MARKET DATA

Daftar Perdana Menteri Israel: Terlama Netanyahu, Siapa Tersingkat?

Zhafa Yuda Rehema,  CNBC Indonesia
27 October 2026 18:40
Ilustrasi cover Israel vs Iran
Foto: Ilustrasi Israel vs Iran, (Edward Ricardo/ CNBC Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Masa jabatan perdana menteri Israel sangat beragam, ada yang memimpin selama puluhan tahun, sementara yang lain hanya bertahan beberapa hari. Pergantian kepemimpinan ini mencerminkan dinamika politik Israel yang kerap diwarnai perebutan kekuasaan dan perubahan peta politik.

Benjamin Netanyahu telah memimpin pemerintahan selama 19 tahun secara akumulatif, sementara Yigal Allon hanya menjabat sebagai perdana menteri sementara selama 19 hari pada 1969.

Perbedaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan lamanya seorang pemimpin berkuasa, tetapi juga dinamika politik Israel yang menggunakan sistem parlementer. Perdana menteri harus membentuk pemerintahan yang mendapat dukungan mayoritas anggota Knesset, parlemen Israel.

Karena itu, kemampuan mempertahankan dukungan partai-partai koalisi menjadi salah satu faktor penting bagi keberlangsungan pemerintahan. Israel Democracy Institute menjelaskan bahwa sistem parlementer memungkinkan masa jabatan perdana menteri berlangsung berbeda-beda, tidak seperti masa jabatan presiden yang umumnya ditentukan secara tetap.

Netanyahu mulai menjabat pada 18 Juni 1996. Ia memimpin pemerintahan hingga 1999, kembali menjadi perdana menteri pada 2009, lalu menjabat lagi sejak Desember 2022.

Jika seluruh periode tersebut dijumlahkan hingga 27 Oktober 2026, totalnya mencapai sekitar 6.968 hari berdasarkan metode penghitungan selisih tanggal.

Salah satu faktor yang membantu Netanyahu bertahan dalam politik Israel adalah kemampuannya membentuk koalisi dari berbagai partai. Dalam sistem parlementer, partai yang memperoleh suara terbanyak tidak otomatis bisa memerintah sendiri jika tidak menguasai mayoritas kursi Knesset.

Netanyahu beberapa kali membangun pemerintahan melalui kerja sama dengan partai lain, termasuk partai-partai kecil yang memiliki posisi penting dalam pembentukan koalisi.

Israel Democracy Institute mencatat bahwa Netanyahu telah memimpin enam pemerintahan berbeda. Meski demikian, masa jabatannya tidak berlangsung tanpa jeda.

Ia kehilangan jabatan pada 2021 ketika koalisi yang dipimpin Naftali Bennett dan Yair Lapid memperoleh dukungan mayoritas parlemen, sebelum kembali menjadi perdana menteri pada akhir 2022.

Di bawah Netanyahu terdapat David Ben-Gurion, perdana menteri pertama Israel. Ia memimpin negara itu pada masa awal berdirinya Israel, sejak 1948, kemudian kembali menjabat pada 1955 hingga 1963.

Dua periode tersebut membuatnya mengumpulkan masa jabatan yang panjang, sekitar 4.875 hari berdasarkan rentang tanggal dalam daftar.

Ben-Gurion memimpin Israel melewati periode pembentukan institusi negara dan sejumlah konflik awal.

Masa jabatannya juga mencakup beberapa pemerintahan yang berbeda, sehingga durasi totalnya merupakan gabungan beberapa periode, bukan satu masa jabatan tanpa putus.

Mengapa Ada PM yang Masa Jabatannya Singkat?

Masa jabatan yang pendek tidak selalu berarti seorang perdana menteri kalah dalam pemilu.

Dalam sistem parlementer Israel, perubahan dukungan koalisi, pengunduran diri, pergantian pemerintahan, dan peristiwa luar biasa dapat mengakhiri masa jabatan.

Yair Lapid, misalnya, menjadi perdana menteri pada 1 Juli 2022 setelah pemerintahan Bennett memutuskan membubarkan Knesset dan menggelar pemilu lebih awal.

Lapid memimpin pemerintahan sementara sampai Netanyahu membentuk pemerintahan baru pada 29 Desember 2022. Masa jabatannya sekitar 181 hari.

Naftali Bennett juga hanya menjabat sekitar 383 hari, dari 13 Juni 2021 hingga 1 Juli 2022. Pemerintahannya dibentuk oleh koalisi delapan partai dengan orientasi politik yang beragam dan mayoritas yang sangat tipis.

Ketika sejumlah anggota parlemen menarik dukungan, koalisi kehilangan mayoritas dan jalan menuju pemilu baru terbuka.

Contoh lain adalah Ariel Sharon. Masa jabatannya sebagai pemimpin pemerintahan berakhir setelah ia mengalami stroke berat pada Januari 2006 dan dinyatakan tidak mampu menjalankan tugasnya secara permanen pada April tahun yang sama.

Ehud Olmert kemudian mengambil alih jabatan tersebut. Kasus Sharon memperlihatkan bahwa pergantian PM tidak selalu disebabkan oleh kekalahan politik.

Adapun Yigal Allon menjabat sebagai PM sementara selama 19 hari setelah Levi Eshkol meninggal pada Februari 1969, sebelum Golda Meir membentuk pemerintahan berikutnya.

Karena statusnya sementara, masa jabatan Allon perlu dibedakan dari PM yang memimpin pemerintahan reguler.

Dengan demikian, lamanya seorang perdana menteri Israel menjabat dipengaruhi gabungan faktor politik dan keadaan di luar politik.

Dukungan koalisi memungkinkan seorang pemimpin bertahan, sedangkan hilangnya mayoritas, keputusan menggelar pemilu lebih awal, pengunduran diri, atau keadaan darurat dapat memperpendek masa jabatannya.

 

(mae/mae)



Most Popular