MARKET DATA
Mata Uang Asia

Dong Vietnam Perkasa! Dolar Singapura-Ringgit Merana, Rupiah Gimana?

Salma Laiqa,  CNBC Indonesia
10 October 2026 18:15
Ilustrasi foto ini menunjukkan uang kertas dong Vietnam di Hanoi pada tanggal 21 Mei 2019. (Manan VATSYAYANA / AFP/File Foto)
Foto: Ilustrasi foto ini menunjukkan uang kertas dong Vietnam di Hanoi pada tanggal 21 Mei 2019. (AFP/MANAN VATSYAYANA/File Foto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia kembali tertekan pada pekan ini di tengah penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (9/10/2026), nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan di posisi Rp17.875/US$, melemah dibandingkan penutupan pekan sebelumnya di Rp17.868/US$.

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda melemah tipis 0,04% sepanjang pekan ini, berbalik dari penguatan 0,07% pada pekan sebelumnya.

Meski melemah, kinerja rupiah masih lebih baik dibandingkan sejumlah mata uang Asia lainnya. Pasalnya, dolar AS kembali menguat di tengah tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Mayoritas Mata Uang Asia Melemah

Tekanan dolar AS masih terasa di kawasan Asia sepanjang pekan.

Merujuk data Refinitiv, dari 10 mata uang Asia yang dipantau, sebanyak enam mata uang melemah terhadap dolar AS. Hanya dong Vietnam, yuan China, won Korea Selatan, dan baht Thailand yang mampu mencatat penguatan.

Dong Vietnam menjadi mata uang dengan kinerja paling kuat setelah menguat 0,40% sepanjang pekan ke posisi VND25.879/US$.

Yuan China menyusul dengan penguatan 0,19% ke posisi CNY6,692/US$, sedangkan won Korea Selatan naik 0,17% ke KRW1.340,25/US$. Baht Thailand turut menguat 0,09% ke posisi THB33,50/US$.

Di sisi lain, dolar Taiwan mengalami tekanan paling dalam dengan pelemahan 0,36% ke posisi TWD31,917/US$. Peso Filipina turun 0,32%, disusul yen Jepang yang terkoreksi 0,30%.

Dolar Singapura melemah 0,12%, ringgit Malaysia turun 0,05%, sementara rupiah mencatat pelemahan paling tipis sebesar 0,04%.

Tekanan terhadap mayoritas mata uang Asia tidak lepas dari kuatnya dolar AS sepanjang pekan.

Indeks dolar AS atau DXY tercatat menguat 0,27% secara mingguan ke posisi 102,23. Penguatan tersebut membuat dolar AS membukukan kenaikan selama empat pekan berturut-turut.

Salah satu penopangnya adalah imbal hasil obligasi pemerintah AS yang masih berada di level tinggi. Mengutip Reuters, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun pada Jumat naik 2,8 basis poin menjadi 5,261%.

Sebelumnya, imbal hasil obligasi tersebut sempat menyentuh level tertinggi dalam 24 tahun pada Rabu (7/10/2026).

Meski demikian, secara mingguan imbal hasil Treasury tenor 10 tahun justru turun 3,5 basis poin, mencatat penurunan mingguan terbesar dalam dua bulan.

Imbal hasil yang masih tinggi membuat aset berdenominasi dolar AS tetap menarik bagi investor dan berpotensi menjaga permintaan terhadap mata uang tersebut.

Tekanan juga datang dari pasar obligasi Eropa. Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Prancis, termasuk tingginya beban utang dan defisit anggaran, meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan kawasan tersebut.

Euro bahkan mencatat pelemahan terhadap dolar AS selama lima pekan berturut-turut dan sempat menyentuh level terendah dalam 17 bulan di US$1,1161 pada awal pekan.

Harga Minyak Tinggi Masih Jadi Risiko

Selain imbal hasil obligasi AS, harga minyak dunia yang masih tinggi menjadi faktor penting bagi pergerakan mata uang global.

Pada perdagangan Jumat (9/10/2026), harga minyak Brent ditutup di level US$104,72 per barel, masih bertahan di atas US$100 di tengah gangguan pasokan energi dan ketegangan geopolitik Timur Tengah.

Harga minyak yang tinggi berpotensi memberikan tekanan lebih besar kepada negara-negara yang bergantung pada impor energi. Kenaikan biaya impor dapat memperburuk neraca perdagangan sekaligus meningkatkan kebutuhan terhadap dolar AS.

Kondisi tersebut menjadi salah satu risiko bagi mata uang negara importir energi, termasuk yen Jepang.

Di sisi lain, kenaikan harga energi juga berpotensi menjaga inflasi AS tetap tinggi, sehingga memperkuat alasan bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat.

Presiden The Fed St. Louis Alberto Musalem pada Kamis (8/10/2026) menyatakan bahwa bank sentral AS masih perlu menaikkan suku bunga untuk membawa inflasi kembali menuju target 2%.

Ekspektasi pengetatan moneter tersebut menjadi tantangan bagi mata uang Asia karena suku bunga AS yang tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar.

(slm/slm)



Most Popular