MARKET DATA

Gila! Pestisida di Negara Ini 10 Kali Lipat Rata-Rata Dunia

Salma Laiqa,  CNBC Indonesia
22 October 2026 17:40
Buah nanas. (Istimewa)
Foto: (Istimewa)

Jakarta, CNBC Indonesia - Penggunaan pestisida di Costa Rica mencapai lebih dari 10 kali rata-rata dunia. Temuan ini memunculkan kekhawatiran terhadap dampak bahan kimia pertanian bagi kesehatan manusia dan lingkungan, terutama di negara tropis yang mengandalkan produksi pertanian skala besar.

Mengutip penelitian yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Environment International edisi September 2026, rata-rata intensitas penggunaan pestisida pada lahan tanaman di Costa Rica mencapai 21,91 kilogram bahan aktif per hektare setiap tahun.

Angka tersebut jauh melampaui rata-rata global sebesar 2,18 kilogram dan kawasan Amerika Tengah sebesar 7,16 kilogram per hektare, berdasarkan data pembanding FAO yang digunakan para peneliti.

Penelitian berjudul Grounding Pesticide Use Intensity and Hazards with Real-World Data: Toward Correcting Global Models in Tropical Agriculture dilakukan oleh Soledad Castro-Vargas dari University of Zurich, Santiago Alvarez-Fernandez, serta Ryan E. Galt dari University of California, Davis.

Para peneliti menggabungkan catatan impor dan ekspor pestisida, statistik produksi pertanian, serta data bahan kimia yang terdaftar untuk memperkirakan penggunaan pestisida menurut komoditas dan wilayah selama periode 2012-2024.

Perkebunan Pisang Paling Banyak Gunakan Pestisida

Ketergantungan Costa Rica terhadap pestisida terutama terlihat pada perkebunan pisang dan nanas, dua komoditas ekspor pertanian utama negara tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian, perkebunan pisang mencatat intensitas penggunaan pestisida tertinggi, rata-rata 78,88 kilogram bahan aktif per hektare per tahun. Nanas menyusul sebesar 34,07 kilogram, padi 33,88 kilogram, tomat 32,04 kilogram, dan kentang 30,42 kilogram.

Wilayah Limón, yang menjadi pusat perkebunan pisang dan nanas di pesisir Karibia, mencatat penggunaan tertinggi sebesar 35,77 kilogram per hektare ketika lahan pertanian dan padang penggembalaan yang dikelola turut dihitung.

Sementara itu, Kementerian Pertanian Costa Rica sebelumnya melaporkan rata-rata penggunaan sekitar 11 kilogram per hektare. Perbedaan ini terutama disebabkan oleh metode penghitungan yang mencakup padang penggembalaan, dengan intensitas penggunaan pestisida lebih rendah.

Ketika peneliti menggunakan cakupan lahan yang sama, hasil estimasinya juga mendekati 11 kilogram per hektare.

Ancaman Bagi Kesehatan dan Lingkungan

Penelitian tersebut juga mengidentifikasi sejumlah bahan aktif pestisida yang paling banyak digunakan di Costa Rica.

Mancozeb, fungisida untuk mengendalikan penyakit jamur pada tanaman pisang, menyumbang sekitar 36% dari total estimasi bahan aktif pestisida nasional. Bahan kimia lain yang banyak digunakan meliputi glyphosate, diazinon, dan ethoprophos.

Selain jumlah penggunaan, peneliti menilai potensi bahaya terhadap kesehatan manusia dan ekosistem.

Hasilnya menunjukkan bahwa sejumlah indikator bahaya terkait potensi kanker, gangguan sistem hormon, dan toksisitas melalui kulit tidak mengalami perbaikan yang signifikan secara statistik sepanjang periode pengamatan.

Risiko ekologis juga menjadi perhatian. Beberapa indikator potensi bahaya terhadap organisme perairan, termasuk ikan dan hewan tak bertulang belakang di air tawar, menunjukkan tren memburuk, meskipun sejumlah indikator lingkungan lainnya mengalami perbaikan.

Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa kajian ini mengukur karakteristik bahaya bahan kimia, bukan tingkat paparan langsung pada manusia ataupun jumlah penyakit yang disebabkan pestisida.

Temuan ini menjadi perhatian mengingat Costa Rica dikenal secara internasional atas keberhasilan konservasi dan kekayaan keanekaragaman hayatinya. Di sisi lain, sektor pertanian utama negara tersebut masih sangat bergantung pada bahan kimia untuk melindungi tanaman dari hama dan penyakit.

Para peneliti menekankan pentingnya transparansi data penggunaan pestisida serta pemantauan lingkungan yang lebih terperinci, terutama di wilayah tropis yang karakteristik ekosistemnya berbeda dengan negara-negara beriklim sedang.

Bagaimana dengan Indonesia?

Penggunaan pestisida juga menjadi perhatian di Indonesia. Mengutip data Food and Agriculture Organization (FAO), penggunaan pestisida pertanian diperkirakan mencapai 295.413 ton bahan aktif pada 2024, naik tipis 0,16% dibandingkan 2023 dan meningkat 15,9% dibandingkan 2012.

Dari sisi intensitas, penggunaan pestisida Indonesia diperkirakan mencapai 6,74 kilogram per hektare lahan tanaman pada 2024, atau sekitar 2,7 kali rata-rata global sebesar 2,49 kilogram.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Costa Rica yang mencapai 21,91 kilogram per hektare per tahun, meskipun periode dan metode penghitungannya berbeda.

Risiko penggunaan pestisida juga terlihat dalam penelitian domestik. Studi dalam Jurnal Entomologi Indonesia (Agustus 2026) menunjukkan bahwa semakin panjang jarak waktu antara penyemprotan dan panen, semakin rendah residu pestisida pada sawi putih.

Sementara itu, penelitian Journal of Applied Plant Technology (Mei 2026) menemukan residu chlorpyrifos dan mancozeb pada sampel buncis di Surabaya, meskipun kadarnya masih berada di bawah batas maksimum yang ditetapkan.

Temuan tersebut menegaskan pentingnya penggunaan pestisida sesuai ketentuan serta pengawasan residu untuk menjaga keamanan pangan, kesehatan petani, dan kelestarian lingkungan.

Pertanian Berkelanjutan Jadi Kunci

Penggunaan pestisida memiliki peran dalam melindungi tanaman dari hama dan penyakit. Namun, penggunaan yang tidak tepat berpotensi menimbulkan pencemaran tanah dan air, mengganggu keanekaragaman hayati, serta meningkatkan risiko paparan bahan kimia bagi petani.

Peneliti Costa Rica menekankan pentingnya pencatatan penggunaan pestisida yang lebih terperinci menurut jenis tanaman, wilayah, dan bahan aktif. Data tersebut dibutuhkan untuk mengidentifikasi risiko dan menyusun pengawasan yang lebih tepat sasaran.

Bagi Indonesia, penguatan pemantauan residu, penggunaan pestisida sesuai ketentuan, penerapan pengendalian hama terpadu, serta perlindungan pekerja pertanian menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan produksi.

Upaya tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 2 tentang pertanian berkelanjutan, SDG 3 tentang kesehatan, dan SDG 6 tentang perlindungan kualitas air.

Pada akhirnya, keberhasilan pertanian tidak hanya diukur dari tingginya hasil panen, tetapi juga kemampuan menghasilkan pangan yang aman tanpa mengorbankan kesehatan petani dan kelestarian lingkungan.

(slm/slm)



Most Popular