MARKET DATA

Asia Tak Kompak Lawan Dolar AS: Yen Menguat Rupiah-Won Tersungkur

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
15 October 2026 10:05
Mata uang Rupiah, Yuan, dan Won. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Mata uang Rupiah, Yuan, dan Won. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia bergerak tidak seragam dalam menghadapi kekuatan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Kamis (15/10/2026). 

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.25 WIB, dari 10 mata uang Asia yang dipantau, sebanyak enam mata uang menguat terhadap dolar AS, sementara empat lainnya melemah.

Yen Jepang menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam pagi ini setelah naik 0,37% ke posisi JPY157,73/US$.

Dolar Singapura menyusul dengan kenaikan 0,22%, sementara baht Thailand menguat 0,12%. Dong Vietnam naik 0,04%, ringgit Malaysia 0,02%, dan yuan China menguat tipis 0,01%.

Di sisi lain, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam setelah merosot 0,92% ke KRW1.350,73/US$.

Dolar Taiwan melemah 0,44%, disusul peso Filipina yang turun 0,41%.

Rupiah juga belum mampu memanfaatkan pelemahan dolar AS. Mata uang Garuda terkoreksi 0,27% ke posisi Rp17.943/US$.

Dolar AS kehilangan cukup banyak tenaga pada perdagangan pagi ini. Indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah 0,58% ke posisi 101,960.

Pelemahan tersebut terjadi setelah greenback sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam 18 bulan. Menariknya, dolar justru turun meski data inflasi AS yang dirilis semalam lebih tinggi dari perkiraan.

Inflasi inti AS pada September naik 0,3% secara bulanan, lebih tinggi dari perkiraan ekonom sebesar 0,2%. Secara tahunan, inflasi inti mencapai 2,6%, juga di atas perkiraan 2,5%.

Sementara inflasi umum AS naik menjadi 3,7% secara tahunan, lebih tinggi dari perkiraan 3,6%.

Data tersebut sempat membuat pasar kembali memperbesar peluang kenaikan suku bunga The Federal Reserve/The Fed pada Oktober menjadi sekitar 50%.

Namun, sentimen tersebut tidak berlangsung lama. Sejumlah pejabat The Fed justru memberikan pernyataan yang lebih hati-hati dan menilai bank sentral masih bisa menunggu data tambahan sebelum kembali menaikkan suku bunga.

"Meski angka inflasi secara keseluruhan sedikit lebih tinggi dari perkiraan, pasar tampaknya menilai data tersebut belum cukup panas untuk memaksa The Fed menaikkan suku bunga pada Oktober," ujar Khoon Goh, kepala riset Asia ANZ, dikutip dari Reuters.

Komentar tersebut membuat ekspektasi kenaikan bunga Oktober kembali berkurang dan ikut menekan dolar AS.

Dolar juga kehilangan dukungan dari pasar obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke 5,1267%, level terendah dalam tiga pekan. Imbal hasil tenor 30 tahun berada di sekitar 5,4795%.

Penurunan imbal hasil membuat daya tarik aset berdenominasi dolar sedikit berkurang.

"Penguatan dolar AS kehilangan tenaga karena penurunan imbal hasil Treasury setelah sempat melonjak pada awalnya mengurangi dorongan dari sisi suku bunga," ujar Sim Moh Siong, ahli strategi valuta OCBC.

Perhatian pasar selanjutnya akan beralih ke data harga produsen dan penjualan ritel AS yang dijadwalkan dirilis Kamis waktu setempat. Data tersebut akan memberi petunjuk tambahan mengenai tekanan harga dan kondisi konsumsi sebelum The Fed menggelar rapat pada 27-28 Oktober.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular