MARKET DATA

Rupiah Menguat ke Rp17.855/US$, Menanti Data APBN dan BI

Elaine Tairio,  CNBC Indonesia
09 October 2026 09:17
Rupiah dan IHSG
Foto: Ilustrasi/ Rupiah dan IHSG/ Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Jumat (9/10/2026), setelah sehari sebelumnya gagal mempertahankan penguatan dan berakhir di zona merah.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp17.855/US$ atau menguat 0,20% dibandingkan penutupan Kamis (8/10/2026) di Rp17.890/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,15% ke posisi 101,988.

Pergerakan rupiah hari ini turut dipengaruhi sejumlah sentimen domestik dan global, mulai dari perkembangan fiskal dan konsumsi dalam negeri hingga kondisi pasar tenaga kerja AS.

Dari domestik, perhatian pasar tertuju pada konferensi pers APBN KiTa edisi September 2026 yang dijadwalkan berlangsung hari ini. Pemerintah akan memaparkan secara lebih rinci perkembangan penerimaan, belanja, dan kondisi fiskal menjelang akhir tahun.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengungkapkan bahwa defisit APBN hingga September 2026 mencapai Rp319 triliun atau setara 1,24% terhadap produk domestik bruto (PDB). Rasio tersebut melebar dari sekitar 0,9% PDB pada Agustus, tetapi masih lebih rendah dibandingkan September 2025 yang mencapai Rp371,5 triliun atau 1,56% PDB.

"Ini biasanya kami laporkan secara detail setiap bulan, ini angka akan kami laporkan secara detail besok lewat press conference APBN," ujar Suahasil dalam Investor Daily Summit 2026, Kamis (8/10/2026).

Pemaparan tersebut menjadi perhatian pasar untuk mencermati kondisi fiskal dan kebutuhan pembiayaan pemerintah hingga akhir tahun, termasuk prospek penerbitan surat utang negara.

Selain itu, Bank Indonesia (BI) dijadwalkan merilis data penjualan eceran Agustus 2026. Data ini akan memberikan gambaran mengenai keberlanjutan pemulihan konsumsi domestik, setelah penjualan eceran pada Juli tumbuh 1,1% secara tahunan (year-on-year/yoy), berbalik dari kontraksi 3% pada Juni.

Dari eksternal, pasar mencermati data klaim pengangguran awal AS atau initial jobless claims yang dirilis kemarin.

Jumlah klaim pengangguran awal AS turun 2.000 menjadi 197.000 pada pekan yang berakhir 3 Oktober 2026, lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 200.000. Angka tersebut sekaligus menjadi yang terendah sejak pertengahan Juli.

Di sisi lain, klaim pengangguran berkelanjutan atau continuing claims meningkat 17.000 menjadi 1,716 juta, meskipun masih berada di sekitar level terendah dalam lebih dari tiga tahun.

Data tersebut menunjukkan bahwa tingkat pemutusan hubungan kerja di AS masih relatif rendah, sementara kenaikan klaim berkelanjutan mengindikasikan sebagian pencari kerja masih menghadapi tantangan untuk kembali mendapatkan pekerjaan.

Kondisi pasar tenaga kerja AS yang relatif bertahan dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Jika pasar menilai ruang pelonggaran moneter semakin terbatas, dolar AS berpotensi mendapat dukungan sehingga menjadi tantangan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

(rob/rob)



Most Popular