MARKET DATA
Review Sepekan

Timur Tengah Makin Panas, Harga Minyak Global Mendidih Lagi

Chandra Dwi Pranata,  CNBC Indonesia
17 October 2026 10:45
FILE PHOTO: A maze of crude oil pipes and valves is pictured during a tour by the Department of Energy at the Strategic Petroleum Reserve in Freeport, Texas, U.S. June 9, 2016.  REUTERS/Richard Carson/File Photo
Foto: Ilustrasi: Labirin pipa dan katup minyak mentah di Strategic Petroleum Reserve di Freeport, Texas, AS 9 Juni 2016. REUTERS / Richard Carson / File Foto

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak kembali menguat saat investor mulai mempertimbangkan risiko ketegangan di Timur Tengah yang masih terjadi hingga saat ini.

Merujuk Refinitiv, pada perdagangan Jumat (16/10/2026), harga minyak Brent ditutup pada level US$109,86 per barel, terbang 3,72%. Sedangkan harga minyak jenis light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) meroket 3,51% di posisi US$101,41 per barel.

Sepanjang pekan ini, harga Brent sudah terbang 4,91%. Sedangkan harga WTI meroket 10,41% secara point-to-point.

Harga minyak global mulai kembali terbang setelah penarikan saham minyak mentah Amerika Serikat (AS) yang besar membantu mendukung harga.

Badan Energi Internasional (IEA) sepakat untuk melepas lebih dari 20 juta barel diesel ke pasar dan sisa minyak dari pelepasan cadangan darurat yang dijanjikan pada Maret lalu untuk meningkatkan pasokan dan menekan harga yang melonjak.

"Selama sesi perdagangan sebelumnya, harga minyak naik semalam sebagai tanda bahwa investor tidak puas dengan langkah-langkah ini," kata Haitong Futures, dikutip dari Reuters, Sabtu (17/10/2026)

"Yang benar-benar akan mendinginkan pasar minyak adalah meredanya ketegangan di Timur Tengah," tambahnya.

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan untuk mencabut sanksi terhadap beberapa kapal yang disebut armada bayangan yang mengangkut minyak dan produk minyak dari negara-negara termasuk Rusia, Iran, dan Venezuela, dalam upaya mengurangi tarif pengiriman global tertinggi

Diskusi ini terjadi beberapa hari setelah Trump sementara mencabut sanksi terhadap bahan bakar diesel Rusia, sebuah langkah yang mendapat banjir kritik dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy, negara-negara Eropa, dan beberapa rekan Trump dari Partai Republik di Senat AS.

Sementara itu, konflik yang meningkat antara Arab Saudi dan Houthi Yaman serta serangan ulang terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut. Serangan ini pun mendukung kenaikan harga minyak lebih lanjut.

Serangan di sekitar jalur air telah meningkat dalam 10 hari terakhir, dengan Iran mengatakan bahwa mereka meningkatkan serangan sebagai respons terhadap blokade AS terhadap pelabuhannya dan sanksi yang lebih ketat yang diberlakukan bulan lalu.

Houthi menembakkan rudal ke kompleks istana presiden di kota Aden selatan, menewaskan dua penjaga, sementara koalisi pimpinan Saudi di Yaman merinci puluhan serangan terhadap infrastruktur Saudi dalam konflik yang semakin meningkat.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(chd/chd)



Most Popular