Harga Batu Bara Membara Lagi: Krisis di India Jadi Pemicu
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara kembali melesat di tengah krisis listrik India.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Kamis (21/10/206), harga batu bara ditutup di posisi US$ 154,45 per troy ons. Harganya naik 1,27%.
Kenaikan ini memutus tren buruk selama dua hari beruntun sebelumnya.
India meningkatkan pasokan batu bara ke pembangkit listrik hingga mencapai rekor 2,6 juta ton per hari. Meski demikian, ancaman kekurangan pasokan listrik masih membayangi, seiring menipisnya persediaan batu bara di puluhan pembangkit.
Dikutip dari Reuters, seorang pejabat senior Kementerian Energi India mengatakan pasokan batu bara untuk pembangkit listrik diperkirakan segera kembali normal, seperti dikutip Reuters, Kamis (22/10/2026).
Namun, tekanan pasokan belum sepenuhnya mereda. Data Central Electricity Authority India menunjukkan sebanyak 96 pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) hanya memiliki stok batu bara untuk memenuhi kebutuhan operasional selama sekitar tiga hari. Jumlah ini meningkat dari 60 pembangkit pada pertengahan September.
Kondisi tersebut terjadi di tengah lonjakan permintaan listrik dan penurunan produksi dari sumber energi lain, terutama pembangkit listrik tenaga air. Curah hujan yang lebih rendah membatasi produksi listrik hidro sekaligus meningkatkan kebutuhan terhadap pembangkit berbahan bakar batu bara.
Fenomena El Niño juga berpotensi memperbesar tekanan pasokan energi. Perubahan pola curah hujan dan angin akibat fenomena iklim tersebut dapat memengaruhi produksi listrik dari tenaga air dan angin, sehingga meningkatkan ketergantungan pada batu bara.
Di sisi lain, aktivitas industri yang meningkat turut mendorong konsumsi listrik. Negara bagian Gujarat bahkan meminta pabrik mengurangi penggunaan listrik pada malam hari untuk mengantisipasi risiko pemadaman.
Pemerintah India sebelumnya telah meminta perusahaan batu bara domestik meningkatkan pasokan ke pembangkit listrik. Namun, langkah tersebut dinilai belum cukup untuk menyeimbangkan permintaan dan pasokan.
Reuters melaporkan, permintaan puncak listrik harian India sepanjang tahun ini mencapai 45-50 gigawatt (GW) lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Lonjakan kebutuhan listrik tersebut menambah tekanan terhadap sistem energi India. Pemerintah kini menghadapi tantangan untuk menjaga keandalan pasokan listrik di tengah pertumbuhan permintaan, kendala cuaca, dan terbatasnya stok batu bara di sejumlah pembangkit.
Jika tekanan pasokan berlanjut, industri berpotensi menghadapi pembatasan konsumsi listrik, sementara pemerintah harus mempercepat distribusi batu bara untuk mencegah gangguan pasokan energi.
Harga Batu Bara Kokas China Kehilangan Momentum, Restocking Melambat
Harga batu bara kokas China kehilangan momentum penguatan seiring melambatnya aktivitas pengisian kembali stok (restocking) dan mendinginnya sentimen pasar. Kondisi ini terjadi di tengah ketidakpastian permintaan dari industri baja dan dinamika pasokan di dalam negeri.
Pembeli cenderung menahan pembelian, sehingga dorongan kenaikan harga melemah. Di sisi lain, persediaan tambang yang masih terbatas menjadi faktor penopang harga, terutama di Provinsi Shanxi yang merupakan salah satu pusat produksi batu bara utama China.
Pergerakan harga batu bara kokas juga dipengaruhi kondisi industri baja dan produsen kokas. Ketidakpastian permintaan bahan baku membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan pembelian.
Sementara itu, harga batu bara termal di tingkat tambang China turut tertekan oleh permintaan yang melemah dan peningkatan pasokan domestik. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tambahan pasokan belum diimbangi penguatan konsumsi.
Ke depan, aktivitas pembelian menjelang musim dingin dan perkembangan produksi baja akan menjadi faktor penting yang menentukan arah harga batu bara China.
(mae/mae)