MARKET DATA

6 Hal Paling Ditunggu dari The Fed, Dunia Bisa Dibuat Jungkir Balik

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
28 October 2026 16:25
Ketua bank sentral Amerika Serikat (AS) Kevin Warsh. (Dok. Federalreserve)
Foto: Ketua bank sentral Amerika Serikat (AS) Kevin Warsh. (Dok. Federalreserve)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) sedang menggelar rapat kebijakan moneter pada 27-28 Oktober 2026. Hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) tersebut dijadwalkan diumumkan pada Kamis (29/10/2026) pukul 01.00 WIB.

Berbeda dengan pertemuan September lalu, kali ini pasar memperkirakan The Fed tidak akan melakukan perubahan pada suku bunga acuannya. 

Sebelumnya, di FOMC September, The Fed resmi menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%-4,00%. Keputusan itu menjadi kenaikan pertama sejak 2023, sekaligus menandai perubahan arah kebijakan setelah sebelumnya bank sentral AS memangkas suku bunga sepanjang 2025.

Kini, perhatian investor tidak hanya tertuju pada apakah suku bunga akan kembali dinaikkan, tetapi juga seberapa jauh The Fed akan mempertahankan kebijakan yang ketat seperti saat ini.

Berdasarkan data CME FedWatch, menunjukkan peluang suku bunga saat ini berada di kisaran 90%.

Meski demikian, pasar masih memperkirakan adanya kenaikan suku bunga berikutnya sebelum akhir tahun.

Probabilitas The FedProbabilitas The Fed Foto: CME Fedwatch

1. Keputusan Suku Bunga, Ditahan atau Kembali Naik?

Hal pertama yang ditunggu tentu saja keputusan suku bunga acuan The Fed.

Mayoritas pelaku pasar memperkirakan Federal Funds Rate akan dipertahankan pada kisaran 3,75%-4,00%, setelah mengalami kenaikan sebesar 25 bps pada September lalu.

Namun, kondisi ekonomi AS sebenarnya masih memberikan alasan bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga.

Inflasi masih jauh di atas target 2%, sedangkan kenaikan harga minyak dan bahan bakar berpotensi mendorong biaya barang dan jasa semakin mahal.

Di sisi lain, sejumlah pejabat The Fed memberikan sinyal bahwa bank sentral masih memiliki waktu untuk menilai perkembangan ekonomi sebelum mengambil keputusan berikutnya.

Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson, misalnya, menyoroti kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang telah memperketat kondisi keuangan.

Kenaikan imbal hasil obligasi membuat biaya pinjaman menjadi lebih mahal, sehingga sebagian dampak pengetatan moneter sebenarnya sudah dirasakan masyarakat dan dunia usaha meskipun The Fed tidak kembali menaikkan suku bunga.

Karena itu, keputusan menahan suku bunga pada Oktober tidak serta-merta menunjukkan The Fed mulai melonggarkan kebijakannya.

Justru pasar akan mencari kepastian apakah keputusan tersebut hanya merupakan jeda sementara sebelum kenaikan berikutnya.

2. Sinyal Kenaikan Suku Bunga pada Desember

Setelah keputusan Oktober, perhatian investor akan beralih ke FOMC terakhir tahun ini yang dijadwalkan berlangsung pada 8-9 Desember 2026.

Berdasarkan CME FedWatch menjelang rapat Oktober, pasar memperkirakan peluang sekitar 76,3% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya sekali hingga pertemuan Desember.

Ekspektasi tersebut sejalan dengan hasil FOMC September, ketika mayoritas pejabat The Fed masih melihat perlunya kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir tahun.

Dalam proyeksi September, median perkiraan suku bunga The Fed untuk akhir 2026 berada di sekitar 4,1%, atau setara dengan kisaran target 4,00%-4,25%.

Posisi tersebut lebih tinggi dibandingkan kisaran suku bunga saat ini sebesar 3,75%-4,00%.

Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan. FOMC Oktober tidak dijadwalkan merilis proyeksi ekonomi maupun dot plot terbaru.

Dot plot merupakan gambaran perkiraan masing-masing pejabat The Fed mengenai arah suku bunga pada masa mendatang. Proyeksi ini terakhir diperbarui pada September dan baru dijadwalkan kembali pada Desember.

Karena itu, petunjuk mengenai kemungkinan kenaikan bunga berikutnya akan lebih banyak diperoleh dari pernyataan resmi FOMC serta konferensi pers Ketua The Fed Kevin Warsh.

Jika The Fed memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga tambahan masih diperlukan, ekspektasi kenaikan Desember berpotensi semakin menguat.

Sebaliknya, apabila The Fed mulai menunjukkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi, pasar dapat menurunkan perkiraan kenaikan suku bunga berikutnya.

3. Pernyataan Kevin Warsh dan Arah Kebijakan The Fed

Hal berikutnya yang tidak kalah penting adalah bagaimana Kevin Warsh menjelaskan keputusan kebijakan moneter kali ini.

Sejak dirinya memegang pucuk pimpinan The Fed, Warsh dikenal kurang menyukai pendekatan forward guidance, yakni ketika bank sentral memberikan petunjuk yang cukup jelas mengenai arah kebijakan suku bunga pada masa mendatang.

Menurut pandangan Warsh, memberikan arahan terlalu jauh berisiko membuat The Fed seolah sudah berkomitmen pada keputusan tertentu, padahal kondisi ekonomi dapat berubah sewaktu-waktu.

Sikap tersebut membuat komunikasi Warsh menjadi perhatian tersendiri bagi investor.

Apalagi, sejumlah pejabat The Fed sebelumnya telah memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga pada Oktober belum terlalu mendesak.

Pasar akan memperhatikan apakah Warsh memiliki pandangan yang sama atau justru menunjukkan sikap lebih tegas terhadap inflasi.

Dalam pernyataan September, The Fed menegaskan komitmennya untuk mengembalikan inflasi menuju target 2% dalam waktu yang lebih cepat.

Jika pernyataan serupa kembali ditekankan pada Oktober, pasar dapat menafsirkannya sebagai tanda bahwa The Fed belum selesai menaikkan suku bunga.

Namun, apabila Warsh lebih menyoroti risiko perlambatan ekonomi dan kebutuhan untuk menunggu data tambahan, investor bisa melihat adanya ruang bagi kebijakan yang lebih berhati-hati.

Oleh karenanya, pilihan kata dalam pernyataan FOMC dan jawaban Warsh saat konferensi pers bisa dengan mudah memberikan pengaruhbesar terhadap pasar dibandingkan keputusan menahan suku bunga itu sendiri.

4. Pandangan The Fed terhadap Inflasi dan Kondisi Ekonomi AS

Perkembangan inflasi AS menjadi salah satu alasan utama mengapa pasar masih memperkirakan kenaikan suku bunga dalam beberapa waktu kedepan.

Berdasarkan data Bureau of Labor Statistics (BLS), inflasi konsumen AS pada September 2026 mencapai 3,7% secara tahunan (year-on-year/yoy), meningkat dibandingkan Agustus sebesar 3,4%.

Secara bulanan, harga konsumen naik 0,6%, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,4% pada Agustus.

Tekanan terbesar datang dari sektor energi. Indeks harga energi melonjak 20,4% secara tahunan, sementara harga bensin meningkat 34,2%.

Kondisi tersebut tidak terlepas dari lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Kenaikan biaya energi juga berisiko merambat ke berbagai sektor ekonomi, terutama melalui kenaikan biaya transportasi, distribusi barang, dan kegiatan produksi.

Namun, The Fed menghadapi persoalan lain yang tidak kalah penting, yakni kondisi pasar tenaga kerja.

Data BLS menunjukkan ekonomi AS hanya menambah 29.000 pekerjaan di luar sektor pertanian (nonfarm payrolls) pada September 2026. Sementara itu, tingkat pengangguran berada di level 4,2%.

Dua perkembangan ini membuat tantangan tersendiri bagi The Fed.

Di satu sisi, suku bunga tinggi masih diperlukan untuk menekan inflasi. Namun, apabila kebijakan terlalu ketat, pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja berisiko semakin melemah.

Pasar akan mencermati seberapa besar perhatian The Fed terhadap kedua persoalan tersebut.

Jika Warsh lebih menekankan tingginya inflasi dan perlunya menjaga stabilitas harga, peluang kenaikan suku bunga berikutnya dapat semakin besar.

Sebaliknya, apabila perlambatan pasar tenaga kerja mulai mendapat perhatian lebih besar, The Fed mungkin memilih memperlambat langkah pengetatan moneternya.

5. Perbedaan Pendapat di Internal The Fed

Selain keputusan suku bunga, pasar juga akan memperhatikan hasil pemungutan suara para pejabat FOMC.

Pada September lalu, keputusan menaikkan suku bunga sebesar 25 bps didukung secara bulat oleh 12 pejabat yang memiliki hak suara.

Namun, kesepakatan serupa belum tentu kembali terjadi pada Oktober.

Sejumlah ekonom memperkirakan kemungkinan munculnya dua hingga tiga pejabat yang berbeda pendapat apabila mayoritas FOMC memutuskan menahan suku bunga.

Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack dan Presiden Federal Reserve Bank of Dallas Lorie Logan termasuk pejabat yang dinilai berpotensi menginginkan kenaikan suku bunga.

Keduanya sebelumnya menyampaikan kekhawatiran bahwa tingkat suku bunga saat ini mungkin belum cukup tinggi untuk menekan inflasi secara berkelanjutan.

Karena itu, pasar tidak hanya akan melihat keputusan akhir, tetapi juga berapa banyak anggota FOMC yang sebenarnya menginginkan kebijakan lebih ketat.

Apabila terdapat beberapa suara yang mendukung kenaikan suku bunga, kondisi tersebut dapat memperkuat pandangan bahwa penahanan bunga Oktober hanya bersifat sementara.

Sebaliknya, jika keputusan kembali diambil secara bulat, investor akan mencermati apakah kesepakatan itu mencerminkan kehati-hatian bersama atau adanya perubahan pandangan terhadap risiko inflasi.

6. Independensi Kevin Warsh di Tengah Tekanan Donald Trump

FOMC Oktober juga berlangsung dalam situasi politik yang cukup sensitif.

Pertemuan ini menjadi salah satu ujian bagi independensi Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed, terutama di tengah tekanan Presiden AS Donald Trump terhadap arah kebijakan suku bunga.

Trump sebelumnya berulang kali menginginkan suku bunga yang lebih rendah untuk membantu mendorong aktivitas ekonomi.

Namun, pada September lalu, Warsh justru memimpin keputusan kenaikan suku bunga sebesar 25 bps, yang bertolak belakang dengan keinginan Trump untuk mendapatkan kebijakan moneter lebih longgar.

Langkah tersebut sempat membantu mengurangi kekhawatiran sebagian pelaku pasar mengenai independensi The Fed.

Meski demikian, persoalan ini belum sepenuhnya usai. Trump kembali berupaya memberhentikan Gubernur The Fed Lisa Cook, sementara komunikasi antara Gedung Putih dan pimpinan bank sentral juga terus mendapat perhatian.

Situasi semakin menarik karena keputusan FOMC Oktober diumumkan hanya beberapa hari sebelum pemilu sela AS yang dijadwalkan pada 3 November 2026.

Investor akan memperhatikan bagaimana Warsh menjawab pertanyaan mengenai tekanan politik dan apakah keputusan kebijakan moneter benar-benar didasarkan pada kondisi ekonomi.

Independensi The Fed memiliki peran penting dalam menjaga kepercayaan pasar terhadap kebijakan moneter AS.

Jika investor mulai meragukan kemampuan bank sentral mengambil keputusan secara independen, ketidakpastian dapat meningkat, terutama di pasar obligasi dan valuta asing.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular