MARKET DATA

Mata Uang Asia Berguguran: Rupiah - Dolar Taiwan Justru Perkasa

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
21 October 2026 09:50
Karyawan menghitung uang di tempat penukaran uang di money Changer Valuta Artha Mas, Mall Ambasador, Kuningan, Jakarta, (21/6/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Karyawan menghitung uang di tempat penukaran uang di money Changer Valuta Artha Mas, Mall Ambasador, Kuningan, Jakarta, (21/6/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan kembali mendominasi pasar valuta Asia pada perdagangan Rabu (21/10/2026). Meski dolar Amerika Serikat (AS) masih berada di bawah tekanan, sebagian besar mata uang kawasan justru belum mampu memanfaatkannya untuk menguat.

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.23 WIB, tujuh dari 10 mata uang Asia yang dipantau melemah terhadap dolar AS. Hanya tiga mata uang yang berhasil bertahan di zona hijau.

Dolar Taiwan mencatat penguatan paling tajam pagi ini dengan kenaikan 0,13%.

Ringgit Malaysia menyusul dengan penguatan 0,05%. Rupiah juga masih mampu bergerak positif dengan kenaikan tipis 0,02% ke posisi Rp17.977/US$, kembali berada di bawah level psikologis Rp18.000/US$.

Di sisi lain, peso Filipina mengalami tekanan paling dalam setelah melemah 0,25%.

Baht Thailand menyusul dengan penurunan 0,18%, sementara won Korea Selatan melemah 0,10%.

Yen Jepang turun 0,06%, sedangkan yuan China dan dolar Singapura sama-sama terkoreksi 0,04%. Dong Vietnam melemah tipis 0,01%.

Dolar AS sendiri masih belum menemukan tenaga baru pada perdagangan pagi ini. Terlihat dari pergerakan indeks dolar AS (DXY) yang terpantau melemah 0,04% ke posisi 101,745.

Posisi tersebut membuat DXY tetap berada di sekitar level terendah dalam tiga pekan. Pada perdagangan Selasa, indeks dolar AS juga telah turun sekitar 0,20% ke 101,78.

Pelemahan greenback terjadi ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS dan harga minyak ikut turun, sehingga daya tarik dolar sebagai tempat berlindung sementara sedikit berkurang.

Harga minyak sebelumnya turun setelah sempat menyentuh level tertinggi lima bulan. Pasar sedang menimbang peluang meredanya konflik di Timur Tengah setelah pertemuan Presiden Iran dengan panglima militer Pakistan, yang selama ini menjadi salah satu perantara antara AS dan Iran.

Namun, risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Serangan Houthi terhadap infrastruktur Arab Saudi masih berlangsung, sementara laporan serangan terhadap kapal-kapal di kawasan Teluk juga membuat pasar tetap berhati-hati.

Di saat yang sama, membaiknya pasar saham ikut mengurangi sebagian permintaan terhadap dolar sebagai aset aman. Wall Street menguat seiring dimulainya musim laporan keuangan perusahaan teknologi, sementara indeks saham Jepang dan Korea Selatan juga bergerak naik pada Rabu.

"Dengan sentimen pasar saham dan prospek pertumbuhan sangat terkait dengan kinerja perusahaan teknologi besar, laporan keuangan mereka dapat memberikan pengaruh besar terhadap dolar AS," ujar Carol Kong, ekonom dan ahli strategi mata uang Commonwealth Bank of Australia, dikutip dari Reuters.

Kong menilai dolar AS sejauh ini menjadi salah satu aset aman yang paling menonjol. Namun, kebutuhan terhadap greenback sebagai tempat berlindung berpotensi berkurang apabila konflik Timur Tengah mereda dan harga energi turun.

Pasar juga mulai bersiap menghadapi rangkaian keputusan bank sentral pada pekan depan. The Fed, Bank Sentral Eropa, dan Bank of Japan dijadwalkan mengumumkan kebijakan dalam tiga hari berturut-turut mulai Rabu depan.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular