Asia Terbelah: Won - Ringgit Bersinar, Rupiah - Yen Ambruk
Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan mata uang Asia pagi ini belum bergerak dalam satu arah dalam melawan dolar Amerika Serikat (AS).
Pada perdagangan Rabu (14/10/2026), melansir dari Refinitiv per pukul 09.20 WIB, dari 10 mata uang Asia, lima diantaranya berhasil menguat dan sisanya masih harus mengalami tekanan dari greenback.
Won Korea Selatan menjadi mata uang di Asia dengan penguatan paling tajam pagi ini. Won menguat 0,31% terhadap dolar AS atau terapresiasi ke level KRW 1.337,2/US$.
Dong Vietnam ikut menyusul dengan apresiasi 0,12%, sementara ringgit Malaysia juga tampil ciamik dengan penguatan 0,09%. Dolar Taiwan menguat 0,05% dan yuan China menguat tipis 0,03%.
Di sisi lain, baht Thailand menjadi mata uang di Asia dengan tekanan yang paling besar setelah mengalami depresiasi 0,09%.
Yen Jepang pun ikut terkoreksi sebesar 0,08%. Sementara itu, mata uang Garuda juga masuk dalam daftar mata uang Asia yang melemah. Rupiah terkoreksi 0,06% ke posisi Rp17.895/US$ pada pagi ini.
Dolar Singapura dan peso Filipina juga sama-sama melemah tipis 0,06%.
Dolar AS masih menjadi faktor utama yang membuat dinamika pergerakan mata uang di Asia pada pagi ini. Indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah tipis 0,04% ke posisi 102,139.
Koreksi tersebut melanjutkan pelemahan pada perdagangan Selasa, ketika DXY turun sekitar 0,35%. Dolar mulai kehilangan sebagian tenaganya setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam 18 bulan.
Penurunan harga minyak menjadi salah satu faktor yang mengurangi dorongan bagi greenback. Pada saat yang sama, investor mulai menilai kembali seberapa agresif The Federal Reserve/The Fed perlu menaikkan suku bunga ke depan.
Fokus utama pasar kini tertuju pada data inflasi konsumen AS yang akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan The Fed.
"Risikonya adalah inflasi inti secara mengejutkan lebih tinggi karena permintaan konsumen yang kuat dan biaya yang meningkat. Hal itu dapat meningkatkan perkiraan pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober dan mendorong dolar AS," ujar Carol Kong, ahli strategi mata uang Commonwealth Bank of Australia, dikutip dari Reuters.
Inflasi AS pada September diperkirakan naik 0,6% secara bulanan, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,4% pada Agustus. Secara tahunan, inflasi diperkirakan meningkat menjadi 3,6% dari sebelumnya 3,4%.
Angka tersebut akan menjadi penting karena pasar belakangan justru semakin memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada akhir bulan.
Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 77% The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27-28 Oktober. Angka tersebut meningkat dari 51% sebulan sebelumnya.
Ekspektasi kenaikan bunga bulan ini mulai berkurang setelah sejumlah pejabat The Fed meminta lebih banyak bukti sebelum memutuskan pengetatan tambahan.
Presiden The Fed New York John Williams pada Selasa juga mengatakan dirinya masih memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga lagi pada tahun ini, tetapi tidak melihat kebutuhan kenaikan tambahan pada 2027.
Gubernur The Fed Christopher Waller turut mengatakan ekspektasi inflasi masih cukup terkendali.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)