Jangan Kasihani Milenial! Data Ini Buktikan Mereka Sedang Jaya-jayanya
Jakarta, CNBC Indonesia - Generasi milenial selama ini kerap dianggap sebagai generasi yang sulit mencapai kemapanan finansial.
Susah mendapatkan pekerjaan, pertumbuhan gaji yang lambat, hingga harga rumah yang semakin sulit dijangkau menjadi persoalan yang melekat pada generasi ini.
Anggapan tersebut bukan tanpa alasan. Banyak milenial memasuki dunia kerja ketika perekonomian global terpukul krisis finansial 2007-2009. Pemulihan ekonomi yang berjalan lambat membuat mereka kesulitan membangun karier, mengumpulkan tabungan, dan membeli rumah pada usia muda.
Pada dekade 2010-an, kondisi tersebut terlihat di sejumlah negara maju. Ketika krisis ekonomi Yunani mencapai puncaknya, tingkat pengangguran usia muda bahkan melampaui 50%. Sementara itu, pekerja muda di Inggris menghadapi pertumbuhan upah yang stagnan, sedangkan sekitar 40% kelompok usia muda di Jerman masih tinggal bersama orang tua.
Namun, setelah lebih dari satu dekade berlalu, kondisi ekonomi generasi milenial mulai menunjukkan perubahan besar.
Analisis The Economist terhadap 32 negara maju menemukan bahwa milenial kini justru semakin mapan secara finansial. Generasi yang sebelumnya dianggap tertinggal secara ekonomi kini bahkan mulai melampaui kesejahteraan generasi orang tuanya ketika dibandingkan pada usia yang sama.
Milenial Makin Kaya, Pendapatan Lampaui Generasi Sebelumnya
Rata-rata pendapatan rumah tangga yang dapat dibelanjakan menurut generasi dan usia di lima negara maju (US$, harga 2017, berdasarkan paritas daya beli). Foto: OECD, diolah The Economist |
Berdasarkan analisis The Economist, milenial di 29 dari 32 negara maju memiliki pendapatan riil lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya pada usia yang sama.
Pendapatan riil merupakan pendapatan yang telah disesuaikan dengan inflasi, sehingga menunjukkan perubahan daya beli dan bukan sekadar kenaikan nominal gaji.
Hanya tiga negara yang menjadi pengecualian, yakni Italia, Yunani, dan Jepang.
Di Italia, milenial berusia 30 tahun memiliki penghasilan sekitar 10% lebih rendah dibandingkan Generasi X pada usia yang sama. Sementara itu, pendapatan milenial Yunani masih tertinggal dibandingkan generasi muda sebelum krisis ekonomi 2009.
Kondisi serupa terjadi di Jepang. Pendapatan rumah tangga kelompok usia 35 tahun pada 2019 tercatat lebih rendah dibandingkan kelompok usia yang sama pada 1994, setelah perekonomian negara tersebut mengalami stagnasi berkepanjangan.
Sebaliknya, di 29 negara lainnya, milenial telah mencatat kemajuan pendapatan antargenerasi. Perbaikan bahkan berlangsung lebih cepat di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat (AS) dan Polandia.
Di Australia, Inggris, dan Prancis, pertumbuhan pendapatan antargenerasi memang melambat dibandingkan kemajuan yang sebelumnya dinikmati Generasi X. Meski demikian, milenial tetap mencatat pendapatan riil lebih tinggi dibandingkan pendahulunya.
Krisis Berlalu, Pasar Kerja Kini Lebih Menguntungkan
Perbaikan kesejahteraan milenial terutama didorong oleh dua faktor, yakni pemulihan pasar tenaga kerja dan perubahan struktur demografi.
Data Federal Reserve menunjukkan median kekayaan bersih rumah tangga AS kelompok usia 35-44 tahun meningkat dari US$115.577 pada 2019 menjadi US$156.000 pada 2025. Sementara itu, kelompok usia di bawah 35 tahun justru turun dari US$42.725 pada 2022 menjadi US$32.820 pada 2025.
Ketika krisis finansial global melanda pada 2007-2009, pekerja muda menjadi salah satu kelompok yang paling rentan kehilangan pekerjaan. Perusahaan cenderung mengurangi perekrutan dan memangkas tenaga kerja ketika kondisi ekonomi memburuk.
Seiring pemulihan ekonomi, kesempatan kerja mulai meningkat. Di Yunani, misalnya, hampir 80% penduduk berusia 35-44 tahun kini bekerja, yang diperkirakan merupakan tingkat tertinggi sepanjang sejarah bagi kelompok usia tersebut.
Di sisi lain, gelombang pensiun generasi baby boomer turut membuka peluang bagi milenial untuk mengisi jabatan yang lebih tinggi.
Pandemi Covid-19 mempercepat tren tersebut. Sebuah studi di AS menemukan sekitar 3 juta tambahan pensiunan hingga akhir 2022 dibandingkan jumlah yang diperkirakan tanpa dampak pandemi.
Berkurangnya pasokan tenaga kerja juga terjadi di sejumlah negara maju. Dari 38 negara anggota Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) dalam data yang dikutip The Economist, sebanyak 10 negara mengalami penyusutan populasi usia kerja.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan daya tawar pekerja, terutama milenial yang kini telah memiliki pengalaman dan keterampilan lebih matang.
Milenial Makin Kaya, dari Rumah Hingga Warisan
Perbaikan kondisi finansial milenial juga terlihat dari meningkatnya kepemilikan rumah dan akumulasi kekayaan.
Di Amerika Serikat (AS), hanya sekitar 40% milenial memiliki rumah pada usia 30 tahun, jauh lebih rendah dibandingkan Generasi X pada usia yang sama. Namun, ketika memasuki usia 40-an, tingkat kepemilikan rumah milenial tertua telah menyamai generasi sebelumnya.
Tren serupa terjadi di Inggris. Berdasarkan data Institute for Fiscal Studies (IFS), kesenjangan kepemilikan rumah milenial dengan generasi sebelumnya menyusut dari 20 poin persentase pada usia 30 tahun menjadi sekitar 10 poin persentase pada usia 40 tahun.
Peningkatan pendapatan dan tabungan, berkurangnya utang pendidikan, serta kecenderungan menunda pernikahan menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi tren tersebut.
Selain itu, milenial semakin mendominasi dunia usaha. Hampir 10% miliarder AS berasal dari generasi ini, sementara sejumlah perusahaan teknologi besar seperti OpenAI, Anthropic, dan Meta dipimpin oleh milenial.
Kekayaan mereka juga berpotensi terus bertambah melalui warisan. The Economist memperkirakan nilai warisan tahunan setara sekitar 10% PDB negara maju. Sementara itu, IFS memproyeksikan median warisan masyarakat Inggris kelahiran 1980-an mencapai £136.000, lebih dari dua kali lipat dibandingkan £66.000 bagi generasi kelahiran 1960-an.
Meski demikian, peningkatan kekayaan tidak merata, terutama karena tidak semua milenial memiliki akses terhadap aset atau warisan keluarga.
Gen Z Justru Menghadapi Tantangan Baru
Ketika kondisi ekonomi milenial semakin membaik, generasi berikutnya justru berpotensi menghadapi tantangan yang berbeda.
Generasi Z atau Gen Z, yang lahir sekitar 1997-2012, mulai memasuki pasar tenaga kerja ketika perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) semakin pesat.
Berbeda dengan milenial yang menghadapi krisis finansial global pada awal karier, Gen Z berhadapan dengan risiko perubahan kebutuhan tenaga kerja akibat otomatisasi dan penggunaan AI.
Teknologi tersebut berpotensi menggantikan sebagian tugas administratif, analisis dasar, dan pekerjaan rutin yang selama ini banyak menjadi pintu masuk pekerja muda ke dunia profesional.
Situasi ini menciptakan perubahan menarik antargenerasi. Milenial yang dahulu kesulitan memasuki dunia kerja kini semakin banyak menduduki posisi manajerial dan mengambil keputusan investasi teknologi yang dapat mengurangi kebutuhan tenaga kerja.
Meski demikian, dampak AI terhadap lapangan pekerjaan masih bergantung pada kemampuan perusahaan menciptakan jenis pekerjaan baru dan kesiapan pekerja meningkatkan keterampilan.
Dengan kata lain, jika milenial menghadapi tantangan akibat krisis ekonomi, Gen Z berpotensi menghadapi tekanan dari perubahan teknologi.
Bagaimana Nasib Milenial dan Gen Z di Indonesia?
Perbaikan kesejahteraan milenial di negara maju menimbulkan pertanyaan, apakah tren serupa juga terjadi di Indonesia?
Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2025 menunjukkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) kelompok usia 15-19 tahun mencapai 23,34%, sementara usia 20-24 tahun sebesar 14,35%. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan usia 30-34 tahun sebesar 3,47% dan 35-39 tahun sebesar 2,35%.
Dari sisi kepemilikan rumah, BPS mencatat 85,07% rumah tangga Indonesia menempati rumah milik sendiri pada 2025, naik tipis dari 84,95% pada 2024. Namun, di DKI Jakarta, angkanya hanya sekitar 55%, jauh di bawah rata-rata nasional.
Meski demikian, data tersebut belum membuktikan bahwa milenial Indonesia lebih sejahtera dibandingkan generasi sebelumnya. Diperlukan perbandingan pendapatan riil dan kekayaan antargenerasi untuk memastikan tren tersebut.
(slm/slm)