MARKET DATA

Ekonomi Iran di Ambang Kehancuran: Inflasi Tembus 90%, Rial Ambruk

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
09 October 2026 11:30
Ilustrasi perekonomian Iran. (REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo)
Foto: Ilustrasi perekonomian Iran. (REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perekonomian Iran semakin terpuruk setelah delapan bulan menghadapi perang dan tekanan ekonomi dari Amerika Serikat (AS). 

Mata uangnya terus jatuh, harga kebutuhan sehari-hari melonjak tajam, sementara ekspor minyak yang selama ini menjadi salah satu sumber pemasukan utama harus terhenti akibat blokade yang dilakukan oleh AS. 

Situasi tersebut membuat Iran harus menghadapi salah satu krisis ekonomi terberat dalam sejarahnya. Bahkan, tekanan yang terjadi saat ini jauh lebih besar dibandingkan ketika Iran menghadapi berbagai sanksi ekonomi yang dilakukan AS pada periode-periode sebelum ini. 

Masalahnya, Iran kini tidak hanya kesulitan menjual minyak ke luar negeri, tetapi juga semakin sulit mendatangkan barang-barang yang dibutuhkan masyarakat. Kondisi ini membuat pemasukan negara menyusut, sementara harga makanan, obat-obatan, dan kebutuhan lainnya terus meningkat.

Blokade yang dilakukan AS pun mulai menunjukkan hasil dalam melemahkan perekonomian Iran. Namun, tekanan yang semakin besar belum membuat pemerintah Iran bersedia mengakhiri perang ataupun memenuhi tuntutan Washington.

Bahkan, Kepala Keamanan Iran Mohsen Rezaei dilaporkan telah memperingatkan rekan-rekannya bahwa negaranya sedang menghadapi salah satu periode tersulit dalam sejarah.

Rial Iran Anjlok, Inflasi Tembus 90%

Salah satu gambaran paling jelas dari memburuknya ekonomi Iran terlihat pada pergerakan mata uangnya, rial.

Nilai rial terus merosot terhadap dolar AS dan mencapai level yang sangat rendah. Kondisi ini terjadi ketika perang membuat pemasukan devisa Iran semakin terbatas, sementara kebutuhan terhadap mata uang asing tetap tinggi.

Melansir data Refinitiv, pada perdagangan Kamis (8/10/2026), kurs rial Iran tercatat terparkir di posisi 1.768.000 rial per dolar AS.

Posisi tersebut jauh lebih lemah dibandingkan pada awal 2026, ketika kurs rial masih berada di level 762.100 per dolar AS.

Artinya, nilai rial telah merosot sekitar 56,90% terhadap dolar AS.

Sementara itu, jumlah rial yang dibutuhkan untuk membeli satu dolar AS meningkat sekitar 132%.


Kondisi di pasar bebas bahkan memperlihatkan tekanan yang jauh lebih besar. Kurs rial dilaporkan sudah mencapai sekitar 2,7 juta per dolar AS dikutip dari The Economist.

Pelemahan rial menjadi persoalan serius karena Iran masih membutuhkan berbagai barang dari luar negeri. Ketika nilai mata uangnya terus terdepresiasi, pemerintah maupun perusahaan Iran harus mengeluarkan lebih banyak rial untuk membeli barang dengan harga dolar yang sama.

Kondisi tersebut kemudian mendorong harga barang di dalam negeri semakin mahal.

Bank Sentral Iran sebenarnya telah berusaha meredam tekanan dengan menyuntikkan valuta asing senilai US$2 miliar ke pasar pada September lalu. 

Langkah tersebut sempat memperlambat kejatuhan rial, tetapi belum mampu membuat mata uang Iran kembali menguat secara berkelanjutan.

Dampaknya langsung terasa pada tekanan harga di Iran. Pada September 2026, inflasi tahunan Iran mencapai 90%, level tertinggi sejak Perang Dunia II.

Harga makanan dan transportasi bahkan melonjak lebih dari 115% dibandingkan setahun sebelumnya, sementara harga pakaian naik 97%. Kenaikan yang lebih parah terjadi pada minyak goreng, telur, dan beras yang harganya melambung lebih dari 200%.

Lonjakan harga tersebut membuat daya beli masyarakat semakin tertekan. Sejumlah pensiunan bahkan menggelar demonstrasi karena tunjangan mereka tidak lagi mencukupi kebutuhan hidup.

Kondisi serupa dialami tenaga kesehatan. Asosiasi perawat Iran mengungkapkan sebagian anggotanya memilih berhenti bekerja karena gaji mereka kini hanya bernilai sekitar US$100 per bulan.

Blokade AS Bikin Ekspor Minyak Iran Terhenti

Tekanan terhadap ekonomi Iran semakin berat setelah AS memperketat blokade terhadap jalur pengiriman minyaknya.

Sebelumnya, Iran masih mampu mempertahankan penjualan minyak meskipun menghadapi sanksi ekonomi.

Bahkan pada 2020, ketika pemerintahan Donald Trump menjalankan kebijakan tekanan maksimum dan dunia dilanda pandemi Covid-19, Iran masih menjual lebih dari 440.000 barel minyak per hari.

Namun, situasinya sekarang berubah. AS telah mengerahkan kapal perang untuk memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran dan dilaporkan telah melumpuhkan atau menenggelamkan sedikitnya delapan kapal tanker minyak sepanjang September.

Dampaknya, kegiatan pemuatan minyak mentah baru untuk ekspor dari Iran turun hingga nol pada periode september dan menjadi pertama kalinya sejak 1979.

Meski demikian, Iran masih bisa menjual minyak kepada China menggunakan persediaan yang sebelumnya disimpan di kapal-kapal tanker di luar wilayah blokade, terutama di kawasan Asia.

Persediaan tersebut terus menipis. Berdasarkan perkiraan perusahaan data Kpler yang dikutip dalam laporan tersebut, stok minyak Iran di luar wilayah blokade kini hanya sekitar 10 juta barel, jauh lebih rendah dibandingkan lebih dari 120 juta barel sebelum perang.

Jika tidak ada tambahan pasokan, persediaan tersebut diperkirakan akan habis dalam hitungan pekan. Pembayaran dari penjualan minyak sebelumnya mungkin masih masuk hingga Desember, tetapi setelah itu pemasukan Iran berisiko semakin menyusut.

Ekspor ke China Juga Anjlok, Aluminium Turun 96%

Persoalan perdagangan Iran ternyata tidak berhenti pada minyak. Ekspor barang nonmigas ke China, salah satu mitra dagang terbesarnya, juga merosot tajam.

Dalam kondisi normal, China biasanya membeli produk nonmigas Iran senilai lebih dari US$4 miliar setiap tahun, mulai dari plastik hingga kacang pistachio.

Namun, sepanjang Januari-Agustus 2026, nilai impor barang nonmigas China dari Iran hanya mencapai US$746 juta. Jumlah tersebut turun 67% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan anjlok 74% dibandingkan 2024.

Penurunan terjadi pada berbagai barang industri. Berdasarkan data Bea Cukai China, nilai ekspor aluminium Iran ke China anjlok 96% sepanjang Januari-Agustus 2026 dibandingkan periode yang sama pada 2024.

Ekspor besi dan baja turun 84%, bahan kimia organik 80%, bijih mineral 71%, serta produk plastik 70%.

Ekspor Nonmigas Iran ke China Anjlok, Aluminium Turun 96%Ekspor Nonmigas Iran ke China Anjlok, Aluminium Turun 96% Foto: The Economist

Iran sebenarnya berusaha mencari jalur perdagangan lain melalui perbatasan darat dan Laut Kaspia. Namun, upaya tersebut belum mampu menggantikan pengiriman melalui pelabuhan di Teluk Persia.

Truk pengangkut barang harus mengantre selama berhari-hari di perbatasan, sementara kapasitas pelabuhan dan kapal di Laut Kaspia masih terbatas.

Iran bahkan mencoba mengirim minyak ke China menggunakan kereta api. Namun, dibutuhkan sekitar 2.800 gerbong tangki untuk mengangkut minyak sebanyak muatan satu kapal tanker besar.

Tekanan perdagangan juga meluas ke sektor penerbangan setelah AS menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan asing yang melayani pesawat Iran.

Dalam dua pekan setelah sanksi berlaku pada 23 September, aktivitas penerbangan internasional Iran merosot dari 989 menjadi hanya 153 kedatangan dan keberangkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kondisi ini turut mengancam pasokan obat-obatan karena sekitar 60% impor produk medis Iran masuk melalui jalur udara. Padahal, harga obat di negara tersebut sudah naik sekitar 150% sepanjang tahun ini.

Ekonomi Terjepit, Akankah Iran Menyerah?

Tekanan ekonomi yang semakin berat membuat pemerintah Iran berusaha mencari jalan keluar melalui diplomasi.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dilaporkan telah mengadakan pembicaraan tidak langsung dengan pejabat AS saat Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada September lalu.

Iran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari apabila AS memenuhi sejumlah persyaratan. Tawaran tersebut lebih cepat dibandingkan kesepakatan sebelumnya yang memberikan waktu 30 hari.

Namun, Presiden AS Donald Trump menolaknya.

Penolakan tersebut membuat peluang berakhirnya konflik masih belum jelas. Apalagi, Iran dilaporkan meningkatkan serangan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz, dengan sedikitnya sepuluh serangan dalam dua pekan terakhir.

Di tengah situasi tersebut, Desember berpotensi menjadi periode penting. Persediaan minyak Iran terus menipis, sementara pembayaran terakhir dari sebagian penjualan sebelumnya diperkirakan akan diterima pada bulan tersebut.

Meski menghadapi tekanan ekonomi yang sangat berat, belum ada kepastian bahwa pemerintah Iran akan menyerah.

Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnasser Hemmati sendiri pernah menanggapi prediksi bahwa ekonomi negaranya akan segera runtuh dengan sebuah peribahasa Persia.

"Anak ayam dihitung pada akhir musim gugur," ujar Hemmati, sebagaimana dikutip dari The Economist.

Peribahasa tersebut menggambarkan bahwa hasil akhir baru bisa dinilai ketika seluruh proses telah berlangsung.

Musim gugur akan berakhir pada 21 Desember. Saat itulah kondisi ekonomi Iran mungkin akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai seberapa jauh negara tersebut mampu bertahan menghadapi tekanan AS.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular