Rudal Houthi Tembus Riyadh, Pertahanan Canggih Arab Saudi Kurang Kuat?
Jakarta,CNBC Indonesia - Arab Saudi kembali menghadapi serangan udara mematikan dari kelompok Houthi yang berbasis di Yaman.
Sejumlah rudal dan drone terus diarahkan ke berbagai wilayah kerajaan tersebut, termasuk ibu kota Riyadh yang berjarak ratusan kilometer dari Yaman.
Salah satu serangan terbesar terjadi pada Sabtu (10/10/2026), ketika Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menjadi sasaran serangan yang diklaim Houthi.
Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Korban meninggal terdiri dari warga Arab Saudi dan sejumlah warga negara asing melansir dari Reuters.
Belum selesai menangani kerusakan tersebut, bandara yang sama kembali terkena serangan pada Minggu (11/10/2026). Sebuah proyektil menghantam Terminal 4 dan memicu kebakaran. Satu orang pun meninggal dunia dan 11 lainnya mengalami luka-luka.
Jika menghitung seluruh serangan terhadap Bandara Riyadh sepanjang pekan, jumlah korban meninggal dilaporkan telah mencapai 18 orang.
Rekaman pengawas memperlihatkan asap dan api saat terjadinya serangan di Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, pada 10 Oktober 2026, dalam cuplikan dari video yang dirilis untuk umum ini. (Saudi Ministry of Media/Handout via REUTERS) Foto: Rekaman pengawas memperlihatkan asap dan api saat terjadinya serangan di Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, pada 10 Oktober 2026, dalam cuplikan dari video yang dirilis untuk umum ini. (via REUTERS/Saudi Ministry of Media) |
Serangan juga terjadi di Bandara Internasional King Fahd di Dammam, wilayah timur Arab Saudi. Seorang saksi melaporkan proyektil menghantam area landasan dekat sejumlah pesawat yang sedang terparkir dan menyebabkan kebakaran.
Dampaknya tidak hanya berupa korban jiwa dan kerusakan bangunan. Aktivitas penerbangan ikut terganggu, sejumlah penerbangan dibatalkan atau dialihkan, dan otoritas penerbangan Amerika Serikat (AS) mengeluarkan peringatan kepada maskapai yang beroperasi di wilayah Arab Saudi.
Serangan juga terjadi di Bandara Internasional King Fahd di Dammam, wilayah timur Arab Saudi. Seorang saksi melaporkan proyektil menghantam area landasan dekat sejumlah pesawat yang sedang terparkir dan menyebabkan kebakaran.
Dampaknya tidak hanya berupa korban jiwa dan kerusakan bangunan. Aktivitas penerbangan ikut terganggu, sejumlah penerbangan dibatalkan atau dialihkan, dan otoritas penerbangan Amerika Serikat (AS) mengeluarkan peringatan kepada maskapai yang beroperasi di wilayah Arab Saudi.
Bahkan, pemerintah setempat mengalihkan kegiatan belajar tatap muka di Riyadh menjadi pembelajaran jarak jauh untuk sementara waktu.
Kelompok Houthi juga mengklaim telah menyerang sejumlah fasilitas perusahaan minyak Saudi Aramco. Namun, tingkat kerusakan maupun dampaknya terhadap produksi minyak belum seluruhnya dapat dikonfirmasi secara independen.
Rentetan serangan tersebut memunculkan pertanyaan besar. Bagaimana mungkin Arab Saudi, yang dikenal memiliki persenjataan modern dan menghabiskan anggaran pertahanan sangat besar, masih kesulitan mencegah serangan dari kelompok bersenjata di negara tetangganya?
Rudal Balistik, Rudal Jelajah, hingga Drone Jadi Senjata Houthi
Untuk memahami persoalan tersebut, kita perlu melihat terlebih dahulu senjata yang digunakan Houthi.
Kelompok yang menguasai sebagian wilayah Yaman ini tidak memiliki angkatan udara pada umumnya seperti Arab Saudi. Mereka tidak mengandalkan pesawat tempur untuk menyerang wilayah lawan.
Sebaliknya, Houthi menggunakan berbagai jenis rudal dan drone yang mampu menjangkau sasaran dari jarak jauh.
Dalam rentetan serangan belakangan ini, militer Saudi melaporkan berhasil mencegat rudal jelajah di dekat Bandara King Khalid, menghancurkan sebuah drone di wilayah timur, serta mencegat rudal balistik yang diarahkan ke Khamis Mushait.
Meski demikian, jenis proyektil yang secara khusus menghantam terminal Bandara Riyadh pada 10-11 Oktober belum dapat dipastikan berdasarkan informasi yang tersedia.
Terdapat tiga jenis persenjataan utama yang menjadi andalan Houthi.
1. Rudal balistik
2. Rudal jelajah atau cruise missile
3. Drone
Data Wilson Center menunjukkan bahwa persenjataan Houthi mencakup rudal jelajah Quds-4 dengan jangkauan yang dilaporkan mencapai 2.000 kilometer, serta drone seperti Samad-4 dan Waid-2 dengan jangkauan yang diklaim mencapai 2.500 kilometer.
Kok Bisa Pertahanan Udara Arab Saudi Jebol?
Di atas kertas, kekuatan militer Arab Saudi jauh lebih besar dibandingkan Houthi.
Menurut Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), belanja militer Arab Saudi mencapai US$83,2 miliar pada 2025. Jumlah tersebut menempatkan Saudi sebagai negara dengan pengeluaran militer terbesar kedelapan di dunia.
Anggaran sebesar itu digunakan untuk membangun angkatan bersenjata modern, termasuk membeli jet tempur, kendaraan lapis baja, radar, serta berbagai sistem pertahanan udara.
Untuk menghadapi ancaman dari langit, Arab Saudi memiliki Royal Saudi Air Defense Forces atau pasukan pertahanan udara yang dilengkapi sejumlah persenjataan yang dibuat oleh AS hingga negara-negara Eropa.
Salah satu yang paling dikenal adalah Patriot. Sistem buatan AS ini dirancang untuk mendeteksi, melacak, dan mencegat ancaman udara, termasuk rudal balistik taktis, rudal jelajah, dan pesawat.
Arab Saudi juga telah mengoperasikan unit pertama Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), sistem yang dirancang untuk menghancurkan rudal balistik pada fase akhir penerbangannya di ketinggian tinggi.
Berdasarkan data inventaris Gladius Defense & Security, Saudi juga memiliki berbagai sistem pertahanan udara jarak pendek dan menengah.
Sistem-sistem tersebut memiliki fungsi yang berbeda. THAAD berfokus pada pencegatan rudal balistik di ketinggian tinggi, Patriot memberikan perlindungan terhadap berbagai ancaman udara, sedangkan sistem seperti Crotale, Shahine, dan VL-MICA digunakan untuk pertahanan pada jarak yang lebih dekat.
Dengan daftar sistem persenjataan pertahann udara tersebut, Arab Saudi sebenarnya memiliki beberapa lapis pertahanan udara.
Namun, banyaknya sistem pertahanan tidak otomatis membuat seluruh wilayah negara terlindungi dari setiap serangan.
Senjata Canggih Belum Menjamin Wilayah Sepenuhnya Aman
Rentetan serangan Houthi menjadi pengingat bahwa besarnya anggaran militer dan kecanggihan persenjataan belum tentu mampu menjamin seluruh wilayah sebuah negara bebas dari serangan udara.
Arab Saudi memang memiliki Patriot, THAAD, berbagai sistem rudal jarak pendek, serta ratusan pesawat militer. Akan tetapi, setiap persenjataan memiliki keterbatasan dalam menghadapi jenis ancaman, jangkauan, dan jumlah serangan tertentu.
Hal ini bukan berarti seluruh sistem pertahanan Saudi gagal. Sejumlah rudal dan drone Houthi berhasil dicegat. Namun, adanya proyektil yang tetap mencapai sasaran menunjukkan bahwa perlindungan yang tersedia belum sepenuhnya mampu mencegah kerusakan dan korban.
Pengalaman Arab Saudi juga menjadi pelajaran bagi negara lain yang sedang memperkuat pertahanan udaranya.
Membeli sistem rudal canggih saja belum cukup.
Negara juga perlu memastikan ketersediaan radar, koordinasi antarsistem, pasokan amunisi yang tercukupi, kesiapan personel, dan kemampuan menghadapi berbagai jenis serangan.
Terlebih lagi, perkembangan teknologi drone dan rudal memungkinkan pihak dengan sumber daya lebih kecil menjangkau sasaran yang sebelumnya sulit dicapai.
Pada akhirnya, kekuatan pertahanan udara tidak hanya ditentukan oleh seberapa mahal senjata yang dimiliki, tetapi juga seberapa baik seluruh sistem tersebut bekerja bersama ketika serangan benar-benar datang.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/luc)