume 35,4 miliar saham.

Sebanyak 315 saham menguat, 285 melemah dan 118 stagnan. Investor asing mencatat net sell sebesar Rp 112,48 miliar.

Penguatan IHSG ditopang oleh sektor utilitas (utilities) yang melonjak 9,86%, disusul sektor bahan baku (basic materials) sebesar 2,57%. Sejumlah saham yang menjadi penopang indeks antara lain PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Capital Financial Indonesia Tbk (CASA), dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).

Perdagangan Senin juga menjadi hari pertama penerapan kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mengecualikan 81 saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (high shareholding concentration/HSC) dari perhitungan IHSG.

Dari pasar mata uang, rupiah kembali melemah pada perdagangan Senin (2/11/2026), setelah mencatatkan penguatan selama dua hari berturut-turut pada akhir pekan lalu.

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,11% ke posisi Rp18.140/US$, dibandingkan penutupan Jumat (30/10/2026) di Rp18.120/US$.

Rupiah bahkan sempat menyentuh Rp18.175/US$ sebelum memangkas pelemahannya menjelang penutupan perdagangan.

Pelemahan rupiah terjadi meskipun indeks dolar AS (DXY) turun 0,13% ke posisi 101,745 pada pukul 15.00 WIB.

Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan Oktober 2026 sebesar 3,23%, melandai dari 3,28% pada September. Sementara itu, PMI manufaktur Indonesia meningkat ke 54,0, tertinggi dalam delapan bulan terakhir.

Meski sejumlah indikator ekonomi domestik menunjukkan perbaikan, ketidakpastian global masih membayangi pergerakan rupiah.

Dari pasar Surat Berharga Negara (SBN), imbal hasil SBN tenor 10 tahun kembali meningkat pada perdagangan Senin (2/11/2026).

Berdasarkan data Refinitiv, imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik ke posisi 7,707%, dibandingkan 7,643% pada Jumat (30/10/2026). Kenaikan tersebut setara dengan 6,4 basis poin (bps).

Posisi ini sekaligus melampaui level 7,706% yang tercatat pada Rabu (28/10/2026), mencerminkan tekanan yang masih membayangi pasar obligasi pemerintah.

Kenaikan imbal hasil menunjukkan penurunan harga obligasi, mengingat harga dan imbal hasil SBN bergerak berlawanan arah.

Ke depan, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada pemilu sela AS pada Selasa (3/11/2026), rilis data ketenagakerjaan AS, serta data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan pasar keuangan.

Dari pasar saham AS, bursa Wall Street berakhir beragam pada Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia.

Investor terus mengurangi kepemilikan saham teknologi dan mengalihkan investasi ke sektor pasar lainnya.

Nasdaq yang didominasi saham teknologi turun 1,07% ke 25.164,32, sedangkan S&P 500 terkoreksi 0,51% ke 7.541,40. Padahal, kedua indeks tersebut sempat menguat masing-masing hingga 1,4% dan 1,1%.

Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average tampil lebih perkasa, naik 213,67 poin atau 0,41% ke 51.983,98.

Saham Nvidia dan Meta Platforms masing-masing turun 1%. Apple, yang dijadwalkan merilis laporan keuangan setelah penutupan pasar, melemah hampir 2%.

Saham Marvell Technology anjlok hampir 13%, sementara Lumentum merosot 18%. Penurunan terjadi setelah kedua perusahaan mengumumkan kesepakatan akuisisi Lumentum oleh Marvell senilai US$115 miliar.

Saham Oracle juga terkoreksi 8% setelah perusahaan menyatakan berencana menjual saham biasa senilai US$10 miliar serta obligasi senilai US$10 miliar untuk membiayai ekspansi infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Di sisi lain, penguatan saham-saham sektor ekonomi tradisional menopang Dow Jones. Saham Sherwin-Williams melonjak hampir 6%, sedangkan Home Depot naik 3,6%. Honeywell International, 3M, dan Boeing juga masing-masing menguat lebih dari 2%.

Rotasi investasi dari saham teknologi berlanjut setelah indeks-indeks utama Wall Street mengalami pekan yang negatif. Investor semakin mencermati saham-saham yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur AI.

 

Chris Larkin, Managing Director Trading and Investing di E-Trade, mengatakan narasi bullish pasar saham dalam jangka panjang memang menghadapi sejumlah tekanan dalam beberapa pekan terakhir, tetapi prospek positif tersebut belum sepenuhnya berubah.

Menurutnya, tantangan utama saat ini adalah momentum jangka pendek yang mudah terganggu oleh lonjakan harga minyak, kekhawatiran belanja AI, inflasi, hingga ketegangan geopolitik.

Pekan lalu, Nasdaq dan S&P 500 mencatatkan kinerja negatif sepanjang Oktober di tengah kekhawatiran terhadap belanja AI. Nasdaq bahkan membukukan penurunan bulanan terburuk sejak Maret 2025.

Sebaliknya, Dow Jones menguat hampir 2% seiring peralihan investor ke sektor defensif, seperti kesehatan.

Larkin menambahkan, pasar masih menghadapi sejumlah potensi pemicu volatilitas, termasuk pemilihan paruh waktu AS dan rilis data ketenagakerjaan. Namun, kemampuan pasar bertahan di tengah tekanan menjadi sinyal positif.

Pemilihan paruh waktu AS dijadwalkan berlangsung pada hari ini. Partai Demokrat diperkirakan akan mengambil alih kendali House of Representatives, sementara penguasaan Senat masih belum pasti.

Pasar keuangan Indonesia hari ini akan dibayangi sejumla sentimen, baik dari dalam ataupun luar negeri.

Jatuhnya harga minyak diharapkan bisa menjadi katalis positif bagi pasar saham dan rupiah. Sebaliknya, pemilu AS mungkin bisa menjadi tekanan.

Dari dalam negeri, hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dan data inflasi bisa menjadi penggerak sentimen hari ini.

Berikut  beberapa sentimen pasar hari ini:

1. Pemilu Sela AS 2026: Trump Terancam, Demokrat Bidik Kongres

Pemilu sela Amerika Serikat (AS) digelar pada hari ini, Selasa (3/11/2026) dengan taruhan besar bagi Presiden Donald Trump dan Partai Republik. Demokrat berupaya merebut kendali Kongres di tengah merosotnya popularitas Trump dan tekanan biaya hidup.

Menurut University of Florida Election Lab, lebih dari 57 juta warga AS telah memberikan suara lebih awal hingga Senin, melampaui 46 juta pemilih pada pemilu sela 2022.

Lembaga OpenSecrets memperkirakan total belanja pemilu kali ini mencapai US$11,9 miliar, menjadikannya yang termahal dalam sejarah AS. Elon Musk sendiri telah menggelontorkan sekitar US$366 juta untuk mendukung Partai Republik.

Saat ini, Republik menguasai DPR dengan 218 kursi berbanding 214 kursi Demokrat. Demokrat membutuhkan tambahan bersih empat kursi untuk merebut mayoritas. Di Senat, Republik unggul 53-47 dan Demokrat juga membutuhkan tambahan bersih empat kursi.

Survei Reuters/Ipsos menunjukkan tingkat persetujuan terhadap kinerja Trump hanya 32%, mendekati rekor terendah.

Kenaikan harga barang dan biaya hidup berpotensi menggerus dukungan terhadap Republik. Pemilih Latino yang mendukung Trump pada 2024 juga menunjukkan indikasi kembali mendekati Demokrat.

Jika Demokrat merebut DPR, Hakeem Jeffries berpeluang menjadi Ketua DPR dan mengarahkan penyelidikan terhadap pemerintahan Trump. Demokrat juga menjanjikan fokus pada penurunan biaya kesehatan, pangan, perumahan, dan energi.

Sebaliknya, kemenangan Republik akan membuka jalan bagi kelanjutan agenda Trump, termasuk pemotongan pajak dan peningkatan belanja pertahanan.

Hasil pemilu ini akan menjadi ujian politik penting bagi Trump sekaligus menentukan keseimbangan kekuasaan di Washington menjelang pemilihan presiden 2028.

2. Harga Minyak Anjlok

Harga minyak mentah dunia anjlok lebih dari 7% pada Senin (2/11/2026), seiring meningkatnya harapan berakhirnya perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran setelah perundingan damai melibatkan pejabat Iran dan Qatar.

Minyak mentah Brent ditutup turun 7,63% ke US$104,77 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) AS merosot 7,36% ke US$96,46 per barel.

Sentimen pasar membaik setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan Teheran akan berupaya menyelesaikan konflik melalui dialog. Presiden AS Donald Trump juga mengatakan kesepakatan untuk mengakhiri perang mungkin tercapai.

Mediator Qatar pada Senin malam bertolak ke Teheran untuk membahas kemungkinan kesepakatan dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi.

Meski demikian, risiko gangguan pasokan masih membayangi. Perang yang pecah pada akhir Februari telah menguras hampir 1 miliar barel cadangan minyak global akibat terganggunya pengiriman melalui Selat Hormuz.

Goldman Sachs memperingatkan harga Brent berpotensi melonjak hingga US$140 per barel pada 2027 jika produksi minyak kawasan Teluk bertahan 3,5 juta barel per hari di bawah rata-rata 2025. Serangan terhadap kapal tanker dan kerusakan infrastruktur energi masih menjadi risiko utama bagi pasar minyak. 

Penurunan harga minyak menjadi kabar baik bagi Indonesia sebagai importir neto minyak, terutama untuk mengurangi tekanan APBN dan inflasi.

3. PMI Manufaktur RI Berlari Kencang

Aktivitas manufaktur Indonesia menunjukkan penguatan signifikan pada Oktober 2026.

Berdasarkan data S&P Global, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia meningkat menjadi 54,0 pada Oktober 2026, dari 52,4 pada September. Angka ini menjadi yang tertinggi dalam 31 bulan terakhir atau sejak Maret 2024.

Penguatan tersebut ditopang kenaikan pesanan baru dengan laju tercepat sejak Oktober 2021. Sementara itu, pesanan ekspor mencatat pertumbuhan tertinggi sejak survei PMI pertama kali dilakukan pada April 2011.

Peningkatan permintaan turut mendorong aktivitas produksi dan pembelian bahan baku. Namun, tekanan biaya produksi masih membayangi industri seiring kenaikan harga bahan baku, bahan bakar, serta pelemahan nilai tukar.

Kinerja PMI yang semakin jauh di atas ambang ekspansi 50 menjadi sinyal positif bagi aktivitas industri nasional, meskipun kenaikan biaya produksi dan terbatasnya pertumbuhan tenaga kerja masih perlu dicermati.

Berdasarkan data S&P Global, posisi PMI manufaktur Indonesia pada Oktober juga berada di atas sejumlah negara lain di kawasan Asia Pasifik. Jepang mencatat PMI 53,3, Vietnam 52,3, China 52,0, Korea Selatan 51,3, Malaysia 51,0, dan Australia 49,6. Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur sedang berada dalam fase ekspansi atau mengalami perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya.

4. Inflasi RI Oktober 2026

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Indonesia pada Oktober 2026 sebesar 0,22% secara bulanan (month-to-month/mtm), melambat dari 0,30% pada September.

Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi tercatat sebesar 3,23%, lebih rendah dibandingkan 3,28% pada September dan berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 3,25%-3,29%.

Perlambatan inflasi terutama didukung oleh meredanya tekanan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran, termasuk perawatan pribadi dan jasa lainnya, rekreasi, serta pendidikan.

Inflasi kelompok perawatan pribadi melandai cukup signifikan dari 7,77% menjadi 4,52% yoy. Sementara itu, inflasi inti turun menjadi 2,56% yoy dari 2,84% pada September, sekaligus menyentuh level terendah dalam enam bulan terakhir.

Namun, tekanan harga pangan justru meningkat. Inflasi kelompok makanan mencapai 4,82% yoy, naik dari 4,37% pada September dan menjadi yang tertinggi dalam lima bulan terakhir. Kenaikan ini mencerminkan tekanan pada pasokan pangan, termasuk dampak gangguan cuaca akibat El Niño.

Di sisi lain, inflasi transportasi meningkat tipis menjadi 4,87% dari 4,84%, sedangkan inflasi perumahan naik menjadi 1,06% dari 1,02%.

Secara keseluruhan, inflasi masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5% ± 1%. Perlambatan inflasi, khususnya inflasi inti, menjadi sinyal positif bagi stabilitas harga dan memberikan ruang bagi kebijakan moneter yang lebih akomodatif.

Meski demikian, kenaikan harga pangan dan tekanan nilai tukar rupiah tetap perlu dicermati karena berpotensi memengaruhi arah inflasi dalam beberapa bulan mendatang.

5. Neraca Perdagangan RI September 2026

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus sebesar US$3,36 miliar pada September 2026, lebih rendah dibandingkan surplus US$3,55 miliar pada Agustus.

Surplus tersebut berasal dari nilai ekspor yang mencapai US$27,59 miliar, melampaui impor sebesar US$24,23 miliar.

Secara tahunan, ekspor meningkat 11,87%, sementara impor tumbuh lebih tinggi sebesar 18,41%.

Surplus perdagangan terutama ditopang sektor nonmigas sebesar US$5,67 miliar, dengan kontribusi dari komoditas lemak dan minyak nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Sebaliknya, neraca perdagangan migas masih mencatatkan defisit sebesar US$2,31 miliar, terutama akibat perdagangan minyak mentah dan hasil minyak.

Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan Januari-September 2026 mencapai US$10,61 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan US$33,54 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Berlanjutnya surplus perdagangan menjadi penopang ketahanan eksternal Indonesia. Namun, peningkatan impor, terutama migas, masih menjadi tantangan bagi stabilitas neraca perdagangan dan nilai tukar rupiah

6. Tarif Pesawat di 24 Provinsi Naik

Kenaikan tarif angkutan udara turut menjadi perhatian setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tiket pesawat di 24 provinsi sepanjang Oktober 2026, terutama di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur.

Kenaikan tersebut terjadi setelah pemerintah menetapkan fuel surcharge sebesar 40% pada awal Oktober 2026. Namun, BPS menegaskan dampak kebijakan tersebut terhadap inflasi bergantung pada harga tiket yang benar-benar berlaku di pasar.

Secara nasional, kelompok transportasi mencatat inflasi sebesar 0,13% secara bulanan (month-to-month/mtm), dengan andil sebesar 0,02 poin persentase terhadap inflasi Oktober.

Kalimantan Selatan mencatat kenaikan tarif angkutan udara tertinggi sebesar 15,73% mtm, disusul Bengkulu 12,51%, Papua 10,77%, Maluku 7,80%, dan Jambi 7,61%.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, perbedaan kenaikan tarif antarwilayah dipengaruhi oleh karakteristik rute penerbangan domestik serta frekuensi penerbangan di masing-masing daerah.

Kenaikan tarif pesawat yang tidak merata ini menunjukkan adanya tekanan harga transportasi di sejumlah wilayah, meskipun kontribusinya terhadap inflasi nasional secara keseluruhan masih relatif terbatas.

7. Danantara Jadi Pemodal Awal PFII, Investor Ditawarkan Insentif Pajak Hingga 100%

Pemerintah menyiapkan skema pendanaan dan insentif perpajakan untuk mendukung pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII), sebagaimana diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 6 Tahun 2026.

Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara akan menjadi sumber modal awal Lembaga Pengelola Pusat Finansial Internasional Indonesia (LP PFII). Berdasarkan Pasal 24, modal awal tersebut wajib diserahkan dalam bentuk dana tunai dengan besaran yang mempertimbangkan kebutuhan operasional pada tahap awal pembentukan.

Meski menjadi pemodal awal, investasi khusus Danantara tidak memberikan hak kepemilikan maupun pengendalian terhadap LP PFII.

Selain Danantara, sumber modal awal juga dapat berasal dari badan usaha, hibah barang milik negara atau daerah, serta sumber lain yang sah.

UU tersebut turut membuka peluang penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk membiayai kebutuhan operasional serta pembayaran hak keuangan dan fasilitas bagi sumber daya manusia (SDM) di lingkungan PFII.

Pengajuan pembiayaan melalui APBN dilakukan lewat Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara (BA BUN). Sementara itu, Dewan PFII wajib menyampaikan rencana kerja dan anggaran penggunaan modal awal kepada Presiden untuk memperoleh persetujuan paling lambat 30 hari kalender setelah modal diterima.

Dari sisi investasi, pemerintah juga menawarkan insentif berupa pengurangan Pajak Penghasilan (PPh) Badan hingga 100% bagi pelaku usaha yang menjalankan kegiatan di kawasan PFII, sesuai ketentuan yang berlaku.

Berdasarkan Pasal 49 UU Nomor 6 Tahun 2026, terdapat 35 jenis kegiatan usaha yang tercakup dalam tiga kelompok utama, yakni sektor keuangan, jasa penunjang sektor keuangan, serta kegiatan usaha lainnya.

Sektor keuangan mencakup 18 kegiatan usaha, antara lain perbankan, asuransi, pasar modal, bursa karbon, dana pensiun, modal ventura, perdagangan komoditas internasional, bulion, family office, hingga manajemen investasi.

Sementara itu, sektor penunjang keuangan mencakup 10 kegiatan usaha, termasuk jasa akuntan publik, notaris, konsultan hukum, konsultan pajak, aktuaris, dan konsultan keuangan.

Adapun tujuh kategori kegiatan usaha lainnya meliputi transportasi, akomodasi, kesehatan, pengelolaan sampah dan limbah, pariwisata, makanan dan minuman, serta bidang usaha lain yang ditetapkan Dewan PFII.

Kehadiran PFII beserta berbagai fasilitas perpajakannya diharapkan dapat meningkatkan daya tarik investasi, memperkuat industri jasa keuangan, dan mendorong Indonesia menjadi salah satu pusat aktivitas keuangan internasional.

Namun, implementasi kebijakan tersebut tetap perlu dicermati, khususnya terkait kebutuhan pendanaan awal, penggunaan APBN, serta efektivitas insentif pajak dalam menarik investasi baru.

8. Rapat KSSK

Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan menggelar rapat dan konferensi pers pada hari ini, Selasa (3/11/2026).
Menarik ditunggu apa hasil kajian dari sistem keuangan Indonesia di kuartal III serta kebijakan baru apa yang akan disampaikan anggota KSSK.
Di tengah gejolak global, pernyataan KSSK diharapkan bisa memberi arah yang jelas ke depan mengenai kebijakan sektor keuangan Indonesia.

Anggota KSSK juga dharapkan bisa menjawab pertanyaan public mengenai kejatuhan pasar modal Indonesia serta rupiah serta dampak aturan baru pasar modal.

9. Manufaktur China Melandai

PMI Manufaktur China versi RatingDog turun tipis menjadi 52,0 pada Oktober 2026, dari 52,1 pada September. Meski melemah, angka ini melampaui perkiraan pasar sebesar 51,6 dan menandai ekspansi selama 11 bulan berturut-turut.

Produksi tumbuh pada laju tercepat dalam enam bulan, didorong kenaikan pesanan baru dan peluncuran produk baru. Permintaan ekspor juga meningkat, meski lajunya melambat dibandingkan bulan sebelumnya.

Aktivitas pembelian perusahaan meningkat untuk memenuhi pesanan, sementara waktu pengiriman pemasok membaik. Di sisi harga, tekanan biaya input mereda, tetapi harga jual turun akibat persaingan yang ketat.

Namun, optimisme bisnis melemah ke level terendah dalam sembilan bulan. Perusahaan mengkhawatirkan tingginya harga input dan persaingan yang semakin ketat.
Ekspansi manufaktur China berpotensi menopang permintaan terhadap komoditas dan bahan baku Indonesia. Namun, pelemahan optimisme bisnis serta persaingan harga dapat membatasi kekuatan permintaan ke depan.

10. PMI Manufaktur AS Naik

PMI Manufaktur AS naik menjadi 55,5 pada Oktober 2026, dari 54,5 pada September. Angka ini melampaui ekspektasi pasar sebesar 54,6 dan menandai ekspansi sektor manufaktur tercepat kedua dalam hampir empat tahun.

Kenaikan terutama ditopang oleh produksi yang meningkat ke 59,0 dari 56,7, sementara pesanan baru juga tumbuh lebih cepat. Namun, pertumbuhan tenaga kerja sedikit melambat.

Di sisi lain, indeks harga turun menjadi 75,2 dari 77,9, tetapi tekanan inflasi masih tinggi. Permintaan dari sektor kecerdasan buatan (AI), pusat data, semikonduktor, dan infrastruktur terus menopang aktivitas industri.

Dampak bagi Indonesia: Penguatan manufaktur AS mencerminkan permintaan industri yang masih solid, tetapi tekanan harga dan ketidakpastian tarif dapat memengaruhi perdagangan global. Bagi pasar keuangan, data ekonomi yang kuat juga bisa membuat The Fed lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga.

11.. Data Ketenagakerjaan JOLTs AS

Pada hari ini Selasa (3/11/2026), AS akanmengumumkan data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) untuk September 2026 akan dirilis. Data ini akan menjadi indikator permintaan tenaga kerja melalui jumlah lowongan yang tersedia.

Sebagai catatan, lowongan kerja di Amerika Serikat turun 256.000 menjadi 7,079 juta pada Agustus 2026, terendah dalam lima bulan. Angka ini berada di bawah revisi Juli sebesar 7,335 juta dan ekspektasi pasar 7,23 juta.

Penurunan terbesar terjadi pada sektor jasa profesional dan bisnis (-119.000) serta kesehatan dan layanan sosial (-115.000). Lowongan juga turun di sektor manufaktur, konstruksi, dan perdagangan grosir.

Sementara itu, jumlah perekrutan relatif stabil di 5,2 juta dan total pemutusan hubungan kerja maupun pengunduran diri tidak banyak berubah.

Penurunan lowongan kerja mengindikasikan pasar tenaga kerja AS mulai mendingin. Kondisi ini dapat memperkuat alasan bagi The Fed untuk mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter, meski keputusan suku bunga tetap bergantung pada data inflasi dan ketenagakerjaan lainnya.

Berikut agenda ekonomi hari ini, Selasa (3/11/2026):

  • Amerika Serikat (AS) menggelar pemilu sela (midterm elections) untuk menentukan komposisi Kongres, yakni seluruh 435 kursi DPR dan 35 kursi Senat.

  • AS akan merilis data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) September 2026 yang menggambarkan kondisi permintaan tenaga kerja.

  • KKP menggelar Vocational Goes to Actor (VOGA) 2026 di Ballroom KKP, Gedung Mina Bahari III, Jakarta Pusat.

  • Coffee Morning Bank DBS Indonesia "Beyond AI Adoption : Indonesia's Role in the AI Economy" di Meradelima Restaurant, Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain CEO Bank DBS Indonesia dan Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital.

  • Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK IV Tahun 2026 yang akan diselenggarakan di Function Room Gedung Thamrin, Kompleks Perkantoran Bank Indonesia, Jakarta Pusat. 

  • Media Briefing IDAI "Dampak Karhutla dan Meningkatnya Pneumonia pada Anak: Bagaimana Peran Dokter Spesialis Anak?"

Berikut agenda korporasi hari ini:

RUPS PT Megalestari Epack Sentosaraya Tbk.
RUPS PT Indah Prakasa Sentosa Tbk.
Tanggal DPS Dividen Tunai Interim Tempo Scan Pacific Tbk
Tanggal ex Dividen Tunai Interim PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk
Tanggal ex Saham Bonus PT Prima Globalindo Logistik Tbk.

Berikut indikator ekonomi terbaru:



Most Popular
Features