Dari Sorot Mercusuar ke Layar HP, Bustami Genggam Dunia di Ujung RI
Jakarta, CNNBC Indonesia - Selama hampir 150 tahun, dunia warga Pulau Breueh hanya sejauh sorot sebuah mercusuar kolonial. Dunia pulau seluas 90, 56 km² kini mulai berubah.
Setiap hari, ikan-ikan dari perahu nelayan di Dermaga Seurapong banyak berakhir di catatan Bustami. Dermaga ini adalah salah satu yang aktif di Pulau Breueh.
Ada kerapu, tongkol, tuna, dan yang paling dicari, gurita. Di dermaga kecil di Pulau Breueh, di ujung paling barat Aceh, lelaki berusia 49 tahun itu menimbang, mencatat, lalu mengangkat telepon genggamnya.
Ia menelepon para penampung untuk mencari tahu siapa yang berani membayar paling tinggi hari itu. Dia akan sibuk menelpon rekannya dari Banda Aceh hingga Medan untuk menjual ikan dengan harga terbaik.
Sesekali ia membuka TikTok, akun tempat ia mengabarkan harga ikan kepada siapa pun yang mau mendengar dan melihatnya.
Bustami, panglima Tepin di Pulau Breueh Aceh. (Tiktok/serapong.laju.na via Bustomi) Foto: Bustami, panglima Tepin di Pulau Breueh Aceh. (Tiktok/serapong.laju.na via Bustomi) |
Dari dermaga yang terpencil itu, suaranya kini bisa sampai ke mana saja.
Bagi orang Pulau Breueh, jangkauan sejauh itu adalah hal baru. Selama lebih dari satu abad, batas terjauh yang bisa mereka lihat ditandai oleh sebuah menara tua peninggalan Belanda di ujung pulau, yang cahayanya menyapu laut setiap malam.
Bustami tumbuh besar di bawah sorot cahaya itu. Di bawahnya pula, ia pernah menyaksikan laut merenggut hampir semua yang ia kenal.
Mercusuar itu bernama Willem's Toren III. Letaknya di Desa Meulingge, desa paling barat di Republik Indonesia. Pembangunannya dimulai pada 17 Agustus 1874, hanya setahun setelah Belanda melancarkan agresi militer pertamanya ke Aceh.
Nama Willem's Toren merujuk pada Raja Willem III dari Belanda, yang nama lengkapnya Willem Alexander Paul Frederik Lodewijk. Pada masa pemerintahannya, Belanda memperluas pembangunan infrastruktur, termasuk mercusuar untuk mendukung pelayaran dan perdagangan.
Mercusuar Willem’s Toren di Pulau Breueh (Pulau Beras), Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar. (Dok. dishub.acehprov.go.id) Foto: (Dok. dishub.acehprov.go.id) |
Â
Mercusuar Willem's Toren III di Pulau Breueh, Aceh, disebut sebagai salah satu dari tiga bangunan sejenis yang dibangun pemerintah kolonial Belanda di berbagai belahan dunia. Dua lainnya berada di Belanda, yang kini difungsikan sebagai museum, dan Kepulauan Karibia.
Menara itu tidak dibangun untuk orang-orang pulau. Ia dibangun untuk kapal-kapal yang melintas menuju Selat Malaka, salah satu jalur dagang terpenting di Asia, sekaligus untuk mengawasi laut yang ingin dikuasai sebuah kerajaan di seberang benua.
Mercusuar Willem’s Toren di Pulau Breueh (Pulau Beras), Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar. (Dok. dishub.acehprov.go.id) Foto: (Dok. dishub.acehprov.go.id) |
Pulau ini tidak menerima kehadiran mercusuar itu begitu saja. Pada 1887, pasukan Teungku Chik di Tiro menyerbu fasilitas Belanda di Pulau Breueh dalam pertempuran yang sengit.
Bagi warga pulau, mercusuar itu kelak menjadi semacam batas yang tidak tertulis.
Sorot lampunya menyapu laut sejauh mata dan kaca bisa menjangkau, dan di luar lingkaran cahaya itu dunia seolah berhenti. Banda Aceh, kota terdekat, berjarak sekitar satu setengah jam perjalanan laut ke Pelabuhan Ulee Lheue. Kabar dari luar datang lambat, terbawa perahu, dari mulut ke mulut.
Sebelum ada handphone, penduduk Pulau Breueh bahkan hanya mengandalkan Radio Baiturrahman untuk mengetahui kabar keluarga dari sebrang laut.
"Setiap jam 7 pagi, Radio Baiturrahman ada acara khusus yang memberi kabar siapa saja yang meninggal hari itu. Kami di gampong (kampung) mendengarkan siaran radio itu. Kalau ada tetangga kami atau kerabat yang kami kenal, kami akan mengabari yang lain untuk bersiap berziarah," tutur Misbah.
Misbah menuturkan kadang kabar terlambat diterima sehingga warga tidak bisa berangkat di hari yang sama karena perahu penumpang bernagkat sekitar jam 08.000 pagi.
"Kami pun harus menunggu hari berikutnya untuk ke Banda (Aceh)," imbuhnya.
Lahir dari Jarak
Nama pulau ini lahir dari jarak. Dalam bahasa Aceh, breueh berarti beras. Menurut tutur yang diwariskan turun-temurun, perjalanan ke pulau ini dulu begitu lama sehingga nasi yang dibawa dari daratan akan basi sebelum tiba.
Para pendatang lalu membawa beras mentah dan baru menanaknya setelah menginjak pasir. Kisah itu belum pernah dikonfirmasi oleh catatan etimologis mana pun. Namun ia menyimpan sebuah kebenaran tentang tempat ini: hidup di Pulau Breueh selalu berarti bersiasat melawan jauhnya jarak.
Pulau Breueh. (Dok. Google Maps) Foto: (Dok. Google Maps) |
Â
Pagi 26 Desember 2004, jarak itu tidak lagi berarti apa-apa.
Bustami masih ingat urutannya. Mula-mula terdengar bunyi seperti letusan, lalu gempa besar mengguncang.
Sesudah itu laut surut, mundur jauh dari garis pantai dan memperlihatkan dasar yang seharusnya tak pernah terlihat. Seseorang berteriak, "Lari! Lari!" Mereka berlari, dan di belakang mereka gelombang menjulang tinggi.
"Kami mendengar suara letusan kemudian ada gempa besar, terus kami lihat laut kering sampai jauh. Ada orang kemudian yang teriak, lari!lari. Kami semua lari dan lihat gelombang sangat tinggi. Semua hilang, perahu dan rumah. Kami harus mengungsi dan tidak bisa melaut. Baru dua tahun (setelah tsunami) kami baru bisa mencari ikan lagi. " ujar Bustami, kepada CNBC Indonesia saat menyambangi Pulau Breueh pada akhir September 2026.
Masjid Rahmatullah Lampuuk berdiri utuh setelah tsunami tahun 2004 melanda daerah di Lhoknga, dekat Banda Aceh, Indonesia, 30 Januari 2005. (File/AP/Greg Baker) Foto: Masjid Rahmatullah Lampuuk berdiri utuh setelah tsunami tahun 2004 melanda daerah di Lhoknga, dekat Banda Aceh, Indonesia, 30 Januari 2005. (File/AP/Greg Baker) |
Bustami selamat karena sempat mencapai bukit terdekat. Bersama puluhan warga Seurapong lainnya, ia bertahan di sana hampir sepekan. Mereka makan ubi, singkong, dan kelapa yang bisa ditemukan, tanpa air bersih dan tanpa listrik. Ketika akhirnya turun, yang tersisa hampir tidak ada.
Perahu hilang dan rumah-rumah tak tersisa tersapu ombak besar. Sekitar 3.000 orang, kira-kira 70% penduduk pulau saat itu, meninggal atau tak pernah ditemukan.
Gelombang itu juga menyapu habis jaringan listrik dan telekomunikasi yang memang sejak awal sudah rapuh. Pulau yang selalu jauh dari dunia kini benar-benar terputus.
Selama dua tahun, Bustami dan para nelayan Pulau Breueh tidak bisa melaut. Mereka hidup sebagai pengungsi di tanah sendiri dan memulai semuanya dari nol.
Pulo Breueh, Aceh. (CNBC Indonesia/Maesaroh) Foto: (CNBC Indonesia/Maesaroh) |
Bangun Lebih Kuat
Pulau Breueh dibangun kembali perlahan, dimulai dari satu rumah, satu jalan, dan satu demi satu dermaga beroperasi. Listrik yang sebelum bencana hanya menyala pada malam hari akhirnya hidup 24 jam setelah sebuah pembangkit diesel berdiri di Gugop.
Sinyal datang paling akhir, dan datangnya pun tersendat-sendat. Jaringan telepon memang kembali pada 2007, tetapi kualitasnya buruk.
Pada 16 Agustus 2008, sehari sebelum peringatan kemerdekaan, warga pulau sempat bertatap muka lewat telekonferensi dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Peristiwa itu menjadi momen langka ketika ujung barat negeri benar-benar terdengar hingga pusat. Namun setelah layar dimatikan, sebagian besar pulau kembali sunyi.
Bagi nelayan, kesunyian itu punya harga yang nyata.
Ikan hasil tangkapan diserahkan kepada toke, tengkulak yang menunggu di tengah laut, dengan harga yang ditentukan sepihak. Tidak ada cara untuk membandingkan harga. Di laut lepas, ancamannya bahkan lebih gelap.
Pulo Breueh, Aceh. (CNBC Indonesia/Maesaroh) Foto: (CNBC Indonesia/Maesaroh) |
Pulau Breueh berbatasan langsung dengan Samudra Hindia, dan Bustami masih ingat kisah nelayan-nelayan yang dulu tersesat terbawa arus hingga Kepulauan Andaman di India, bahkan lebih jauh lagi.
Jika mesin mati di tengah laut, tidak ada yang bisa dihubungi. Satu-satunya pegangan hanyalah arah, doa, dan cahaya menara di kejauhan.
Gelombang yang Lebih Tenang
Perubahan datang dalam gelombang yang jauh lebih tenang. Operator swasta masuk pada 2012 dan sinyal mulai menguat, meski banyak sudut Pulo Aceh masih menjadi blank spot.
Pada 2019, pemerintah daerah mendorong perluasan jaringan secara besar-besaran. BAKTI Komdigi mendirikan menara pemancar (BTS) di Desa Alue Raya.
Kini empat  BTS berdiri di pulau itu, menara-menara baja yang tidak memancarkan cahaya tetapi menjangkau jauh lebih luas daripada sorot mercusuar mana pun.
Pulo Breueh, Aceh. (CNBC Indonesia/Maesaroh) Foto: (CNBC Indonesia/Maesaroh) |
Pada 2022, BAKTI membuka 24 titik akses internet di Pulo Aceh, tersebar di sekolah-sekolah hingga kantor pemerintahan. Menurut data Badan Pusat Statistik, kini seluruh desa di Kecamatan Pulo Aceh sudah terjangkau sinyal internet, meski kecepatannya berbeda-beda.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan semua desa di Kecamatan Pulo Aceh, termasuk di Pulau Breuh sudah bisa menjangkau sinyal internet meskipun dengan tingkat kecepatan yang berbeda.
Bagi Basri, nelayan berusia 50 tahun, perubahan itu terasa paling nyata di meja tawar-menawar.
"Dulu kami serahkan ikan saja ke toke (penjual/tengkulak) yang ada di laut. Harga kami terima saja. Sekarang bisa cek-cek harga di HP jadi bisa nawar lebih tinggi," ujar nelayan berusia 50 tahun tersebut.
Dulu ia menerima saja harga dari toke. Sekarang ia memeriksa harga di telepon genggamnya sebelum menjual, sehingga ia bisa menawar lebih tinggi.
Gurita, tangkapan paling berharga, bisa laku hingga Rp 90.000 per kilogram. Sebelum berangkat, ia juga mengecek kondisi laut, dan di sela pekerjaannya ia bisa mengabari keluarga di rumah.
Buwaizhi, nelayan lainnya, menyebut sinyal itu sebagai sumber ketenangan.
"Jaringan internet sangat membantu. Di tempat kami mencari ikan, masih ada internet jadi kalau kami mogok mesin atau musibah di laut bisa minta bantuan dari darat,"ujarnya.
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat hasil tangkapan terbesar di Kabupaten Aceh Besar, termasuk didalamnya Pulau Breuh adalah tongkol.
Produksi perikanan Aceh Besar Foto: KKP |
Di perairan tempatnya mencari ikan, jaringan masih menjangkau. Jika mesin mogok atau terjadi musibah, ia kini bisa meminta pertolongan ke darat, kepada kawan, kerabat, atau petugas dermaga. Laut yang dulu menelan nelayan hingga Andaman kini punya benang yang terhubung ke daratan.
Tosim, nelayan yang lain lagi, menikmati hal-hal yang lebih kecil. Ada hiburan di sela jam-jam panjang di atas perahu, dan ada kabar terbaru tentang riuhnya politik di ibu kota yang jaraknya ribuan kilometer.
Lalu ada Bustami. Ia kini menjabat panglima teupin, pemimpin adat yang mengkoordinasikan para nelayan di tingkat dermaga, di bawah Panglima Laot yang membawahi lima dermaga di pulau itu.
Bustami, panglima Tepin di Pulau Breueh Aceh. (Tiktok/serapong.laju.na via Bustomi) Foto: Bustami, panglima Tepin di Pulau Breueh Aceh. (Tiktok/serapong.laju.na via Bustomi) |
Ia juga menjadi pengepul ikan di Dermaga Seurapong. Telepon genggam memudahkan dua peran itu, mulai dari menyelesaikan persoalan para nelayan hingga menelepon para penampung. Menurutnya, harga ikan kini lebih baik karena mereka bisa menjual kepada pembeli yang berani membayar lebih. Dalam daftar penjualan yang ia pegang hari itu, pendapatan para nelayan berkisar antara Rp 250.000 hingga Rp 1,7 juta per perahu.
Lelaki yang dulu bertahan seminggu di atas bukit dengan singkong dan kelapa itu kini berjualan lewat TikTok.
Willem's Toren III masih berdiri di Meulingge. Ia dibangun oleh sebuah kekuasaan yang ingin mengawasi laut, lalu bertahan melewati perang, kemerdekaan, dan gelombang yang meratakan hampir seluruh pulau.
Selama lebih dari satu abad, cahayanya menjadi batas terjauh dunia yang bisa dilihat warga Pulau Breueh.
Di balik sorot itu ada kapal-kapal asing, kota-kota yang tak pernah mereka datangi, dan sebuah negeri yang hanya mereka dengar dari kabar yang datang terlambat.
Laut tetap menjadi nadi pulau ini. Sekitar 3.100 orang yang kini tinggal di sana, sebagian besar nelayan, masih bangun sebelum fajar dan pulang membawa kerapu atau tongkol, seperti para leluhur mereka. Yang berubah adalah jarak pandang mereka.
Dulu, dunia sejauh sorot mercusuar. Kini, dunia menyala di layar kecil di saku Bustami, kapan saja ia mau melihatnya.
(mae/mae)








