MARKET DATA

Harga Emas Dunia Loyo, Investor - Bandar Dibuat Cemas

mae,  CNBC Indonesia
20 October 2026 07:01
Emas
Foto: Pixabay

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia melemah tertekan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan tingginya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS.

Investor kini menanti keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pekan depan, dengan ekspektasi bank sentral mempertahankan suku bunga.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Senin (19/10/2026) ditutup di posisi US$ 4139,67 per troy ons atau melemah 0,61%.

Pelemahan ini memperpanjang derita emas dengan jatuh dua hari beruntun.

Harga emas masih melemah pada hari ini. Pada Selasa (20/10/2026) pukul 06.47 WIB, harga emas melemah 0,13% ke US$ 4134,33 per troy ons.

Indeks dolar menguat tipis ke 101,98, membuat emas yang dihargakan dalam greenback menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Pada saat yang sama, yield Treasury AS bertenor 10 tahun naik ke 5,14%.

Analis pasar Forex.com, Fawad Razaqzada, mengatakan kekhawatiran bahwa bank sentral perlu kembali memperketat kebijakan moneter untuk mengendalikan inflasi turut mendorong kenaikan yield.

"Ada kekhawatiran bahwa bank sentral harus kembali memperketat kebijakan moneter untuk mengendalikan inflasi. Hal ini semakin mendorong kenaikan imbal hasil obligasi. Dengan yield yang masih tinggi, investor emas mulai mempertanyakan apakah saat ini berinvestasi di pasar obligasi justru lebih menguntungkan," kata Fawad Razaqzada, analis pasar Forex.com, dikutip dari Refinitiv.

The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September, yang merupakan kenaikan pertama sepanjang tahun ini.

"Persoalannya bukan hanya apakah The Fed menaikkan suku bunga pekan depan atau menundanya hingga Desember. Nada pernyataan dan arahan kebijakannya juga akan menentukan. Pesan yang lebih hawkish berpotensi kembali menekan harga emas dalam jangka pendek," tambah Razaqzada.

Dengan yield yang masih tinggi, investor emas mulai mempertimbangkan apakah instrumen obligasi lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil.

The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September lalu, menjadi kenaikan pertama tahun ini.

Menurut Razaqzada, pasar tidak hanya mencermati keputusan suku bunga The Fed pekan depan atau pada Desember, tetapi juga nada pernyataan bank sentral. Pesan yang lebih hawkish berpotensi menekan harga emas dalam jangka pendek.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang sebesar 82,8% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga bulan ini. Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga pada Desember diperkirakan mencapai 90%.

Emas umumnya dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Namun, suku bunga yang lebih tinggi mengurangi daya tarik emas karena tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi.

Investor juga menantikan rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pekan depan, indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed.

Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen, memperkirakan level resistensi utama emas berada di US$4.235 per troy ounce, sementara level dukungan berada di bawah US$4.100 per troy ounce.

"Menurut kami, level resistensi utama emas masih berada di US$4.235 per troy ounce, sementara level dukungan berada di bawah US$4.100 per troy ounce," kata Ole Hansen, Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank.

Harga perak lebih baik disbanding emas.

Merujuk Refinitiv, harga perak ditutup menguat 0,14% ke US$ 57,09 per troy ons pada perdagangan kemarin, Senin (19/10/2026). Penguatan ini menjadi kabar baik setelah harganya melemah 0,8% pada Jumat pekan lalu.

Pada hari ini, Selasa (20/10/2026) pukul 06.45 WIB, harga perak melemah 0,31% ke US$56,91 per troy ons.

(mae/mae)



Most Popular