MARKET DATA

30 Tahun Erajaya: Menemani Indonesia dari Era SMS hingga Revolusi AI

salma laiqa & Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
09 October 2026 15:34
PT Erajaya Swasembada Tbk. (Dok. Erajaya)
Foto: PT Erajaya Swasembada Tbk. (Dok. Erajaya)

Jakarta, CNBC Indonesia - Cara masyarakat berkomunikasi berubah drastis dalam tiga dekade.

Tiga puluh tahun lalu, telepon rumah dan surat menjadi bagian dari keseharian, sementara handphone perlahan mulai hadir sebagai barang yang mengubah cara orang terhubung satu sama lain. Dari sekadar menelepon dan mengirim SMS, masyarakat kemudian beralih ke ponsel dengan kamera, internet, BlackBerry, hingga smartphone.

Perubahan itu ikut membentuk perjalanan Erajaya. Perusahaan yang berdiri pada 1996 dengan fokus pada distribusi perangkat telekomunikasi tersebut berkembang.

 

FILE PHOTO: Men are silhouetted against a video screen as they pose with smartphones in this photo illustration May 17, 2013. REUTERS/Dado Ruvic/File PhotoFILE PHOTO: Men are silhouetted against a video screen as they pose with smartphones in this photo illustration May 17, 2013. REUTERS/Dado Ruvic/File Photo Foto: REUTERS/Dado Ruvic

 

Dalam perjalanannya, transformasi Erajaya tidak berhenti pada ponsel. Bisnisnya meluas ke perangkat digital, olahraga, makanan dan minuman, kendaraan listrik hingga berbagai produk gaya hidup.

Pada 2026, setelah tiga dekade beroperasi, Erajaya telah berkembang jauh dari identitas awalnya sebagai distributor perangkat telekomunikasi.

Erajaya Tumbuh Bersama Masyarakat Indonesia

Erajaya lahir pada 1996 dengan nama nama PT Erajaya Swasembada.

Dari sebuah toko di kawasan Grogol, Jakarta Barat, Erajaya menjelma menjadi salah satu kelompok distribusi dan ritel terbesar di Indonesia. Cikal bakal bisnisnya dimulai pada 1992, sebelum PT Erajaya Swasembada resmi didirikan pada 1996 dengan fokus utama pada distribusi dan penjualan produk teknologi.

Tiga dekade kemudian, bisnis berkode saham ERAA itu tidak lagi hanya identik dengan telepon seluler. Erajaya telah membangun ekosistem yang mencakup perangkat digital, elektronik konsumen, aksesori dan Internet of Things (IoT), fesyen, perlengkapan olahraga, kendaraan listrik, hingga makanan dan minuman.

Rantai Bisnis ErajayaRantai Bisnis Erajaya Foto: Erajaya

Perubahan tersebut menunjukkan cara Erajaya menjaga relevansinya. Ketika kebutuhan konsumen bergeser dari sekadar membeli perangkat komunikasi menjadi mencari pengalaman dan produk gaya hidup, perusahaan ikut memperluas portofolio bisnisnya.

Ketika Handphone Mencerminkan Status Pengguna


Saat Erajaya lahir, telepon genggam masih menjadi barang mewah. Fungsinya sederhana, harganya mahal, dan kepemilikannya lebih dekat dengan simbol status dibanding kebutuhan sehari-hari.

Saat itu, fungsi ponsel juga masih sangat sederhana. Konsumsi teknologi berpusat pada perangkat telepon, kartu SIM, pulsa, dan aksesori dasar. Belum ada ekosistem aplikasi, kamera canggih, atau berbagai layanan digital seperti yang dikenal sekarang.

Data Bank Dunia menunjukkan kepemilikan telepon seluler per 100 orang Indonesia di pertengahan 1990an masih nol tetapi kemudian melonjak sejak era 2000 atau bertepatan dengan berkembangnya Erajaya.

Perubahan itu ikut membentuk perjalanan Erajaya. Perusahaan dengan fokus awal pada distribusi perangkat telekomunikasi tersebut berkembang seiring perubahan cara masyarakat Indonesia mengonsumsi teknologi.

Ponsel Mulai Menjadi Kebutuhan

Memasuki awal 2000-an, ponsel perlahan keluar dari citra sebagai barang mewah. Memasuki era 2000-an, komputer pribadi dan handphone semakin mudah dijangkau masyarakat. Perangkat yang sebelumnya identik dengan kalangan tertentu perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Perubahan besar terjadi ketika smartphone berbasis Android mulai masuk ke Indonesia sekitar 2009. Internet tidak lagi harus diakses dari komputer di rumah atau kantor, tetapi mulai berpindah ke genggaman.

 

Perkembangan handphonePerkembangan handphone Foto: Erajaya

 

Memasuki 2010-an, pertumbuhan internet mobile melahirkan ekosistem digital baru. Gojek dan Tokopedia menjadi contoh perusahaan teknologi lokal yang mengubah kebiasaan masyarakat, mulai dari transportasi, pengiriman barang hingga belanja online.

Indonesia pun memasuki era baru. Internet bukan lagi sekadar alat untuk mencari informasi, tetapi mulai menjadi bagian dari aktivitas ekonomi dan gaya hidup sehari-hari.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sejak 2006 hingga 2010, jumlah pelanggan telepon seluler di Indonesia melonjak lebih dari tiga kali lipat.

Pelanggan telekomunikasi tanpa kabel secara keseluruhan tumbuh rata-rata 62,21% per tahun, berbanding terbalik dengan pelanggan telekomunikasi kabel yang justru menyusut 1,11% per tahun.

 

Perubahan ini mencerminkan pergeseran pola komunikasi masyarakat Indonesia dari telepon kabel ke teknologi nirkabel.

Pada 2010, jumlah pelanggan seluler telah menembus lebih dari 200 juta, sementara jumlah penduduk Indonesia mencapai 237,6 juta jiwa. Artinya, secara jumlah, pelanggan seluler telah mendekati total populasi Indonesia.

Cara konsumen memilih ponsel pun mulai berubah. Fungsi dasar seperti menelepon dan mengirim pesan tetap penting, tetapi merek, desain, fitur hingga gengsi mulai ikut menentukan keputusan pembelian.

Perubahan tersebut ikut menggeser cara perangkat dijual. Konsumen semakin membutuhkan tempat untuk melihat, membandingkan, dan memilih produk secara langsung. Pada fase inilah Erajaya mulai memperkuat sisi ritelnya, salah satunya melalui pembukaan gerai erafone pertama pada 2007.

Dari sini, perjalanan Erajaya mulai bergerak dari sekadar distribusi menuju hubungan yang lebih dekat dengan konsumen atau tepat ketika ponsel berubah dari produk premium menjadi bagian dari kebutuhan sehari-hari.

Ilustrasi era jaya smartphone. (Dok. erajaya)Ilustrasi era jaya smartphone. (Dok. erajaya) Foto: Ilustrasi era jaya smartphone. (Dok. erajaya)

 

 

Memasuki dekade 2010-an, fungsi ponsel berkembang pesat. Smartphone tidak lagi sekedar alat komunikasi, tetapi mulai menggantikan kamera, pemutar musik, navigasi, hiburan hingga sebagian fungsi komputer. Seiring itu, kebutuhan konsumen ikut meluas ke aplikasi, aksesori dan berbagai perangkat pendukung.


Erajaya tumbuh mengikuti perubahan tersebut.

Perusahaan melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2011, kemudian mengakuisisi iBox pada 2012 untuk memperkuat jaringan ritel produk Apple di Indonesia. Ekspansi berlanjut ke Malaysia melalui akuisisi CG Computers yang mengoperasikan Switch pada 2014.

Memasuki pertengahan dekade, ekosistem gadget semakin luas dengan hadirnya smartwatch, perangkat Internet of Things (IoT), audio hingga perangkat penunjang produktivitas. Erajaya merespons tren tersebut dengan meluncurkan Urban Republic pada 2016, memperluas portofolio dari perangkat komunikasi ke teknologi dan gaya hidup.


Perubahan tidak hanya terjadi pada produk, tetapi juga cara konsumen berbelanja. Pada 2018, Erajaya mulai menghubungkan jaringan gerai fisiknya dengan kanal daring melalui model omnichannel, mengikuti konsumen yang semakin terbiasa berpindah antara pengalaman belanja offline dan online.

Calon pembeli melihat iPhone 17 Series di Gerai iBox Kota Kasablanka, Jakarta, Jumat (17/10/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)Calon pembeli melihat iPhone 17 Series di Gerai iBox Kota Kasablanka, Jakarta, Jumat (17/10/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) Foto: Calon pembeli melihat iPhone 17 Series di Gerai iBox Kota Kasablanka, Jakarta, Jumat (17/10/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)


Dalam satu dekade, ponsel telah berkembang menjadi bagian dari ekosistem digital yang jauh lebih besar. Erajaya pun bergerak bersamanya, dari distribusi dan ritel smartphone menuju jaringan teknologi dan gaya hidup yang semakin luas.

Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2025, tingkat penetrasi internet pada 2025 sudah menembus 77,63%. Penetrasi internet juga sampai ke pelosok.

Semakin besarnya peran telepon dan internet dalam kehidupan sehari-hari tercermin dari porsi pengeluaran penduduk.

Data BPS menunjukkan pengeluaran per kapita tercatat Rp15.925 pada 2010, kemudian Rp13.995 pada 2020 dan turun lagi menjadi Rp13.452 pada 2025. Artinya, pengeluaran untuk pulsa cenderung menurun.

Akses internetAkses internet Foto: BPS


Sebaliknya, pengeluaran internet meningkat sangat tajam, dari Rp978 per kapita pada 2010 menjadi Rp20.440 pada 2020 dan mencapai Rp33.667 pada 2025.


Dengan demikian, internet semakin mengambil porsi lebih besar dalam pengeluaran komunikasi masyarakat, sementara ketergantungan pada pulsa semakin berkurang.


Pandemi Menjadi Era Gadget yang Baru


Memasuki 2020, pandemi Covid-19 mengubah cara masyarakat bekerja, belajar dan beraktivitas. Ponsel, laptop dan perangkat elektronik yang sebelumnya banyak digunakan untuk komunikasi dan hiburan berubah menjadi penopang utama aktivitas sehari-hari.
Lonjakan kebutuhan terhadap perangkat digital ikut mengangkat kinerja Erajaya, dengan laba yang meningkat tajam sepanjang 2020 hingga 2021.

Pada saat yang sama, perubahan pola hidup selama pandemi membuka ruang bagi kategori konsumsi yang lebih luas.
Erajaya kemudian mulai memperluas bisnis ke olahraga, athleisure, aktivitas luar ruang, elektronik konsumen hingga peralatan rumah tangga.

Pada 2021, arah baru tersebut semakin terstruktur melalui Erajaya Digital, Erajaya Active Lifestyle, serta Erajaya Food & Nourishment.
Dari titik ini, pertumbuhan Erajaya tidak lagi hanya mengikuti siklus perkembangan gadget, tetapi mulai bergerak mengikuti perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin beragam.


Dari Gadget ke Lifestyle, Erajaya Bawa Lebih Banyak Brand Global


Selepas pandemi, pola konsumsi masyarakat semakin melebar. Konsumen tidak hanya mencari produk berdasarkan fungsi, tetapi juga pengalaman, gaya hidup, olahraga, makanan, minuman hingga mobilitas.


Perubahan itu ikut membuka ruang bagi semakin banyak merek global untuk masuk ke pasar Indonesia. Bagi konsumen lokal, brand yang sebelumnya hanya ditemui saat bepergian ke luar negeri mulai semakin mudah diakses di dalam negeri.


Erajaya kemudian memperluas portofolionya mengikuti perubahan tersebut. Pada 2021, Paris Baguette membuka gerai pertamanya di Indonesia.

Setahun kemudian, portofolio olahraga dan athleisure berkembang melalui JD Sports, Urban Adventure dan ASICS, sementara kategori elektronik konsumen dan peralatan rumah tangga diperluas melalui Erablue serta erafone & more.

Pada 2022, perusahaan juga membentuk joint venture PT Mitra Belanja Anda untuk membuka gerai GrandLucky Superstore di Fresh Market PIK.

Eraspace atau Urban Republic. (Dok. Erajaya)Eraspace atau Urban Republic. (Dok. Erajaya) Foto: Eraspace atau Urban Republic. (Dok. Erajaya)


Ekspansi berlanjut pada 2023 melalui pembukaan Apple Premium Partner pertama di Indonesia sekaligus peresmian iBox ke-100. Pada 2024, Erajaya membawa Bacha Coffee, serta membuka MST Golf Arena pertama di Indonesia.
Setahun kemudian, pilihan konsumen semakin beragam. Erajaya membawa kendaraan listrik XPENG ke Indonesia, membuka jaringan CHAGEE, menghadirkan perangkat premium HONOR, serta memperluas bisnis olahraga melalui Wilson dan ANTA.


Ekspansi tersebut menunjukkan perubahan besar dalam model bisnis Erajaya. Perusahaan tidak lagi hanya mengikuti siklus pergantian gadget, tetapi mulai membangun portofolio berdasarkan tren konsumsi yang lebih luas yakni dari teknologi, olahraga, makanan dan minuman hingga kendaraan listrik.


Ekspansi berlanjut pada 2026. Erajaya menjadi mitra dan distributor resmi Belkin di Indonesia, membawa GENTLEWOMAN ke pasar domestik, serta memperluas jaringan sejumlah brand seperti DJI, Shokz dan MST Golf ke berbagai kota.

Gentlewoman Indonesia Store. (Dok. @Gentlewoman Indonesia Store)Gentlewoman Indonesia Store. (Dok. @Gentlewoman Indonesia Store) Foto: Gentlewoman Indonesia Store. (Dok. @Gentlewoman Indonesia Store)


Erajaya Food & Nourishment (EFN) akan memperluas portofolio produknya dengan meluncurkan dua merek baru pada tahun ini, yakni I'm donut? dan Oriental Kopi.

Skalanya pun terus membesar. Pada semester I-2026, jumlah gerai Erajaya telah mencapai 2.506, sementara anggota Eraspace meningkat menjadi 18,4 juta dari 1,4 juta pada 2019.


Tiga dekade setelah berdiri, Erajaya semakin bergerak dari distributor perangkat telekomunikasi menjadi ekosistem ritel dan lifestyle. Perubahannya mengikuti kebutuhan konsumen Indonesia yang juga terus berkembang yakni lebih digital, lebih terhubung, dan semakin terbuka terhadap brand serta pengalaman global.

Erajaya terus melebarkan bisnis yang berdampak positif ke kantong perusahaan. Transformasi berikutnya terjadi ketika perusahaan mulai mengintegrasikan jaringan toko dengan kanal digital.

Layanan omnichannel diperkenalkan pada 2018, kemudian diperkuat melalui Eraspace dan program loyalitas MyEraspace pada 2019. Strategi ini membuat pelanggan dapat berbelanja, memperoleh layanan dan menggunakan poin loyalitas melalui ekosistem yang lebih terhubung.

Pada 2023, iBox mencapai 100 gerai dan ERAL melantai di bursa. Pada 2024-2026, ekspansi berlanjut ke Papua, kuliner, elektronik, olahraga, serta merek global lainnya. Erablue bahkan mencapai gerai 261 per Semester I 2026.

Di luar bisnis, Erajaya juga mengembangkan Wana Erajaya, pengelolaan limbah elektronik, dan pendidikan vokasi. Pertumbuhan tersebut turut membawa Erajaya masuk Fortune Southeast Asia 500 selama tiga tahun berturut-turut, dengan posisi ke-84 pada 2026.

Pertumbuhan jaringan dan portofolio tidak selalu membuat laba Erajaya bergerak lurus. Perseroan melewati beberapa periode penurunan keuntungan, terutama pada 2013-2014, 2019 dan 2023. Namun, Erajaya juga mencatat sejumlah fase pertumbuhan kuat, termasuk pada 2018, selama pandemi 2020-2021, serta dalam dua tahun terakhir.

Tabel berikut menggunakan definisi yang konsisten, yakni laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

 


Sepanjang 2025, laba entitas induk mencapai Rp1,20 triliun, menjadi pencapaian tahunan tertinggi perusahaan.

Momentum tersebut berlanjut pada semester I-2026. Penjualan naik 22,4% menjadi Rp42,90 triliun, laba kotor meningkat 21% menjadi Rp4,80 triliun, sedangkan laba entitas induk tumbuh lebih tinggi sebesar 38% menjadi Rp784 miliar.

Pertumbuhan laba yang lebih cepat daripada penjualan menunjukkan adanya perbaikan pada bauran produk, produktivitas operasional dan pengendalian biaya. Dengan kata lain, ekspansi Erajaya mulai menghasilkan pertumbuhan yang bukan sekadar berasal dari penambahan omzet.

Ponsel Masih Menjadi Mesin Laba

Erajaya tidak memublikasikan laba bersih setiap vertikal secara terpisah. Karena itu, cara paling tepat untuk melihat sumber keuntungan adalah melalui data laba kotor berdasarkan kelompok produk.

Bisnis telepon seluler dan tablet masih menjadi kontributor utama laba kotor Erajaya, dengan nilai mencapai Rp2,91 triliun atau sekitar 60,7% dari total laba kotor.

Dominasi tersebut sejalan dengan posisi Erajaya Digital yang menyumbang 73,5% penjualan grup. Meski laba bersih per vertikal tidak diungkapkan, besarnya penjualan dan laba kotor produk ponsel menjadi indikasi kuat bahwa bisnis digital masih merupakan mesin keuntungan utama.

Namun, arah pertumbuhannya mulai berubah. Laba kotor produk Active Lifestyle melonjak 103,1%, sementara komputer dan elektronik konsumen tumbuh 215,7%. Kedua kelompok ini secara bersama-sama menghasilkan hampir 47% tambahan laba kotor Erajaya pada semester I-2026.

Di dalam ERAL, fashion apparel menyumbang 47,6% laba kotor, diikuti aksesori dan perangkat IoT sebesar 32,8% serta otomotif 13,7%. Ini menunjukkan bahwa JD Sports, ASICS, ANTA, Wilson, Urban Republic dan berbagai produk gaya hidup bukan lagi sekadar pelengkap portofolio. Lini tersebut mulai menjadi sumber margin dan pertumbuhan baru.

Erajaya Food & Nourishment (EFN) kini menyumbang sekitar 4% terhadap pendapatan Erajaya, menunjukkan kontribusinya yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Pada semester I 2026, penjualan EFN mencapai Rp1,74 triliun, tumbuh 31,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,33 triliun, dengan kontribusi sekitar 4,1% terhadap total penjualan Erajaya sebesar Rp42,9 triliun.

Setelah 30 tahun, dampak terbesar Erajaya terletak pada kemampuannya membangun jembatan antara merek global dan konsumen Indonesia. Ponsel tetap menjadi fondasi laba, tetapi masa depan perusahaan akan semakin ditentukan oleh kemampuannya mengubah jaringan ritel dan distribusi yang besar menjadi ekosistem gaya hidup yang lebih luas, terintegrasi dan menguntungkan.



Most Popular
Features