MARKET DATA

Ini Bandara Arab Saudi yang Sering Digunakan Jamaah Umrah & Haji

Zhafa Yuda Rehema,  CNBC Indonesia
13 October 2026 18:35
Bandara Riyadh diserang Houthi, Kamis (8/10/2026). (Social Media via REUTERS/Social Media)
Foto: Bandara Riyadh diserang Houthi, Kamis (8/10/2026). (Social Media via REUTERS/Social Media)

Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan terhadap bandara di Arab Saudi meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan penerbangan dan perjalanan jemaah umrah ke Tanah Suci.

Salah satu serangan terbesar terjadi pada Sabtu (10/10/2026) Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menewaskan sedikitnya 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang.

Serangan kelompok Houthi yang menargetkan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menambah ketegangan di kawasan Timur Tengah. Situasi ini berpotensi mengganggu jadwal penerbangan, memicu pengalihan rute, hingga menyebabkan keterlambatan perjalanan jika risiko keamanan meluas.

Rekaman pengawasan menunjukkan orang-orang mengantre tepat sebelum serangan terjadi di Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, 10 Oktober 2026. (Saudi Ministry of Media/Handout via REUTERS)Rekaman pengawasan menunjukkan orang-orang mengantre tepat sebelum serangan terjadi di Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, 10 Oktober 2026. (Saudi Ministry of Media/Handout via REUTERS) Foto: via REUTERS/Saudi Ministry of Media

Reuters melaporkan Bandara King Khalid di Riyadh ditutup hingga setidaknya 17 Oktober 2026 setelah serangkaian serangan rudal dan drone.

Sejumlah maskapai internasional juga membatalkan atau menangguhkan layanan ke Saudi. Serangan ini dikhawatirkan bisa mengganggu penerbangan umrah dan haji.

Bandara Mana Saja Buat Umrah dan Haji?

Arab Saudi memiliki enam bandara internasional yang ditetapkan untuk melayani jemaah haji, yakni Bandara King Abdulaziz di Jeddah, Prince Mohammad bin Abdulaziz di Madinah, King Khalid di Riyadh, King Fahd di Dammam, Taif, dan Prince Abdulmohsin bin Abdulaziz di Yanbu.

Keenam bandara itu menjadi bagian dari sistem kedatangan dan kepulangan jemaah. Jeddah dan Madinah memiliki peran langsung dalam perjalanan menuju Makkah dan Madinah, sementara empat bandara lainnya memperluas pilihan pintu masuk dan mendukung distribusi perjalanan jemaah.

Data pemerintah Arab Saudi melalui DataSaudi mencatat jumlah jamaah umrah pada 2025 mencapai 43,08 juta, baik oleh jemaah domestik maupun internasional. Sebanyak 73,7% diantaranya merupakan negara non-saudi.

Selain itu, Otoritas penerbangan sipil Saudi mencatat lebih dari 1,48 juta jemaah pada musim haji tiba melalui jalur udara. Secara keseluruhan, lebih dari 9,52 juta penumpang masuk melalui pintu udara selama fase kedatangan, dengan dukungan 60.625 penerbangan dari 86 maskapai.

Dalam kondisi normal, Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah menjadi bandara tersibuk di antara enam bandara yang masuk dalam perbandingan ini, dengan volume sekitar 49,1 juta penumpang.

Berikutnya adalah Bandara King Khalid di Riyadh dengan 37,6 juta penumpang, disusul Bandara Prince Mohammad bin Abdulaziz di Madinah sebanyak 11 juta penumpang dan Bandara King Fahd di Dammam sebesar 12,8 juta penumpang. Bandara di Yanbu dan Taif masing-masing mencatat sekitar 2,1 juta dan 1,4 juta penumpang berdasarkan data yang dihimpun dari sejumlah sumber. Angka tersebut berasal dari periode dan indikator yang tidak seluruhnya seragam.

Selain Jeddah dan Madinah, Bandara Internasional Taif juga disiapkan sebagai alternatif pintu masuk jemaah haji dan umrah Indonesia.

Pada Juni 2025, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan bandara yang berjarak sekitar 70 kilometer dari Makkah itu secara teknis dapat digunakan untuk melayani jemaah Indonesia.

Pemanfaatannya ditujukan untuk mendistribusikan arus kedatangan dan mengurangi kepadatan di bandara utama. Sebanyak 44 jemaah haji khusus Indonesia telah tiba melalui Bandara Taif pada 28 Mei 2025, menandai awal penggunaan jalur alternatif tersebut.

Riyadh mencatat gangguan paling berat

Snapshot papan keberangkatan Flightradar24 pada 13 Oktober 2026 menunjukkan gangguan paling besar terjadi di Riyadh.

Sebanyak 537 penerbangan keberangkatan tercatat dibatalkan, setara 78% dari penerbangan yang ditampilkan pada papan tersebut.

Di Jeddah, tercatat 62 pembatalan atau 16%; Dammam mencatat 30 pembatalan atau 25%; sementara Madinah mencatat 13 pembatalan atau 14%.

Angka tersebut merupakan potret operasional pada hari pengamatan, bukan jumlah pembatalan kumulatif sejak serangan dimulai.

Jeddah dan Madinah merupakan pintu masuk yang lebih langsung bagi banyak jemaah, sedangkan Riyadh juga berfungsi sebagai hub penerbangan domestik dan internasional.

Namun, pembatalan rute penghubung dapat memengaruhi penumpang yang menggunakan Riyadh sebagai titik transit atau melanjutkan perjalanan dengan penerbangan domestik.

Reuters juga melaporkan Qatar Airways menangguhkan penerbangan ke dan dari Riyadh serta Dammam pada 13 Oktober karena situasi keamanan.

Perkembangan ini menunjukkan gangguan tidak terbatas pada satu bandara, meskipun dampaknya berbeda-beda menurut lokasi dan maskapai.

(mae/mae)



Most Popular