MARKET DATA
Review Sepekan

Harga Emas Ambruk Sepekan, The Fed Bisa Makin Galak

Chandra Dwi Pranata,  CNBC Indonesia
17 October 2026 07:35
Emas. (Dok. Pexel)
Foto: Emas. (Dok. Pexel)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas terpantau melemah sepanjang pekan ini, di tengah sikap pasar yang mempertimbangkan prospek kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) lebih lanjut tahun ini karena serangkaian data inflasi AS yang lebih panas dari perkiraan.

Merujuk Refinitiv, harga emas di perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (17/10/2026) ditutup di posisi US$4.165 per troy ons, melemah 0,13% dari perdagangan sehari sebelumnya. Sepanjang pekan ini, harga emas terkoreksi 0,69% secara point-to-point (ptp).

"Kami sangat berada dalam rentang dan condong ke batas bawah dukungan, alasan utamanya adalah kami masih memiliki banyak ambiguitas tentang apa yang akan dilakukan Fed," kata Bart Melek, kepala strategi komoditas global di TD Securities, dikutip dari Reuters, Sabtu (17/10/2026).

Ketua bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) Kevin Warsh menyuarakan optimisme tentang kekuatan ekonomi AS, tetapi tidak memberikan petunjuk tentang arah suku bunga bank sentral.

Sementara itu, data terbaru yang dirilis Kamis waktu setempat menunjukkan inflasi produsen AS meningkat paling tinggi dalam 4 setengah tahun. Data tersebut mengikuti laporan inflasi konsumen yang menunjukkan harga meningkat pada September 2026.

Presiden The Fed Bank of Chicago, Austan Goolsbee, mengatakan data tersebut "mengecewakan", sementara Presiden The Fed Bank of Cleveland, Beth Hammack, mengatakan The Fed mungkin perlu menaikkan suku bunga lebih agresif jika terjadi penurunan signifikan dalam ekspektasi inflasi publik.

Pasar sebagian besar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap stabil bulan ini, sambil memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 90% pada Desember 2026, berdasarkan perangkat CME FedWatch.

Meskipun emas biasanya dianggap sebagai lindung nilai inflasi, tetapi suku bunga yang lebih tinggi cenderung mengurangi daya tarik logam tanpa imbal hasil tersebut.

"Selama sisa tahun ini, harga emas kemungkinan akan turun sedikit karena The Fed terus menaikkan suku bunga dan kekhawatiran di akhir masa kejayaan AI terbukti bersifat sementara," kata Hamad Hussain, ekonom iklim dan komoditas di Capital Economics.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(chd/chd)



Most Popular