MARKET DATA

Jadi Titik Panas, Ini Perbedaan Laut Merah-Hitam-Mati dan Selat Hormuz

Salma Laiqa,  CNBC Indonesia
17 October 2026 21:00
Ledakan terjadi di dek kapal tanker minyak berbendera Yunani Sounion di Laut Merah, dalam gambar selebaran yang dirilis pada 29 Agustus 2024. (Houthi Military Media/Handout via REUTERS)
Foto: Ledakan terjadi di dek kapal tanker minyak berbendera Yunani Sounion di Laut Merah, dalam gambar selebaran yang dirilis pada 29 Agustus 2024. (via REUTERS/Houthi Military Media)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan geopolitik Timur Tengah kembali memanas. Kelompok Houthi di Yaman pada pekan ini mengancam akan melanjutkan serangan terhadap bandara dan fasilitas minyak Arab Saudi, meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan energi dunia.

Mengutip Reuters, ancaman tersebut muncul sehari setelah serangan menghantam kantor pusat Saudi Aramco di Dhahran, menyebabkan kerusakan luas dan kebakaran di beberapa lantai. Sebelumnya, serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Sabtu (10/10/2026) juga menewaskan 13 orang.

Houthi menyebut serangan tersebut sebagai balasan atas operasi militer Arab Saudi di Yaman, di tengah konfrontasi Amerika Serikat (AS) dan Iran yang makin meningkatkan ketidakpastian kawasan Teluk.

Eskalasi konflik turut menekan pasar energi global. International Energy Agency (IEA) pada Rabu (14/10/2026) memperingatkan bahwa pasokan diesel dunia berpotensi tetap ketat hingga 2027, setelah ekspor dari Timur Tengah dan Rusia berkurang 1,3 juta barel per hari pada September 2026.

Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya sejumlah kawasan strategis bagi perdagangan dunia, mulai dari Laut Merah dan Selat Hormuz sebagai jalur pengiriman energi, hingga Laut Hitam yang berperan dalam distribusi minyak dan pangan.

Sementara itu, Laut Mati memiliki peran ekonomi berbeda melalui industri mineral dan pariwisata, meskipun bukan jalur pelayaran internasional.

Lantas, bagaimana peran masing-masing kawasan tersebut dan dampak konflik terhadap perekonomian dunia, termasuk Indonesia?

Laut Hitam, Jalur Strategis Pangan dan Minyak

Laut Hitam (Black Sea) terletak di antara Eropa Timur dan Asia Barat, berbatasan dengan Rusia, Ukraina, Turki, Georgia, Bulgaria, dan Rumania. Laut ini terhubung dengan Mediterania melalui Selat Bosporus dan Dardanella di Turki.

Kawasan ini menjadi jalur penting perdagangan pangan dan minyak. Menurut U.S. Energy Information Administration (EIA), sekitar 3,7 juta barel minyak per hari melintasi Selat Dardanella pada semester I-2025.

Namun, perang Rusia-Ukraina kembali mengganggu aktivitas pelayaran. Mengutip Reuters, serangan drone terhadap kapal dagang di dekat Bulgaria pada Selasa (13/10/2026) menyebabkan satu kapal tenggelam dan 11 awak hilang.

Gangguan tersebut turut menekan perdagangan gandum dunia. Menurut S&P Global Energy, pembeli dari Mesir hingga Bangladesh menghadapi keterbatasan pasokan dan kenaikan biaya pengiriman.

Dampaknya semakin luas mengingat sejumlah negara bergantung pada pasokan gandum Rusia dan Ukraina. Pada 2024, sebanyak 97,6% impor gandum Turki berasal dari kedua negara tersebut, disusul Mesir (82,2%), Kenya (81,5%), dan Indonesia (29,6%).

Sejak gangguan meningkat pada Juli, biaya pembelian gandum dalam tender pemerintah naik dibandingkan sebelum gangguan, antara lain Arab Saudi sebesar US$63 per ton, Yordania US$57, Aljazair US$56, dan Tunisia US$45.

Sementara itu, porsi ekspor gandum Ukraina melalui jalur laut menyusut dari 98% pada Juli-September 2025 menjadi 78% pada periode yang sama tahun ini.

Selain pangan, Laut Hitam juga menjadi koridor ekspor minyak melalui Caspian Pipeline Consortium (CPC), yang menghubungkan ladang minyak Kazakhstan dengan terminal dekat Novorossiysk, Rusia.

Kondisi ini menunjukkan bagaimana konflik Laut Hitam dapat meningkatkan risiko pasokan dan biaya perdagangan pangan maupun energi dunia.

Laut Merah, Penghubung Asia dan Eropa

Laut Merah (Red Sea) terletak di antara Afrika dan Jazirah Arab, serta terhubung dengan Laut Mediterania melalui Terusan Suez di utara dan Samudra Hindia melalui Selat Bab el-Mandeb di selatan.

Posisi tersebut menjadikan Laut Merah sebagai salah satu koridor perdagangan utama Asia-Eropa, memungkinkan kapal menghindari perjalanan lebih jauh mengitari Afrika.

Menurut U.S. Energy Information Administration (EIA), sekitar 4,2 juta barel minyak per hari melewati Bab el-Mandeb pada semester I-2025, turun dari 9,3 juta barel per hari pada 2023 akibat gangguan keamanan.

Kawasan ini juga didukung SUMED Pipeline di Mesir, yang menghubungkan Laut Merah dengan Mediterania, serta East-West Pipeline Arab Saudi yang menyalurkan minyak menuju pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah.

Peran Yanbu semakin penting sepanjang 2026. Data pemuatan minyak Arab Saudi menunjukkan ekspor melalui Ras Tanura di Teluk Persia menurun tajam sejak Maret, sementara Yanbu di Laut Merah menjadi jalur ekspor utama.

Ekspor Minyak Arab Saudi Beralih ke Laut MerahEkspor Minyak Arab Saudi Beralih ke Laut Merah Foto: LSEG Shipping Research

Pergeseran jalur ekspor tersebut turut memperkuat pentingnya aktivitas tanker di Laut Merah. Data LSEG Shipping Research menunjukkan jumlah tanker yang terpantau sempat melampaui 500 kapal pada awal April 2026, sebelum berfluktuasi pada level lebih rendah hingga September.

Jumlah kapal tanker minyak yang terpantau di Laut Merah dan Teluk Aden sepanjang Januari–September 2026. Aktivitas pelayaran berfluktuasi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik kawasan.Jumlah kapal tanker minyak yang terpantau di Laut Merah dan Teluk Aden sepanjang Januari–September 2026. Aktivitas pelayaran berfluktuasi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik kawasan. Foto: LSEG Shipping Research

Meski demikian, serangan Houthi meningkatkan risiko keamanan pelayaran di kawasan tersebut. Kapal yang memilih mengitari Tanjung Harapan di Afrika menghadapi waktu pengiriman lebih panjang dan biaya logistik lebih tinggi.

Selat Hormuz, Nadi Perdagangan Dunia

Selat Hormuz berada di antara Iran dan Oman, menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.

Jalur ini sangat penting bagi perdagangan minyak dan LNG dari Arab Saudi, Irak, Kuwait, UEA, dan Qatar.

Menurut EIA, sekitar 20,9 juta barel minyak per hari melintasi Selat Hormuz pada semester I-2025, setara sekitar seperlima konsumsi minyak global.

Namun, konflik Timur Tengah menekan volume pengiriman. Arus minyak melalui Hormuz turun dari sekitar 21,6 juta barel per hari pada kuartal IV-2025 menjadi 4,9 juta barel per hari pada kuartal II-2026.

IEA mencatat pengiriman mulai pulih menjadi sekitar 10,9 juta barel per hari pada September, meskipun masih dibayangi serangan terhadap infrastruktur energi.

Untuk mengurangi ketergantungan pada Hormuz, Arab Saudi mengandalkan East-West Pipeline, sedangkan UEA memiliki Abu Dhabi Crude Oil Pipeline (ADCOP) menuju Fujairah di Teluk Oman.

Meski demikian, kapasitas jalur alternatif tersebut belum mampu sepenuhnya menggantikan perdagangan minyak dan LNG yang melewati Hormuz.

Laut Mati, Kaya Mineral Meski Bukan Jalur Perdagangan

Berbeda dengan ketiga kawasan sebelumnya, Laut Mati (Dead Sea) merupakan danau air asin yang terkurung daratan, terletak di antara Yordania, Israel, dan Tepi Barat Palestina.

Laut Mati tidak terhubung dengan samudra sehingga bukan jalur pelayaran internasional.

Nilai strategisnya terletak pada industri mineral, khususnya potash untuk pupuk dan bromin untuk kebutuhan industri kimia, serta sektor pariwisata.

Konflik Timur Tengah dapat memengaruhi aktivitas pariwisata dan investasi kawasan secara tidak langsung. Namun, ancaman jangka panjang lainnya adalah penyusutan permukaan air akibat penggunaan sumber daya air dan aktivitas industri.

Dampak ke Indonesia hingga Ancaman Kemanusiaan

Gangguan perdagangan di berbagai jalur tersebut turut membawa risiko bagi Indonesia, khususnya melalui kenaikan biaya energi, logistik, dan bahan baku pangan.

Sebagai importir neto minyak dan BBM, Indonesia menghadapi risiko meningkatnya biaya impor migas, tekanan inflasi, serta beban subsidi energi dalam APBN. Gangguan Laut Merah juga dapat memperpanjang rute pengiriman barang menuju Eropa, sementara ketidakpastian Laut Hitam berpotensi memengaruhi harga gandum dan minyak nabati.

Namun, dampak konflik tidak berhenti pada perekonomian. Reuters melaporkan rumah sakit di Yaman semakin kewalahan menghadapi korban perang, sementara World Food Programme (WFP) menyebut bantuan kemanusiaan terputus bagi lebih dari 600.000 penduduk di Taiz, termasuk lebih dari 200.000 perempuan dan anak-anak.

Ke depan, IEA memperkirakan pasar diesel masih menghadapi keketatan hingga semester pertama 2027. Pemulihan kilang menjelang akhir tahun ini diperkirakan belum cukup menggantikan pasokan yang hilang akibat konflik.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keamanan jalur perdagangan dunia bukan hanya persoalan menjaga arus barang dan stabilitas harga. Di balik terganggunya perdagangan energi dan pangan, terdapat jutaan manusia yang keselamatannya turut dipertaruhkan.

(slm/luc)



Most Popular