Pemilu Israel Buntu - Netanyahu di Ujung Tanduk, Shekel Terbang 2%
Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Israel bergerak cukup volatil di tengah berlangsungnya pemilihan umum (pemilu) yang menentukan nasib pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Shekel (ILS) sempat melesat hampir 2% terhadap dolar Amerika Serikat (AS), meski saat ini kembali melemah setelah hasil awal pemilu belum menunjukkan pemenang yang jelas.
Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Selasa (27/10/2026), shekel terparkir di level ILS 3,0541/US$, menguat sekitar 0,77% dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di posisi ILS 3,0777/US$.
Bahkan, dalam perdagangan intraday Selasa, shekel sempat melesat sekitar 1,8% hingga mencapai ILS 3,02/US$, menjadi posisi terkuatnya dalam lima pekan atau sejak 22 September 2026.
Namun, penguatan itu hanya bertahan sebentar. Pada Rabu (28/10/2026) hingga pukul 10.20 WIB, shekel berbalik melemah sekitar 0,94% ke posisi ILS 3,0832/US$.
Meski demikian, secara year-to-date (YTD) atau sejak awal tahun 2026, shekel Israel masih mencatat penguatan sebesar 3,15% terhadap dolar AS.
Perubahan arah mata uang Israel dalam dua hari terakhir tidak terlepas dari perkembangan pemilu yang berlangsung di tengah ketegangan politik dalam negeri Israel dan konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
Pasar sebelumnya menyambut kemungkinan berakhirnya pemerintahan Netanyahu, tetapi kini kembali dihadapkan pada ketidakpastian setelah hasil hitung cepat menunjukkan persaingan yang ketat.
Mengapa Shekel Menguat Saat Pemilu Israel?
Penguatan shekel pada Selasa terjadi ketika jutaan warga Israel memberikan suara dalam pemilu pertama sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Pemilu tersebut menjadi ujian politik besar bagi Netanyahu, yang telah memimpin Israel selama hampir dua dekade meski tidak berturut-turut.
Kepemimpinannya menghadapi tekanan akibat perang berkepanjangan di Gaza, persoalan keamanan nasional, hingga berbagai kebijakan pemerintah yang memicu perpecahan politik di dalam negeri.
Menariknya, partisipasi masyarakat dalam pemilu Israel kali ini melonjak cukup tajam.
Komite Pemilihan Umum Israel melaporkan tingkat partisipasi pemilih mencapai 77,7%, tertinggi sejak 1999. Angka tersebut jauh melampaui tingkat partisipasi pada pemilu 2022 yang mencapai sekitar 70,6%.
Tingginya partisipasi tersebut membuat sebagian pelaku pasar memperkirakan bahwa dukungan terhadap partai-partai yang menentang Netanyahu berpotensi meningkat.
Harapan tersebut terutama tertuju kepada Gadi Eisenkot, mantan kepala staf militer Israel yang kini menjadi salah satu pesaing utama Netanyahu.
Eisenkot memimpin partai Yashar dan berupaya membangun dukungan dari partai-partai tengah serta kelompok politik lain yang menginginkan pergantian pemerintahan.
Bagi sebagian investor, peluang berakhirnya pemerintahan Netanyahu dianggap sebagai perkembangan yang positif.
Pasalnya, kebijakan pemerintahan Netanyahu selama ini telah memicu kritik dari sejumlah negara, terutama terkait perang di Gaza, persoalan Palestina, serta perubahan sistem peradilan Israel.
Pergantian pemerintahan dinilai berpotensi memperbaiki hubungan Israel dengan mitra internasional sekaligus mengurangi sebagian risiko politik yang selama ini membayangi pasar keuangan negara tersebut.
Harapan tersebut ikut mendorong penguatan shekel sepanjang pemungutan suara berlangsung.
Optimisme serupa sebelumnya juga terlihat di pasar saham Israel. Indeks Tel Aviv 125 tercatat menguat 1,8% menjelang pemilu, sementara bursa saham setempat tutup pada hari pemungutan suara Selasa.
Namun, tingginya partisipasi pemilih ternyata belum menghasilkan pemenang yang jelas.
Hasil Pemilu Buntu, Nasib Netanyahu Belum Jelas
Setelah pemungutan suara berakhir, hasil hitung cepat atau exit poll menunjukkan bahwa baik kubu Netanyahu maupun kelompok oposisi yang dipimpin Eisenkot belum berhasil mengamankan mayoritas kursi parlemen.
Berdasarkan hasil hitung cepat yang diperbarui oleh tiga jaringan televisi utama Israel, kubu oposisi yang dipimpin Eisenkot diperkirakan memperoleh 52 kursi, sementara koalisi Netanyahu mendapatkan 50 kursi.
Adapun partai-partai Arab diproyeksikan memperoleh 18 kursi dan berpotensi menjadi penentu dalam pembentukan pemerintahan berikutnya.
Sebagai gambaran, parlemen Israel atau Knesset memiliki 120 kursi. Untuk membentuk pemerintahan dengan dukungan mayoritas, sebuah koalisi membutuhkan setidaknya 61 kursi.
Dengan proyeksi tersebut, tidak ada satu pun kubu yang memiliki cukup dukungan untuk langsung membentuk pemerintahan.
Meski Likud yang dipimpin Netanyahu diperkirakan tetap menjadi partai dengan kursi terbanyak, gabungan partai oposisi memiliki jumlah kursi yang lebih besar dibandingkan koalisi pendukung perdana menteri tersebut.
Persoalannya, jalan oposisi untuk membentuk pemerintahan juga tidak mudah.
Eisenkot selama ini enggan bergantung pada dukungan partai-partai Arab untuk membentuk koalisi, meskipun kelompok tersebut berpotensi memegang peranan penting dalam menentukan pemerintahan baru.
Jika kebuntuan ini berlanjut, Israel berpotensi menghadapi proses negosiasi koalisi yang panjang. Bahkan, pemilu ulang masih mungkin terjadi apabila tidak ada pihak yang berhasil membentuk pemerintahan.
Di tengah kondisi tersebut, Netanyahu juga masih berpeluang mempertahankan jabatannya sebagai pemimpin pemerintahan sementara selama proses pembentukan koalisi berlangsung.
Situasi inilah yang membuat pasar kembali berhati-hati.
Investor yang sebelumnya berharap pergantian pemerintahan dapat mengurangi risiko politik kini harus mempertimbangkan kemungkinan berlanjutnya ketidakpastian di Israel.
Kondisi tersebut turut menjadi salah satu faktor yang berpotensi menekan pergerakan shekel setelah sempat menguat tajam pada hari pemungutan suara.
JPMorgan Prediksi Shekel Bisa Bergerak Hingga 3%
Potensi gejolak di mata uang Israel akibat pemilu sebenarnya telah diperkirakan sejumlah lembaga keuangan internasional.
Dalam laporan yang diterbitkan pada 27 Agustus 2026, JPMorgan memperkirakan hasil pemilu Israel dapat membuat shekel bergerak hingga sekitar 3% terhadap dolar AS, bergantung pada siapa yang akhirnya berhasil membentuk pemerintahan.
Dalam skenario kemenangan oposisi, JPMorgan memperkirakan shekel berpotensi menguat sekitar 2% hingga 3%.
Penguatan tersebut didasarkan pada harapan bahwa pemerintahan baru dapat meredakan kekhawatiran investor mengenai perubahan sistem peradilan, memperbaiki hubungan internasional, serta mengurangi risiko politik Israel.
Sebaliknya, apabila Netanyahu kembali memenangkan pemilu, shekel diperkirakan berpotensi melemah sekitar 3%.
Sementara itu, apabila hasil pemilu berujung pada pembentukan koalisi yang luas atau ketidakpastian politik berkepanjangan, JPMorgan memperkirakan pergerakan mata uang Israel cenderung lebih terbatas.
Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa arah shekel tidak hanya dipengaruhi kondisi ekonomi, tetapi juga kepercayaan investor terhadap stabilitas politik dan arah kebijakan pemerintah.
Terlebih lagi, indikator volatilitas shekel jangka pendek telah melonjak ke posisi tertinggi sejak Israel menyerang sejumlah fasilitas nuklir Iran pada pertengahan 2025.
Kenaikan indikator tersebut mencerminkan besarnya perubahan nilai tukar yang sedang diantisipasi pelaku pasar akibat perkembangan politik Israel.
Meski demikian, kemenangan oposisi belum tentu langsung mengakhiri ketegangan geopolitik.
Eisenkot sendiri dikenal memiliki pandangan tegas dalam persoalan keamanan nasional. Mantan pemimpin militer Israel tersebut juga mendukung langkah keras terhadap Hamas.
Karena itu, pergantian pemerintahan tidak otomatis menjamin berakhirnya konflik maupun membaiknya hubungan Israel dengan negara-negara di kawasan.
Ke depan, arah shekel akan sangat bergantung pada hasil resmi pemilu, proses pembentukan koalisi, serta kebijakan pemerintahan yang akhirnya terbentuk.
Jika pemerintahan baru mampu memberikan kepastian politik dan mengurangi risiko konflik, shekel berpotensi kembali mendapat dukungan.
Sebaliknya, apabila Israel kembali terjebak dalam kebuntuan politik berkepanjangan, tekanan terhadap mata uang tersebut berisiko terus berlanjut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)