MARKET DATA

BEI Bidik Rekening Pelaku Manipulasi, Efektif Perangi Saham Gorengan?

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
26 October 2026 11:50
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik saat menyampaikan pemaparan dalam Investment Forum 2026 di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (15/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyiapkan perubahan pengawasan transaksi sekaligus memperluas komite penilai saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC). Kedua langkah ini berpotensi menjaga kelancaran perdagangan dan memperkuat kepercayaan investor.

BEI berencana mengurangi penggunaan suspensi saham dan lebih menyasar pembekuan rekening efek yang terindikasi melakukan pelanggaran. Mekanisme tersebut ditargetkan mulai diterapkan pada awal November 2026 setelah sosialisasi kepada anggota bursa.

Sementara itu, komite HSC diperluas menjadi sembilan orang. Kehadiran anggota eksternal independen diharapkan memperkuat evaluasi metodologi serta keputusan mengenai saham yang masuk atau keluar kategori HSC.

Suspensi Dikurangi, Ritel Bisa Lebih Leluasa?

Perubahan pendekatan pengawasan berpotensi mengurangi dampak penghentian perdagangan terhadap investor yang tidak terkait dengan dugaan pelanggaran.

Ketika suatu saham disuspensi, pemegang saham ikut kehilangan kesempatan bertransaksi pada pasar yang terkena penghentian sementara. Jika tindakan diarahkan kepada rekening tertentu, investor lain berpeluang tetap membeli atau menjual saham tersebut.

Bagi investor ritel, akses ini memberi ruang untuk mengatur posisi, memenuhi kebutuhan dana, atau mengurangi risiko tanpa harus menunggu suspensi saham dicabut.

Namun, perdagangan yang tetap dibuka belum menjamin saham mudah dijual. Transaksi tetap membutuhkan pembeli dan harga yang sesuai.

Apabila rekening yang dibekukan sebelumnya mendominasi perdagangan, volume transaksi bisa menyusut. Selisih harga beli dan jual berpotensi melebar, sementara pergerakan harga dapat menjadi lebih tajam.

Komite HSC Diperluas, Keputusan Lebih Kredibel?

Komite HSC yang baru terdiri atas empat perwakilan direksi lembaga penyelenggara pasar modal dan lima anggota eksternal independen.

Perwakilan tersebut mencakup dua direktur BEI (Bursa Efek Indonesia), satu direktur KPEI (Kliring Penjaminan Efek Indonesia), dan satu direktur KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia).

Lima anggota eksternalnya adalah Joshua Tanja, Alex Widi, Mardiasmo, Eduardus Tandelilin, serta Chapman Taylor.

Secara analitis, keterlibatan pelaku industri, akademisi, dan investor dapat memperluas sudut pandang dalam mengevaluasi konsentrasi kepemilikan saham.

Penilaian yang konsisten juga berpotensi memberi emiten pemahaman lebih jelas mengenai dasar penetapan maupun pencabutan status HSC.

Meski demikian, bertambahnya anggota belum otomatis membuat penilaian lebih longgar atau lebih ketat. Kualitas keputusan tetap bergantung pada data, independensi, pengelolaan konflik kepentingan, dan penerapan metodologi.

Status HSC sendiri tidak otomatis menunjukkan pelanggaran. Kategori ini menggambarkan konsentrasi kepemilikan, sedangkan pembekuan rekening dalam perubahan pengawasan tadi berkaitan dengan indikasi pelanggaran transaksi.

Dampak Jangka Pendek Bisa Beragam

Bagi pasar, kedua langkah tersebut berpotensi memperbaiki kualitas pengawasan. Namun, manfaat terhadap tata kelola belum tentu langsung diikuti kenaikan harga saham.

Saham yang aktivitasnya bergantung pada segelintir rekening dapat menghadapi penyesuaian lebih besar ketika rekening tersebut dibekukan.

Di sisi lain, berkurangnya transaksi manipulatif berpotensi membuat pembentukan harga lebih sehat. Karena itu, penurunan volume tidak selalu berarti kualitas pasar memburuk, meskipun bisa menyulitkan transaksi dalam jangka pendek.

Komunikasi juga menjadi penting. Investor perlu memahami perbedaan antara saham yang sedang diperiksa, saham berkategori HSC, dan pihak yang telah terbukti melakukan pelanggaran.

Bagaimana Dampaknya ke IHSG?

Kredibilitas penilaian HSC semakin relevan karena BEI telah mengumumkan pengecualian saham HSC dari penghitungan IHSG mulai 2 November 2026.

Keputusan mengenai status HSC dengan demikian turut menentukan kelayakan saham sebagai konstituen indeks. Namun, keluar dari penghitungan IHSG tidak berarti saham tersebut berhenti diperdagangkan.

Arah indeks tetap dipengaruhi kinerja emiten, suku bunga, nilai tukar, kondisi global, dan arus dana investor. Perbaikan tata kelola dapat mendukung kepercayaan, tetapi belum menjamin masuknya dana baru.

Keberhasilan kebijakan ini pada akhirnya bergantung pada pelaksanaan: pengawasan yang efektif, keputusan HSC yang konsisten, serta akses perdagangan yang tetap terjaga. Namun untuk investor, ruang bertransaksi yang lebih terbuka tetap perlu dibarengi penilaian atas likuiditas, valuasi, dan kualitas perusahaan.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Most Popular