MARKET DATA

Maaf! Raja Mangga di Dunia Bukan RI

Zhafa Yuda Rehema,  CNBC Indonesia
28 October 2026 15:05
Ilustrasi buah mangga (Freepik)
Foto: Ilustrasi buah mangga (Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar mangga dunia kian besar, tetapi Indonesia belum mampu memanfaatkannya secara maksimal.  Indonesia punya produksi mangga jutaan ton per tahun, namun besarnya panen belum dengan sendirinya menjamin posisi kuat dalam perdagangan internasional.

Ketika pasar mangga global diproyeksikan mencapai US$70,6 miliar atau Rp1.283,17 triliun (US$1=18,175) pada 2031, tantangannya adalah mengubah kapasitas produksi menjadi nilai ekonomi yang lebih besar.

Laporan Mordor Intelligence memperkirakan pasar tersebut diproyeksikan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (compound annual growth rate/CAGR) sebesar 3,87% selama 2026-2031.

Permintaan dari sektor ritel dan jasa makanan, peningkatan produksi melalui subsidi perluasan lahan di India, Meksiko, dan Kenya, serta teknologi pengiriman dengan atmosfer terkendali yang mengurangi kehilangan pascapanen menjadi pendorong pertumbuhan pasar mangga.

Kenaikan pendapatan rumah tangga di Asia Pasifik, berkembangnya pasar minuman berbasis tumbuhan di Amerika Utara dan Eropa, serta platform digital yang memangkas margin perantara turut membuka peluang bisnis baru.

 

Kemajuan teknologi juga menekan biaya pengiriman laut dan memperluas jangkauan pasar tanpa mengorbankan kualitas buah.

Namun, harga tetap berfluktuasi secara musiman. Harga mangga asal Brasil melemah, sedangkan harga dari Peru meningkat akibat pasokan yang lebih terbatas.

Diversifikasi negara pemasok membantu pedagang mengelola risiko, sementara permintaan dari negara-negara Teluk berpendapatan tinggi dan pembelian mangga di luar musim panen oleh China dari Vietnam menopang permintaan global.

India Memimpin Produksi, Indonesia Masuk Jajaran Teratas

Data FAOSTAT 2024 yang menempatkan India sebagai produsen terbesar dalam kelompok komoditas mangga, jambu biji, dan manggis, dengan produksi 27,77 juta ton. Indonesia berada di posisi kedua dengan 4,14 juta ton, diikuti China sebanyak 4,08 juta ton.

Besarnya produksi India juga terlihat dalam statistik khusus mangga.

Data pemerintah India yang dihimpun IndianAgri mencatat produksi mangga negara tersebut mencapai 23,1 juta ton pada tahun pemasaran 2024-2025, naik 3,3% dibandingkan 22,4 juta ton pada periode sebelumnya.

Dalam publikasi Kementerian Pertanian dan Kesejahteraan Petani India pada 2013, pemerintah negara tersebut mencatat produksi mangga sebesar 10,99 juta ton dari luas areal 1,23 juta hektare.

Produksi manggaProduksi mangga Foto: BPS

Publikasi yang sama menyebut India telah mengekspor mangga segar ke sejumlah pasar, termasuk Uni Emirat Arab, Bangladesh, Inggris, Arab Saudi, dan Nepal, berdasarkan catatan perdagangan 2011-2012.

Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi mangga Indonesia mencapai 3,01 juta ton pada 2025, turun sekitar 8,9% dari 3,30 juta ton pada 2024.

Produksi nasional sebelumnya meningkat dari 2,84 juta ton pada 2021 menjadi 3,31 juta ton pada 2022. Setelah itu, produksi relatif stabil pada 2023 dan 2024 sebelum melemah pada 2025. Meski masih lebih tinggi dibandingkan 2021, penurunan tahunan tersebut menunjukkan bahwa produksi domestik tidak selalu bergerak naik.

Pasar Global Diproyeksikan Tumbuh, Indonesia Ikut Naik

Laporan Market Intelligence Cell untuk Agricultural and Processed Food Products Export Development Authority (APEDA) India pada Februari 2026 mencatat harga ekspor Indonesia sebesar US$2.583 per ton atau sekitar Rp 46,94 juta (US$1= Rp 18.175) pada Februari 2026, naik 9% dibandingkan US$2.380 per ton pada Februari 2025.

Laporan tersebut memproyeksikan harga untuk periode Maret-Mei 2026. Arah harga Indonesia dikategorikan bullish, atau cenderung menguat.

APEDA mengaitkan prospek tersebut, antara lain, dengan upaya Indonesia memperluas akses pasar buah tropis ke Kanada melalui Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA).

Perjanjian ICA-CEPA diproyeksikan meningkatkan ekspor Indonesia ke Kanada hingga US$11,8 miliar pada 2030 dan mendorong pertumbuhan PDB Indonesia sebesar 0,12%.

Cakupan perjanjian ini meliputi perdagangan barang dan jasa, investasi, kepastian hukum, transparansi regulasi, serta perdagangan berkelanjutan. Sejumlah sektor strategis juga menjadi perhatian, termasuk hilirisasi mineral kritis, energi bersih, agripangan, dan perikanan.

Perluasan pasar dan diversifikasi tujuan ekspor dinilai berpotensi mendukung harga, meskipun volume ekspor musiman diperkirakan tetap moderat.

Proyeksi tersebut menunjukkan potensi ekonomi yang masih berkembang. Namun, besarnya nilai pasar global tidak serta-merta menunjukkan besarnya nilai ekspor dunia atau pendapatan yang diterima negara produsen.

Bagi Indonesia, peluang itu perlu dibaca bersama kemampuan menjaga pasokan, memenuhi standar mutu, dan menjangkau pasar internasional.

 

(mae/mae)



Most Popular