10 Mata Uang Terlemah Dunia di 2026, Rial Iran Ambruk 4.100%
Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah mata uang di dunia menghadapi tekanan luar biasa pada tahun ini. Tekanan ini membuat mereka ambruk di hadapan dolar Amerika Serikat (AS).
Mata uang Iran, Venezuela, dan Bolivia adalah sedikit dari yang menghadapi tekanan besar sepanjang 2026. Krisis ekonomi, kelangkaan dolar Amerika Serikat (AS), tekanan fiskal, hingga perubahan kebijakan nilai tukar menjadi sejumlah faktor yang memperburuk kondisi mata uang ketiga negara tersebut.
Iran: Rial Tertekan Sanksi dan Konflik Geopolitik
Iran menghadapi tekanan terhadap mata uangnya akibat sanksi ekonomi AS, perang sejak Februari 2026, keterbatasan akses ke sistem keuangan internasional, serta gangguan terhadap perdagangan dan penerimaan devisa.
Rial Iran bahkan sudah ambruk 4.130% terhadap dolar AS di mana kurs 1US$ dihargai 1.779.500 rial Iran.
Pendapatan ekspor minyak menjadi salah satu faktor penting karena sektor tersebut merupakan sumber utama pemasukan valuta asing Iran. Ketika ekspor dan transaksi internasional terhambat, pasokan dolar di dalam negeri ikut tertekan.
Tekanan tersebut diperburuk oleh inflasi yang tinggi. Pada Agustus 2026, inflasi tahunan Iran dilaporkan mencapai sekitar 84%, sementara rial menyentuh rekor terendah terhadap dolar AS.
Kombinasi kelangkaan devisa, kenaikan harga barang, dan ketidakpastian geopolitik meningkatkan tekanan terhadap rial. Kondisi ini juga dapat mendorong masyarakat dan pelaku usaha mengalihkan sebagian kekayaannya ke dolar sebagai aset lindung nilai.
Venezuela: Krisis Fiskal dan Kelangkaan Dolar
Venezuela menghadapi persoalan yang berbeda, meskipun ketergantungan terhadap ekspor minyak juga menjadi faktor utama.
Pendapatan minyak merupakan sumber penting devisa negara. Ketika penerimaan ekspor melemah, kemampuan pemerintah dan perekonomian untuk memperoleh dolar ikut tertekan.
Selain itu, defisit anggaran dan pembiayaan pemerintah melalui penciptaan uang dapat memperbesar tekanan inflasi dan mengurangi kepercayaan terhadap bolivar. Sanksi ekonomi serta keterbatasan akses terhadap pendanaan internasional turut mempersulit kondisi tersebut.
International Monetary Fund (IMF) menyoroti penurunan pendapatan minyak, defisit fiskal, dan kelangkaan likuiditas dolar sebagai faktor yang menekan perekonomian Venezuela.
Pada Mei 2026, bolivar dilaporkan telah kehilangan sekitar 45% nilainya terhadap dolar di pasar resmi sejak awal tahun.
Pada penutupan Jumat pekan ini (9/10/2026), 1US$ dihargai 874,6 bolivar..
Pelemahan mata uang tersebut berisiko meningkatkan harga barang impor dan memperburuk daya beli masyarakat. Ketika pelaku usaha kesulitan memperoleh dolar untuk membayar bahan baku dan barang dari luar negeri, tekanan terhadap harga domestik juga dapat meningkat.
Bolivia: Cadangan Devisa Menipis, Sistem Kurs Berubah
Berbeda dengan Iran dan Venezuela, tekanan terhadap mata uang Bolivia berkaitan erat dengan penurunan penerimaan ekspor gas alam dan menyusutnya cadangan devisa.
Pada penutupan Jumat pekan ini (9/10/2026), 1US$ dihargai 11,7 boliviano.
Penurunan ekspor gas mengurangi pasokan dolar sekaligus menekan penerimaan pemerintah. Di sisi lain, kebutuhan dolar untuk membiayai impor dan memenuhi kewajiban luar negeri tetap tinggi.
Situasi tersebut membuat ketersediaan dolar di dalam negeri semakin terbatas dan memperlebar perbedaan antara kurs resmi dan kurs di pasar paralel.
Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah perubahan kebijakan nilai tukar. Pada 29 Juni 2026, Bolivia dilaporkan beralih dari sistem kurs tetap ke kurs fleksibel setelah sekitar 15 tahun mempertahankan kurs resmi tetap.
Perubahan ini memungkinkan nilai tukar resmi bergerak lebih dekat ke kondisi pasar. Dengan demikian, kenaikan kurs dolar yang tercatat tidak seluruhnya mencerminkan pelemahan baru, tetapi juga dapat menunjukkan penyesuaian terhadap tekanan yang sebelumnya tidak sepenuhnya tercermin dalam kurs resmi.
Berikut 10 mata uang terlemah di dunia sepanjang tahun ini: