MARKET DATA

Dana Nasabah BNI Terus Membesar, Bagaimana Nasib Laba?

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
27 October 2026 13:05
Pengunjung berjalan di area kawasan Fedung graha Bank BNI, Jakarta, Rabu, (29/04/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Pengunjung berjalan di area kawasan Fedung graha Bank BNI, Jakarta, Rabu, (29/04/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatatkan peningkatan dana pihak ketiga (DPK) dan laba bersih dalam perbandingan kuartal III-2022 hingga kuartal III-2026. Meski sama-sama meningkat, kedua indikator tersebut menunjukkan laju pertumbuhan yang berbeda.

Penghimpunan DPK terus bertambah pada setiap periode September yang diamati. Sementara itu, perjalanan laba bersih lebih berfluktuasi, dengan penurunan pada 2025 sebelum kembali tumbuh pada 2026.

Jika dibandingkan dengan Q3 2022, DPK BNI pada Q3 2026 meningkat 64,12%, sedangkan laba bersih tumbuh 17,70%. Angka tersebut memperlihatkan pertumbuhan penghimpunan dana yang lebih cepat dibandingkan peningkatan keuntungan perseroan.

DPK Tumbuh 20,36%, Tembus Rp1.124,59 Triliun

Dari sisi pendanaan, DPK BNI mencapai Rp1.124,59 triliun per September 2026. Penghimpunan dana bertambah Rp190,26 triliun atau 20,36% dibandingkan September 2025 sebesar Rp934,33 triliun.

Kenaikan tersebut menjadi tambahan nominal terbesar dalam lima periode September yang diamati, sekaligus membawa DPK perseroan melewati Rp1.000,00 triliun dalam rangkaian perbandingan tersebut.

Pada September 2022, DPK BNI tumbuh 2,50% secara tahunan. Pertumbuhan kemudian meningkat menjadi 9,10% pada September 2023, sebelum melambat ke 2,96% pada September 2024.

Akselerasi terlihat pada September 2025, ketika DPK tumbuh 21,38% dengan tambahan nominal Rp164,59 triliun. Pertumbuhan di atas 20% kembali berlanjut pada September 2026, meski secara persentase sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Dibandingkan posisi September 2022, DPK BNI telah bertambah Rp439,35 triliun atau 64,12%. Peningkatan tersebut menunjukkan skala penghimpunan dana perseroan yang semakin besar dalam lima periode yang diamati.

Laba Bersih Q3 2026 Naik 6,62% Jadi Rp16,12 Triliun

Sejalan dengan peningkatan penghimpunan dana, BNI membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp16,12 triliun sepanjang Januari-September 2026. Capaian tersebut meningkat Rp1,00 triliun atau 6,62% dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Pertumbuhan ini menandai pemulihan laba setelah pada Q3 2025 perseroan mencatatkan penurunan sebesar 7,32%. Saat itu, laba bersih turun Rp1,19 triliun, dari Rp16,31 triliun menjadi Rp15,12 triliun.

Dalam lima periode tersebut, pertumbuhan laba paling tinggi terjadi pada Q3 2022, yakni 76,76% dibandingkan Januari-September 2021. Secara nominal, laba bersih bertambah Rp5,95 triliun.

Laju pertumbuhan kemudian melambat menjadi 15,05% pada Q3 2023 dan 3,52% pada Q3 2024. Meski pertumbuhannya melambat, laba bersih Q3 2024 sebesar Rp16,31 triliun menjadi pencapaian tertinggi dalam lima periode yang diamati.

Pemulihan pada 2026 belum sepenuhnya mengembalikan laba ke level tersebut. Laba bersih Januari-September 2026 masih lebih rendah Rp0,19 triliun atau 1,18% dibandingkan periode yang sama pada 2024.

Namun, jika dibandingkan dengan Q3 2022, laba bersih Q3 2026 tetap meningkat Rp2,42 triliun atau 17,70%. Dengan demikian, pertumbuhan keuntungan perseroan masih lebih lambat dibandingkan peningkatan DPK dalam rentang perbandingan yang sama.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Most Popular