MARKET DATA

Saham Intel Ambruk 29%, Terburuk Sejak 1974-'Duit' Trump Rp217 T Ludes

mae,  CNBC Indonesia
31 October 2026 06:30
Foto kolase logo intel dan AMD. (Dok. Reuters & AMD.com)
Foto: Foto kolase logo intel dan AMD. (Dok. Reuters & AMD.com)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham Intel terjun 29% pada perdagangan Jumat (30/10/2026), mencatat kinerja harian terburuk sejak era 1970-an atau tepatnya 5 Juli 1974 atau lebih dari 52 tahun lalu (29,9%).

Kejatuhan ini menghapus sekitar US$12 miliar atau sekitar Rp 217,7 triliun (US$1= Rp 18.120) dari nilai kepemilikan saham pemerintah Amerika Serikat (AS) di perusahaan semikonduktor tersebut.

Saham Intel anjlok setelah perusahaan merilis proyeksi kinerja yang jauh di bawah ekspektasi pasar. Pelemahan pasar komputer pribadi (PC) dan penghentian operasional pabrik di Israel menjadi dua tekanan utama yang membebani prospek bisnis perusahaan.

Kejatuhan ini menjadi pukulan telak bagi CEO Intel Lip-Bu Tan, yang sejak ditunjuk pada Maret 2025 berupaya membalikkan nasib perusahaan setelah tertinggal dalam gelombang awal ledakan kecerdasan buatan (AI).

Dampaknya juga terasa bagi pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump. Pemerintah AS memiliki sekitar 10% saham Intel setelah mengambil kepemilikan tersebut lebih dari setahun lalu.

Meski investasinya masih mencatat keuntungan, nilai kepemilikan itu menyusut sekitar US$12 miliar hanya dalam sehari.

Nvidia, yang juga memiliki saham besar di Intel, kehilangan sekitar US$6 miliar dari nilai investasinya akibat kejatuhan harga saham tersebut.

Sebelum laporan keuangan dirilis pada Kamis (29/10/2026), saham Intel sebenarnya telah melonjak sekitar 150% sepanjang tahun ini. Kenaikan tersebut didorong permintaan terhadap prosesor pusat atau central processing unit (CPU), yang semakin penting untuk menjalankan beban kerja AI berbasis agen (agentic AI).

Namun, optimisme pasar langsung terpukul. Analis D.A. Davidson menurunkan rekomendasi saham Intel dari buy menjadi neutral pada Jumat. Dalam laporannya, mereka memberi judul tajam: "Belum Beres."

Analis menilai pelemahan pasar PC memang terjadi di tingkat industri. Namun, valuasi saham Intel dinilai sulit dibenarkan ketika tekanan bisnis begitu besar.

Amazon Ikut Terseret, Saham Teknologi AS Berdarah

Tekanan tidak hanya menghantam Intel. Saham Amazon juga melemah setelah perusahaan melaporkan kinerja kuartal III-2026 yang meleset dari ekspektasi, baik dari sisi pendapatan maupun laba.

Saham Amazon turun 1,4%. Perusahaan tetap mempertahankan proyeksi belanja modal 2026 sebesar US$220 miliar dan melaporkan arus kas bebas negatif untuk kuartal kedua berturut-turut, dengan penurunan yang semakin besar dibandingkan periode sebelumnya.

 

Indeks Nasdaq Composite merosot sekitar 2,9%, menutup pekan yang berat bagi saham teknologi. Sehari sebelumnya, Alphabet juga mencatat kejatuhan harian terburuk dalam sejarahnya setelah saham anjlok lebih dari 12%. Saham perusahaan induk Google itu kembali melemah pada Jumat.

Saham semikonduktor ikut terkapar. Nvidia turun sekitar 4%, Broadcom merosot lebih dari 5%, sementara Qualcomm anjlok 11%.

Investor Mulai Pertanyakan Hasil Belanja AI

Koreksi tajam saham teknologi mencerminkan meningkatnya kegelisahan investor terhadap belanja AI raksasa yang digelontorkan perusahaan teknologi global. Pasar mulai mempertanyakan apakah investasi bernilai miliaran dolar tersebut akan menghasilkan keuntungan yang sepadan, serta seberapa cepat hasilnya bisa terlihat.

Matt Orton, kepala strategi pasar di Raymond James, mengatakan kondisi ini belum bisa disebut sebagai titik krisis bagi industri AI. Namun, investor perlu mengevaluasi kembali posisi investasi mereka di sektor yang sudah dipadati pelaku pasar.

 

Oliver Pursche, wakil presiden senior Wealthspire Advisors, menilai pergerakan pasar sepanjang pekan menunjukkan bahwa masa depan AI dan potensi imbal hasil investasinya menjadi perhatian utama investor.

"Bisa dikatakan, perhatian pasar sepanjang pekan ini, bukan hanya hari ini, tertuju pada masa depan AI dan bagaimana perkembangannya. Investor mempertanyakan apakah investasi besar-besaran di sektor ini akan menghasilkan imbal hasil positif, dan jika iya, seberapa cepat hasilnya bisa terlihat," ujar Oliver Pursche, Wakil Presiden Senior Wealthspire Advisors di New York, dikutip dari Reuters.

Pursche menambahkan, perusahaan yang mampu mencatat kinerja solid dan memenuhi ekspektasi pasar yang sangat tinggi masih mendapat respons positif.

"Sebaliknya, perusahaan yang gagal memenuhi ekspektasi, meleset dari target, atau tidak mampu menjalankan strategi sesuai harapan, akan mendapat hukuman dari pasar," katanya.

Perusahaan yang mampu memenuhi ekspektasi tinggi pasar masih mendapat apresiasi. Sebaliknya, perusahaan yang gagal mencapai target atau dinilai tidak menjalankan strategi dengan baik langsung dihukum oleh investor.

Proyeksi Intel Jauh di Bawah Ekspektasi

Intel memperkirakan laba per saham yang disesuaikan sebesar US$0,25 untuk kuartal berjalan, dengan pendapatan di kisaran US$15 miliar hingga US$16 miliar.

Proyeksi tersebut jauh di bawah ekspektasi analis LSEG yang memperkirakan pendapatan US$17,1 miliar dan laba per saham US$0,43.

Direktur Keuangan Intel David Zinsner mengatakan perlambatan pasar PC diperkirakan berlanjut setidaknya hingga paruh pertama 2027. Perusahaan menyatakan akan tetap berinvestasi secara disiplin untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memenuhi kebutuhan pertumbuhan ke depan.

Tekanan juga datang dari insiden ledakan di fasilitas manufaktur Intel di Israel pada awal Oktober. Insiden tersebut menewaskan dua pekerja dan menyebabkan seorang pekerja lainnya mengalami luka serius.

 

Zinsner memperkirakan gangguan itu akan mengurangi pendapatan sekitar US$600 juta selama dua kuartal. Menurut Lip-Bu Tan, insiden tersebut menyebabkan penghentian operasional berkepanjangan dan mengganggu pengiriman chip 10 nanometer.

Bisnis Manufaktur Jadi Taruhan Kebangkitan Intel

Salah satu kunci strategi pemulihan Intel adalah bisnis manufaktur chip atau foundry, yang selama ini kesulitan mendapatkan pijakan kuat di pasar.

Intel merupakan satu-satunya produsen chip logika canggih yang berbasis di AS. Perusahaan kini telah memasuki produksi volume tinggi chip 18A di fasilitas barunya di Arizona, yang diharapkan menjadi alternatif bagi Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC).

Fasilitas Intel berikutnya di Arizona diperkirakan mulai beroperasi pada akhir 2028. Namun, Intel hingga kini belum memiliki pelanggan eksternal untuk chip generasi terbarunya.

Tan mengatakan perusahaan berharap dapat mengumumkan beberapa pelanggan dalam dua kuartal mendatang. Ia juga mengklaim Intel mencatat kemajuan besar dalam pengembangan chip 14A.

Wall Street Tutup Pekan di Zona Merah

Ketiga indeks utama Wall Street berakhir melemah pada Jumat. Dow Jones Industrial Average turun 572,25 poin atau 1,09% ke 51.770,31. S&P 500 merosot 140,32 poin atau 1,82% ke 7.580,07, sedangkan Nasdaq Composite kehilangan 747,73 poin atau 2,86% ke 25.437.

Sepanjang Oktober, S&P 500 dan Nasdaq membukukan kerugian bulanan, sementara Dow Jones masih mampu mencatat kenaikan. Sektor teknologi S&P 500 mencatat penurunan bulanan terdalam sejak Maret 2025, sedangkan sektor jasa komunikasi mengalami penurunan terburuk sejak April 2022.

Di tengah tekanan tersebut, saham perusahaan energi justru menguat. Exxon Mobil dan Chevron masing-masing naik 2,2% dan 2,8% setelah membukukan laba kuartalan di atas ekspektasi, ditopang kenaikan margin keuntungan di tengah gangguan pasokan energi akibat perang AS-Israel melawan Iran dan perang Rusia-Ukraina.

Sementara itu, saham Starbucks turun 1,8% setelah perusahaan memproyeksikan penurunan pendapatan tahunan menyusul divestasi bisnisnya di China.

Saham perusahaan terkait kripto Coinbase, Strategy, dan Robinhood juga merosot antara 7,2% hingga 10,6%, di tengah laporan pencurian aset kripto senilai US$6,3 miliar dari Binance, bursa kripto terbesar di dunia.

Volume perdagangan di bursa AS mencapai 19,87 miliar saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata 20 hari perdagangan terakhir sebesar 17,26 miliar saham.

Kejatuhan Intel dan Amazon menjadi peringatan bagi pasar: di tengah euforia AI, ekspektasi tinggi bisa berubah menjadi bumerang ketika pertumbuhan bisnis gagal memenuhi janji.

(mae/mae)



Most Popular