MARKET DATA

Dua Pekan Tertekan, Harga Emas Dunia Kini Kembali Merangkak Naik

Salma Laiqa,  CNBC Indonesia
10 October 2026 08:17
Karyawati menunjukkanemasPT Aneka Tambang Tbk. (Antam) di salah satu gallery penjualanemasdi Jakarta, Selasa (16/7/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Karyawati menunjukkan emas PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) di salah satu gallery penjualan emas di Jakarta, Selasa (16/7/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia kembali melesat pada perdagangan akhir pekan, Jumat (9/10/2026), setelah tertekan selama dua pekan berturut-turut. Penguatan ditopang aksi beli investor saat harga rendah, sementara pasar mencermati arah suku bunga Amerika Serikat (AS) menjelang rilis data inflasi terbaru.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada penutupan perdagangan Jumat (9/10/2026) berada di level US$4.193,83 per troy ons, melonjak 1,45% dibandingkan penutupan sebelumnya sebesar US$4.133,93 per troy ons.

Kenaikan tersebut memperpanjang penguatan emas menjadi dua hari beruntun, setelah pada Rabu (7/10/2026) harganya sempat menyentuh level terendah dalam dua bulan.

Dalam sepekan, harga emas menguat 1,24%, berbalik dari pelemahan 3,36% pada pekan sebelumnya. Penguatan ini sekaligus mengakhiri tren negatif selama dua pekan berturut-turut.

Aksi Beli Murah Dorong Harga Emas

Mengutip Reuters, kenaikan harga emas ditopang aksi beli investor setelah logam mulia tersebut mengalami penurunan tajam sepanjang beberapa pekan terakhir.

Rhona O'Connell, Kepala Analisis Pasar StoneX, menjelaskan bahwa investor mulai kembali membeli emas ketika harga berada pada level rendah, dengan area US$4.000 per troy ons menjadi salah satu penopang harga.

Menurutnya, ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) kemungkinan telah tercermin dalam harga emas. Namun, peluang kenaikan lebih lanjut masih terbatas tanpa adanya peristiwa besar yang mengubah sentimen pasar.

Pemulihan harga emas juga didukung oleh meredanya tekanan dari dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun sempat mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua dekade pada Rabu (7/10/2026), sebelum bergerak turun dalam beberapa sesi berikutnya.

Pada Jumat, imbal hasil obligasi tenor 10 tahun kembali naik 2,8 basis poin menjadi 5,261%. Meski demikian, secara mingguan imbal hasil tersebut turun 3,5 basis poin, menjadi penurunan mingguan terbesar dalam dua bulan.

Penurunan imbal hasil secara mingguan memberikan ruang bagi harga emas untuk pulih. Emas merupakan aset yang tidak memberikan bunga, sehingga imbal hasil obligasi yang lebih rendah dapat meningkatkan daya tariknya.

Dolar AS yang sedikit melemah pada perdagangan Jumat juga membantu penguatan emas. Pelemahan dolar membuat emas relatif lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lainnya.

Ancaman Kenaikan Suku Bunga The Fed Belum Hilang

Meski harga emas menguat, prospek kebijakan moneter AS masih menjadi tantangan bagi logam mulia.

Presiden The Fed St. Louis Alberto Musalem pada Kamis (8/10/2026) menyatakan bahwa bank sentral AS masih perlu menaikkan suku bunga untuk membawa inflasi kembali menuju target 2%.

Mengutip Reuters, berdasarkan perangkat CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober sebesar 19%. Sementara itu, probabilitas setidaknya satu kenaikan sebesar 25 basis poin hingga Desember mencapai 84%.

Suku bunga yang lebih tinggi dapat mengurangi daya tarik emas karena investor cenderung memilih aset yang memberikan imbal hasil, termasuk obligasi pemerintah AS.

Di sisi lain, harga minyak dunia yang masih berada di atas US$100 per barel turut menjadi perhatian karena berpotensi menjaga tekanan inflasi tetap tinggi.

Pada perdagangan Jumat, harga minyak Brent ditutup di sekitar US$104 per barel, meskipun AS mengumumkan kesepakatan dengan Rusia untuk menambah pasokan diesel ke pasar global.

Kondisi tersebut membuat pergerakan harga emas masih sensitif terhadap perubahan ekspektasi inflasi dan kebijakan suku bunga AS.

Data Inflasi Jadi Penentu Pekan Depan

Perhatian investor kini tertuju pada rilis indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS yang dijadwalkan pada pekan depan.

Data tersebut menjadi salah satu indikator penting bagi The Fed menjelang pertemuan kebijakan moneter pada 27-28 Oktober 2026.

Han Tan, Kepala Analis Pasar Bybit, menilai data inflasi mendatang berpotensi menjadi katalis bagi pergerakan besar harga emas berikutnya.

Menurutnya, apabila inflasi tetap tinggi dan mendorong The Fed menaikkan suku bunga lebih agresif, harga emas berpotensi kembali menguji level psikologis US$4.000 per troy ons.

Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dari perkiraan berpotensi meredakan tekanan kenaikan suku bunga, sehingga memberikan ruang bagi pemulihan emas.

Sementara itu, permintaan emas fisik di Asia menunjukkan perkembangan berbeda. Reuters melaporkan permintaan emas di India cenderung lesu pada pekan ini seiring kenaikan harga, sedangkan aktivitas perdagangan di China terbatas akibat libur nasional.

Dengan demikian, meski emas berhasil bangkit setelah dua pekan melemah, keberlanjutan penguatannya masih akan bergantung pada data inflasi AS, pergerakan dolar dan imbal hasil obligasi, serta arah kebijakan The Fed dalam beberapa pekan mendatang.

(slm/slm)



Most Popular