Rupiah Keok Lawan 7 dari 8 Mata Uang ASEAN, Terburuk vs Riel Kamboja
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai rupiah di sepanjang 2026 ini memang sedang tidak baik-baik saja.
Selain melemah terhadap mata uang utama dunia, mata uang Garuda juga masih cukup menderita saat berhadapan dengan mata uang negara-negara tetangga di Asia Tenggara (ASEAN).
Melansir data Refinitiv pada perdagangan intraday Kamis (22/10/2026) per pukul 12.32 WIB, dari delapan mata uang ASEAN yang dipantau, rupiah harus takluk terhadap tujuh mata uang dan hanya mampu menguat terhadap satu mata uang, yakni baht Thailand.
Pelemahan rupiah paling dalam terjadi terhadap riel Kamboja yang mencapai 0,39%, sehingga nilai tukarnya berada di level Rp4,427/KHR.
Tekanan berikutnya datang dari dolar Singapura. Rupiah tercatat melemah 0,32% terhadap mata uang Negeri Singa tersebut hingga menyentuh level Rp14.123/SGD. Bahkan, rupiah tadi sempat tembus ke posisi terlemah sepanjang masa terbarunya yakni di Rp14.135/SGD.
Sementara itu, terhadap ringgit Malaysia, rupiah juga harus terkapar dengan pelemahan sebesar 0,27% ke posisi Rp4.416,50/MYR.
Pelemahan turut terjadi terhadap dong Vietnam sebesar 0,30%, disusul kyat Myanmar sebesar 0,22% dan kip Laos sebesar 0,21%.
Adapun terhadap peso Filipina, rupiah mengalami pelemahan yang relatif lebih terbatas, sebesar 0,10% ke level Rp284,07/PHP.
Di tengah tekanan tersebut, baht Thailand menjadi satu-satunya mata uang ASEAN yang berhasil dilawan rupiah. Mata uang Garuda tercatat menguat tipis 0,09% terhadap baht ke posisi Rp535,41/THB.
Rupiah Kalah dari Seluruh Mata Uang ASEAN Sepanjang 2026
Jika pergerakannya ditarik lebih jauh sejak awal tahun atau secara year to date (YTD), kondisi rupiah ternyata jauh lebih memprihatinkan.
Rupiah tercatat mengalami depresiasi terhadap seluruh delapan mata uang ASEAN yang dipantau, tanpa satu pun mencatatkan penguatan.
Menariknya, pelemahan rupiah paling tajam justru terjadi terhadap dong Vietnam, yakni mencapai 10,2% sejak awal 2026.
Posisi tersebut menjadikan dong Vietnam sebagai mata uang ASEAN yang mencatatkan penguatan paling besar terhadap rupiah sepanjang tahun berjalan.
Tidak jauh berbeda, rupiah juga mengalami tekanan cukup besar terhadap dolar Singapura, dengan depresiasi mencapai 9,0% secara YTD.
Pelemahan berikutnya terjadi terhadap kyat Myanmar sebesar 8,2%, disusul ringgit Malaysia sebesar 7,8%.
Meski ringgit Malaysia tidak menempati urutan pertama, pelemahan rupiah terhadap mata uang Negeri Jiran tersebut tetap cukup besar. Apalagi, Malaysia merupakan salah satu negara tetangga yang memiliki hubungan perdagangan erat dengan Indonesia.
Sementara itu, rupiah juga harus mengakui keunggulan riel Kamboja dengan pelemahan sebesar 6,6% sejak awal tahun.
Tekanan terhadap mata uang Garuda turut terlihat ketika berhadapan dengan kip Laos, yang mencatatkan depresiasi sebesar 4,0%.
Adapun terhadap baht Thailand, rupiah tercatat melemah sebesar 1,2% secara YTD. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan tipis rupiah terhadap baht pada perdagangan siang ini belum mampu menghapus pelemahan yang sudah terjadi sejak awal tahun.
Peso Filipina menjadi mata uang ASEAN yang mencatatkan penguatan paling kecil terhadap rupiah, dengan pelemahan mata uang Garuda hanya sebesar 0,4% secara YTD.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah sepanjang 2026 tidak hanya terjadi ketika berhadapan dengan dolar AS, tetapi juga meluas terhadap mata uang negara-negara tetangga.
Bahkan, seluruh delapan mata uang ASEAN yang dipantau masih menunjukkan posisi yang lebih kuat dibandingkan rupiah sejak awal tahun, dengan dong Vietnam dan dolar Singapura mencatatkan keunggulan paling besar.
Mengapa Rupiah Terus Melemah?
Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung sejak awal tahun membuat harga minyak dunia terus bergerak tinggi.
Harga minyak Brent bahkan masih berada di atas US$100 per barel pada Oktober 2026, seiring kekhawatiran terhadap terganggunya pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Indonesia yang masih membutuhkan impor minyak dan bahan bakar untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Ketika harga minyak naik, Indonesia harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk membeli energi dari luar negeri. Kebutuhan terhadap valuta asing pun berpotensi meningkat dan turut menekan rupiah.
Sebenarnya, persoalan mahalnya harga energi juga dihadapi oleh sejumlah negara ASEAN lainnya, terutama negara-negara yang masih bergantung pada impor minyak seperti Thailand dan Filipina.
Namun, tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari luar negeri. Ada pula sejumlah persoalan domestik yang membuat investor semakin berhati-hati dalam menempatkan dananya di pasar keuangan Indonesia.
Kekhawatiran Kondisi Fiskal hingga Penurunan Outlook Kredit RI
Sejak awal 2026, kondisi keuangan pemerintah Indonesia mulai menjadi perhatian investor, terutama setelah defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sepanjang 2025 membengkak mendekati batas maksimal yang ditetapkan undang-undang.
Berdasarkan laporan Kementerian Keuangan, defisit APBN 2025 mencapai Rp695,1 triliun atau setara 2,92% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Angka tersebut meningkat cukup jauh dibandingkan defisit pada 2024 yang hanya sebesar 2,30% dari PDB.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa defisit APBN Indonesia pada 2026 berisiko menembus batas 3% dari PDB, terutama di tengah kebutuhan belanja pemerintah yang besar dan kenaikan harga energi akibat perang di Timur Tengah.
Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal tersebut juga muncul bersamaan dengan meningkatnya perhatian investor terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah.
Situasi semakin berat ketika dua lembaga pemeringkat kredit internasional, Moody's dan Fitch Ratings, menurunkan prospek atau outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Kondisi tersebut membuat banyaknya pelaku pasar yang melakukan aksi jual terhadap instrumen keuangan Tanah Air.
Ketika investor asing menjual aset rupiah dan memindahkan dananya ke luar negeri, permintaan terhadap valuta asing berpotensi meningkat sehingga menambah tekanan terhadap rupiah.
Huru-hara MSCI Membuat Kepercayaan Investor Terganggu
Selain persoalan fiskal, pasar keuangan Indonesia juga menghadapi masalah serius terkait transparansi dan tata kelola perdagangan saham.
Persoalan ini mulai mencuat pada Januari 2026 ketika Morgan Stanley Capital International (MSCI), lembaga penyedia indeks saham global yang menjadi acuan banyak investor internasional, mempertanyakan keterbukaan informasi kepemilikan saham di Indonesia.
Pada 27 Januari 2026, MSCI mengumumkan pembekuan sementara terhadap sejumlah penyesuaian indeks saham Indonesia.
Keputusan tersebut diambil karena MSCI menilai masih terdapat persoalan dalam transparansi struktur kepemilikan saham, termasuk kekhawatiran adanya perdagangan yang terkoordinasi sehingga harga saham tidak sepenuhnya terbentuk secara wajar.
Pengumuman tersebut langsung mengguncang pasar saham Indonesia. MSCI ketika itu juga memperingatkan bahwa Indonesia berisiko mengalami penurunan klasifikasi dari Emerging Market atau pasar berkembang menjadi Frontier Market apabila perbaikan transparansi tidak menunjukkan kemajuan yang memadai.
Namun, memasuki Oktober, MSCI justru membuka konsultasi untuk mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, kategori yang lebih rendah dibandingkan Frontier Market.
Kondisi tersebut dapat mendorong investor yang mengikuti indeks MSCI untuk mengurangi kepemilikan saham Indonesia dan berpotensi meningkatkan tekanan terhadap rupiah.
Hal inilah yang turut menjelaskan mengapa pelemahan rupiah sepanjang 2026 tidak hanya terjadi terhadap dolar AS, tetapi juga terhadap seluruh delapan mata uang negara tetangga yang dipantau.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)