MARKET DATA

Harga Batu Bara Rekor Tertinggi Hampir 3 Tahun, Dunia Butuh Indonesia

mae,  CNBC Indonesia
14 October 2026 07:15
Kapal tongkang Batu Bara (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Kapal tongkang Batu Bara (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melesat ke level tertinggi hampir dalam tiga tahun. Tingginya harga gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) akibat gangguan pasokan yang terkait dengan konflik di Timur Tengah terus mendorong peralihan ke pembangkit listrik berbahan bakar batu bara.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Selasa (13/10/2026) ditutup di posisi U$ 153,1 per ton atau menguat 1,03%.

Kenaikan ini memperpanjang reli batu bara dengan melesat 1,8% dalam tiga hari terakhir.

Harga batu bara pada Selasa juga menjadi yang tertinggi sejak 8 Desember 2023 atau hampir tiga tahun.

Lonjakan harga batu bara dipicu kenaikan harga gas serta kekurangan pasokan dari Indonesia.

Dengan harga batu bara saat ini sekitar 80% lebih murah dibandingkan LNG, pembeli di Asia dan Eropa meningkatkan impor menjelang musim dingin.

Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) pada September juga memperkirakan permintaan batu bara global akan mencapai rekor tertinggi tahun ini.

Proyeksi tersebut muncul meskipun berbagai upaya transisi menuju energi yang lebih bersih terus berlangsung dan sejumlah pembangkit listrik tenaga batu bara ditutup di Eropa serta Amerika Utara.

 

Sementara itu, Indonesia sebagai eksportir batu bara terbesar di dunia memperketat pembatasan ekspor, yang berkontribusi terhadap penurunan pengiriman batu bara. Indonesia adalah eksportir terbesar batu bara thermal yang digunakan sebagai bahan bakar batu bara.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat volume ekspor batu bara Indonesia pada periode Januari sampai Agustus 2026 anjlok 9,33% ke 227,7 juta ton.

Laporan dari Kpler menunjukkan ekspor pada Agustus 2026 hanya mencapai 36,1 juta ton atau anjlok 25,3% dibandingkan Agustus tahun sebelumnya.

IEA memperkirakan produksi batu bara Indonesia akan turun lebih dari 12 juta ton tahun ini, dipengaruhi oleh penurunan kuota produksi dan ketidakpastian kebijakan.

India Kejar Listrik Batu Bara

India kemungkinan membutuhkan kapasitas pembangkit listrik berbasis batu bara yang jauh lebih besar dari rencana sebelumnya seiring meningkatnya permintaan listrik.

Ketua Central Electricity Authority (CEA) Ghanshyam Prasad mengatakan, kebutuhan tambahan kapasitas batu bara dapat mencapai 105-150 gigawatt (GW), melampaui target sebelumnya sebesar 97 GW. Pemerintah tetap memperluas energi terbarukan sembari memprioritaskan keandalan pasokan listrik dan stabilitas jaringan.

 

India mungkin perlu meningkatkan kapasitas pembangkit listrik berbasis batu bara secara signifikan melampaui proyeksi sebelumnya. Hal ini terjadi karena konsumsi listrik yang terus meningkat memberikan tekanan lebih besar terhadap infrastruktur energi negara tersebut.

Dikutip dari Reuters, Ketua CEA Ghanshyam Prasad pada Selasa mengatakan, kebutuhan tambahan kapasitas pembangkit batu bara dapat mencapai 105 GW hingga 150 GW, dibandingkan rencana sebelumnya sebesar 97 GW.

Saat ini, India memiliki kapasitas pembangkit listrik berbasis batu bara sekitar 230 GW. Proyeksi sebelumnya memperkirakan kapasitas tersebut akan meningkat menjadi 307 GW pada 2035.

Berbicara dalam sebuah acara Kamar Dagang India, Prasad menekankan pentingnya pembangkit listrik yang andal untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat.

Permintaan Listrik Meningkat

Prasad mengatakan, permintaan listrik puncak harian saat ini sekitar 45-50 GW lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Curah hujan monsun yang lebih rendah mengurangi ketersediaan listrik tenaga air, sehingga meningkatkan ketergantungan pada pembangkit listrik termal untuk menjaga pasokan listrik.

 

Data pemerintah menunjukkan, kekurangan pasokan listrik India mencapai 560 juta kilowatt-jam (kWh) pada September, tertinggi sejak Agustus 2023.

Pembangkit listrik berbasis batu bara meningkat 13,3% secara tahunan pada September, seiring pembangkit termal merespons kenaikan konsumsi listrik.

Sementara itu, produksi listrik tenaga air turun 20% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Perkembangan ini menyoroti tantangan India dalam menyeimbangkan peningkatan kebutuhan listrik dengan transisi menuju sumber energi yang lebih bersih.

Prasad mengindikasikan bahwa pembangkit listrik konvensional yang andal akan tetap dibutuhkan seiring India memperluas infrastruktur ketenagalistrikannya.

(mae/mae)



Most Popular