MARKET DATA
Newsletter

Badai dari Amerika Belum Usai, Awas IHSG-Rupiah Terguncang!

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
08 October 2026 06:20
10 Negara Primadona Investor Asing, Ada RI!
Foto: Infografis/ 10 Negara Primadona Investor Asing, Ada RI!/ Ilham
  • Pasar keuangan RI ditutup beragam IHSG dan SBN melemah sementara Rupiah kembali menguat
  • Wall Street ambruk di tengah lonjakan imbal hasil US Treasury
  • Indeks Keyakinan Konsumen dan FOMC minutes menjadi penggerak utama pasar pada hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam pada perdagangan terakhir kemarin, Rabu (7/10/2026). Bursa saham dan obligasi pemerintah melemah sementara  rupiah kembali menguat.

Sentimen pasar kemarin masih dibayangi perkembangan konflik di Timur Tengah serta rilis data perekonomian dalam maupun luar negeri yang masih sulit diprediksi arahnya.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan kompak menguat pada perdagangan hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Rabu (7/10/2026) di zona merah. IHSG parkir di level 6.146,72, turun 46,20 poin atau 0,75%.

Sebelumnya, IHSG dibuka menguat di level 6.210,42 dan sempat menyentuh titik tertinggi di 6.214,76 tidak lama setelah pembukaan. Namun, tekanan jual segera muncul dan indeks berbalik arah hingga turun ke kisaran 6.170-an sebelum pukul 10.00 WIB.

Indeks sempat rebound ke area 6.200 pada awal sesi, tetapi kembali tertekan dan bergerak turun ke kisaran 6.160-an menjelang pukul 11.00 WIB.

Memasuki sesi siang hingga penutupan, IHSG bergerak sideways di rentang sempit sekitar 6.140 hingga 6.160. Level terendah kemarin tercatat di 6.136,19.

Pelemahan iHSG sepanjang perdagangan kemarin disebabkan oleh 378 saham yang melemah, 157 saham tak bergerak, dan hanya 258 saham yang menguat.

Dari segi perdagangan foreign, terpantau di all market bursa mengalami net foreign outflow sebesar Rp 871,36 miliar sementara di pasar reguler tercatat juga mengalami net foreign outflow sebesar Rp 828,65 miliar.

Sehingga apabila dijumlah dalam kurun waktu year to date atau sejak awal tahun 2026, all market terpantau mengalami net foreign outflow sebesar Rp 83,60 triliun sementara di reguler juga terpantau net outflow sebesar Rp 110,28 triliun.

Mengutip data Refinitiv, pelemahan IHSG sepanjang kemarin berasal dari sektor energi yang anjlok 2,6%, disusul oleh sektor infrastruktur yang turun 1,8%, dan sektor material dasar yang - 0.8%.

Adapun saham-saham yang membebani IHSG antara lain, PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN),PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).

Sementara saham-saham penopang koreksi IHSG antara lain, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA), PT Capital Financial Indonesia Tbk (CASA), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).

Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi mencapai 48,4 miliar saham dengan nilai transaksi Rp36,19 triliun dengan frekuensi sekitar 1,53 juta kali.

Lanjut ke mata uang Rupiah, Nilai tukar rupiah berakhir menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (7/10/2026). Penguatan ini memperpanjang tren positif rupiah setelah sehari sebelumnya juga terapresiasi.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp17.875/US$, menguat 0,08% dibandingkan penutupan Selasa (6/10/2026) di Rp17.890/US$.

Rupiah sebelumnya membuka perdagangan lebih kuat di level Rp17.820/US$. Namun, mata uang Garuda kemudian kehilangan sebagian penguatannya hingga berakhir di Rp17.875/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada sekitar pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,35% ke posisi 102,186.

Pergerakan rupiah kemarin turut dibayangi sejumlah sentimen domestik dan global.

Dari domestik, Bank Indonesia (BI) mengumumkan cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 sebesar US$146,3 miliar, turun tipis US$200 juta dibandingkan posisi akhir Agustus sebesar US$146,5 miliar.

Perkembangan cadangan devisa tersebut dipengaruhi terutama oleh penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa.

Pada saat yang sama, BI juga memenuhi pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo dan menjalankan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.

Lanjut ke pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun terpantau mengalami sedikit perubahan pada perdagangan kemarin ke level 7.168% dari hari sebelumnya di level 7.167%.

Hal ini mengindikasikan bahwa pasar obligasi tersebut lebih didominasi oleh aksi penjualan ketimbang dengan pembelian pada pasar sekunder.

Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), Wall Street ambruk pada pada perdagangan Rabu (7/10/2026) atau Kamis dini hari waktu Indonesia.

Bursa ambruk di tengah tekanan yang terus meningkat di pasar obligasi. Imbal hasil (yield) Treasury AS melonjak ke level yang belum pernah terlihat dalam lebih dari dua dekade.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 341,41 poin atau 0,66% ke 51.179,87. Sementara S&P 500 melemah 0,22% menjadi 7.801,77 dan Nasdaq Composite melandai 0,22% ke 27.538,69.

Investor dibuat khawatir setelah yield obligasi Treasury AS tenor 10 tahun mencapai 5,365%, level tertinggi sejak April 2002. Yield obligasi tenor 30 tahun juga menyentuh 5,732%, level tertinggi sejak Mei 2002.

 

Yield Treasury 10 tahun kemudian turun dari level tertingginya setelah pemerintah AS menggelar lelang surat utang senilai US$39 miliar. Pergerakan yield yang kemudian relatif stabil membantu saham memangkas sebagian pelemahannya.

Bill Merz, Head of Capital Markets Research U.S. Bank Asset Management, mengatakan rasio bid-to-cover serta partisipasi investor tidak langsung dalam lelang tersebut tergolong kuat.

"Minat investor tetap ada pada tingkat yield yang relatif tinggi ini dibandingkan dengan yang biasa mereka lihat dalam 15 hingga 20 tahun terakhir. Namun, kita perlu menyikapinya dengan hati-hati karena ada banyak faktor lain yang juga perlu dipertimbangkan," ujarnya, dikutip dari CNBC International.

Di sisi lain, risalah rapat Federal Reserve (The Fed) September menunjukkan para pejabat bank sentral AS memperkirakan kenaikan suku bunga masih akan dilakukan sebelum akhir tahun, meski belum ada indikasi kapan tepatnya.

"Sebagian besar peserta menilai kenaikan kembali target suku bunga federal funds kemungkinan akan tepat dilakukan sebelum akhir tahun," tulis risalah tersebut.

Namun, para pejabat menegaskan bahwa setiap rapat akan dilakukan secara terbuka terhadap berbagai kemungkinan. Keputusan berikutnya akan bergantung pada data ekonomi terbaru serta dampaknya terhadap prospek ekonomi dan keseimbangan risiko.

Kenaikan yield juga menekan sejumlah sektor utama pasar. Saham perbankan melemah karena investor khawatir suku bunga yang lebih tinggi dapat menghambat aktivitas penyaluran kredit.

Saham Goldman Sachs dan Bank of America masing-masing turun sekitar 1%. Saham Wells Fargo, Citigroup, dan JPMorgan juga ditutup melemah.

Saham teknologi turut tertekan akibat kekhawatiran bahwa biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat membatasi investasi besar-besaran di sektor kecerdasan buatan (AI).

Saham CrowdStrike anjlok hampir 5%, sementara Palo Alto Networks dan Meta Platforms masing-masing turun lebih dari 3% dan 2%.

Mike Dickson, Head of Research and Quantitative Strategies Horizon Investments, mengatakan kenaikan yield membuat ruang toleransi pasar terhadap kinerja perusahaan semakin sempit.

"Dengan level suku bunga saat ini dan kenaikan yang telah terjadi, cukup wajar jika dikatakan bahwa margin of error terkait kinerja laba semakin menyempit," ujarnya kepada CNBC.

Meski demikian, ia menilai laporan keuangan perusahaan masih berpotensi mendorong pasar lebih tinggi. Menurutnya, level yield saat ini memang memiliki dasar yang kuat, tetapi bukan berarti dampaknya dapat diabaikan.

Dickson juga mengatakan ekspektasi inflasi masih sangat terjag meskipun yield terus meningkat. Menurutnya, jika kenaikan yield Treasury 10 tahun dipicu oleh ekspektasi inflasi yang mulai tidak terkendali, situasinya bisa menjadi jauh lebih berisiko.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah AS (WTI) turun 1,3% menjadi US$88,28 per barel. Sementara minyak mentah Brent ditutup di US$100,20 per barel, turun 0,4%.

Sehari sebelumnya, S&P 500 untuk pertama kalinya ditutup di atas level 7.800, didorong oleh penguatan saham-saham perusahaan chip.

Sentimen pasar pada Kamis (8/10/2026) akan dipengaruhi perkembangan ketahanan eksternal Indonesia dan arah kebijakan moneter global. Kemarin, cadangan devisa Indonesia tercatat sedikit menurun, meski tingkat kecukupannya tetap melampaui standar internasional serta rilis data uang primer Indonesia.

Hari ini, perhatian beralih ke hasil risalah Federal Open Market Committee (FOMC) dari rapat The Fed yang terbit dini hari tadi, kemudian laporan keyakinan konsumen Indonesia.

Pandangan The Fed yang hawkish, lonjakan indeks dolar dan tingginya imbal hasil US Treasury akan memberi tekanan bagi pasar saham dan rupiah.

Menjelang malam, risalah Bank Sentral Eropa dan klaim pengangguran Amerika Serikat akan menjadi bahan penilaian berikutnya terhadap prospek suku bunga, nilai tukar, dan aset berisiko.

1. Perkembangan Perang: Serangan Bandara Saudi Tewaskan 3 Orang, Perang Yaman Makin Memanas

Tiga orang tewas dalam serangkaian serangan terhadap fasilitas bandara di Arab Saudi ketika konflik di Yaman antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan pasukan pemerintah yang didukung Saudi semakin memanas.

Otoritas penerbangan sipil Saudi menyebut 1 orang tewas dan 8 luka-luka dalam serangan di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh. Sementara serangan di Bandara Abha menewaskan 2 orang dan melukai 28 lainnya.

Koalisi pimpinan Saudi menyatakan serangan tersebut "tidak akan dibiarkan tanpa balasan". Koalisi mengklaim telah menyerang lebih dari 80 target militer Houthi di sejumlah wilayah Yaman.

Pada hari yang sama, Houthi juga menyerang Bandara Internasional Aden dengan rudal balistik dan drone bermuatan bahan peledak. Salah satu rudal jatuh di dekat landasan hanya beberapa menit sebelum pesawat dari Kairo dijadwalkan mendarat.

Pertempuran kini berpusat di sekitar Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis yang semakin penting bagi perdagangan energi setelah konflik AS-Iran mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz.

Konflik terbaru ini telah menyebabkan lebih dari 200.000 orang mengungsi, menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM). Krisis kemanusiaan juga memburuk, dengan PBB menyebut tiga dari empat keluarga di sejumlah wilayah Yaman mengalami kekurangan pangan.

Saudi juga tengah mencari dukungan internasional. Turki dikabarkan mengirim bantuan pertahanan dan teknis, sementara Suriah mempertimbangkan kemungkinan mengirim bantuan militer untuk membantu Saudi menghadapi Houthi.

Konflik Yaman sendiri telah berlangsung selama lebih dari satu dekade. Houthi menguasai sebagian besar wilayah utara Yaman dan merebut ibu kota Sanaa pada 2014, memicu intervensi koalisi yang dipimpin Saudi untuk membendung pengaruh Iran.

2. Imbal Hasil US Treasury Turun Tapi Masih di Level Tinggi


Yield Treasury AS turun pada Rabu setelah lelang obligasi tenor 10 tahun senilai hampir US$40 miliar mendapat permintaan kuat. Penurunan ini terjadi setelah yield sebelumnya mencapai level tertinggi yang belum pernah terlihat sejak 2002.

Yield obligasi Treasury AS tenor 10 tahun, yang menjadi acuan penting bagi pasar saham, sempat mencapai 5,365% pada perdagangan Rabu. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak April 2002.

Kenaikan juga terjadi pada obligasi tenor lebih panjang. Yield Treasury 30 tahun sempat menyentuh 5,732%, sebelum kembali turun akibat tingginya permintaan dalam lelang.

Departemen Keuangan AS melelang US$39 miliar obligasi tenor 10 tahun dengan yield 5,300%, menjadi level tertinggi pada abad ini. Namun, permintaan yang kuat kemudian membantu menekan yield ke sekitar 5,27%. Menurut Bloomberg, rasio permintaan mencapai 2,77 kali dari jumlah yang ditawarkan.

Investor tidak langsung, termasuk bank sentral dan investor institusi, menyerap 80,34% dari permintaan. Sementara pembeli langsung menyumbang 17,12%, menunjukkan tingginya minat terhadap surat utang tersebut.

Yield obligasi tenor 30 tahun juga turun ke sekitar 5,65%, sejalan dengan kuatnya permintaan terhadap surat utang pemerintah AS.

.

Kenaikan yield Treasury menjadi perhatian bagi Indonesia karena dapat meningkatkan tekanan terhadap aset pasar berkembang.

Pertama, rupiah berisiko tertekan. Yield AS yang tinggi membuat aset dolar semakin menarik dan berpotensi mendorong investor mengalihkan dana dari emerging market. Kondisi ini dapat meningkatkan permintaan dolar dan menekan rupiah.

Kedua, yield SBN berpotensi ikut naik. Ketika imbal hasil US Treasury meningkat, investor biasanya meminta premi yang lebih tinggi untuk memegang surat utang negara berkembang seperti SBN. Jika yield naik, harga SBN akan tertekan.

Ketiga, biaya utang pemerintah bisa meningkat. Yield SBN yang lebih tinggi membuat penerbitan surat utang baru berpotensi lebih mahal. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan beban pembayaran bunga dan mempersempit ruang fiskal.

Keempat, IHSG berpotensi ikut terdampak. Investor asing dapat melakukan rebalancing dari saham emerging market ke aset AS yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Saham sektor properti, konstruksi, serta perusahaan dengan valuasi tinggi biasanya lebih sensitif terhadap kenaikan biaya dana.

Kelima, Bank Indonesia (BI) menghadapi dilema. BI perlu menjaga stabilitas rupiah di tengah tingginya yield AS, tetapi juga harus mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi. Tekanan yang berlebihan terhadap rupiah dapat mendorong BI mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat atau meningkatkan intervensi di pasar valas.

3. Cadangan Devisa Indonesia September 2026

Bank Indonesia pada Rabu mengumumkan cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$146,3 miliar, turun US$200 juta dari US$146,5 miliar pada Agustus. Tidak tersedia konsensus pasar untuk rilis tersebut.

Penurunan terjadi di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo serta langkah stabilisasi rupiah oleh Bank Indonesia menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global.

Meski berkurang, cadangan tersebut masih setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor, atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Tingkat kecukupannya tetap melampaui standar internasional sekitar tiga bulan impor. Bagi pasar, posisi ini menunjukkan bahwa bantalan eksternal Indonesia masih terjaga.

Namun, perkembangan cadangan berikutnya tetap perlu dicermati bersama pergerakan rupiah dan arus modal asing, bukan dibaca sebagai indikator tunggal kondisi ekonomi.

4. Uang Primer Indonesia September 2026

Laporan Bank Indonesia yang diumumkan kemarin menunjukkan uang primer atau M0 adjusted mencapai Rp2.353,1 triliun pada September. Pertumbuhannya melambat menjadi 9,3% secara tahunan, dibandingkan 16,3% pada Agustus, atau turun tujuh poin persentase.

Artinya, uang primer masih tumbuh dibandingkan tahun sebelumnya, bukan mengalami kontraksi.

Perkembangan tersebut dipengaruhi pertumbuhan uang kartal yang diedarkan sebesar 11,8% serta giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 3,9%.

Perhitungan M0 adjusted mengisolasi dampak penurunan giro bank di BI akibat pemberian insentif likuiditas, sehingga membantu membaca perkembangan uang primer secara lebih tepat.

Bagi pasar, perlambatan ini menjadi tambahan perhatian terhadap kondisi likuiditas domestik. Namun, data tersebut tidak otomatis menunjukkan penurunan kredit atau konsumsi masyarakat, sehingga perlu dibaca bersama perkembangan penghimpunan dana, penyaluran kredit, dan aktivitas ekonomi.

5. FOMC Minutes: The Fed Siapkan Kenaikan Bunga Lagi

Bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) diperkirakan kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun untuk menekan inflasi yang masih berada di atas target 2%.

Risalah rapat September menunjukkan mayoritas pejabat Fed menilai satu kali kenaikan bunga lagi kemungkinan diperlukan tahun ini. Namun, belum ada kepastian apakah kenaikan akan dilakukan pada rapat 28 Oktober atau 9 Desember.

The Fed menegaskan keputusan berikutnya tetap bergantung pada data ekonomi terbaru dan keseimbangan risiko.

"Dalam mempertimbangkan prospek kebijakan moneter setelah rapat saat ini, sebagian besar peserta menilai bahwa kenaikan kembali kisaran target suku bunga federal funds kemungkinan akan tepat dilakukan sebelum akhir tahun," demikian bunyi risalah tersebut.

Namun, pandangan tersebut disertai catatan kehati-hatian.

"Para peserta menekankan bahwa mereka menghadapi setiap rapat dengan pikiran terbuka dan keputusan pada rapat mendatang akan bergantung pada informasi yang masuk serta implikasinya terhadap prospek ekonomi dan keseimbangan risiko," tulis risalah tersebut.

Setelah rapat tersebut, yang diikuti pernyataan tegas mengenai inflasi dari Ketua The Fed Kevin Warsh dalam konferensi pers berikutnya, pasar mulai bertaruh bahwa The Fed akan melanjutkan kenaikan suku bunga setelah kenaikan pada 16 September dengan kenaikan berikutnya pada rapat akhir Oktober.

Inflasi inti PCE pada Agustus tercatat 3%, sementara inflasi utama mencapai 3,4%, masih jauh di atas target 2%. Di sisi lain, pasar tenaga kerja dinilai mendekati kondisi lapangan kerja maksimum dan pertumbuhan ekonomi menguat.

Sebanyak 16 dari 18 pejabat FOMC memperkirakan masih ada satu kenaikan bunga tahun ini, tetapi tidak ada kenaikan pada 2027.

Risalah juga menyoroti lonjakan yield Treasury AS yang kini berada di level tertinggi sejak 2002, didorong ekspektasi suku bunga lebih tinggi, pertumbuhan ekonomi yang solid, investasi AI, serta ketidakpastian program buyback utang pemerintah AS.

6. Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia September 2026

Bank Indonesia dijadwalkan mengumumkan Indeks Keyakinan Konsumen atau IKK September pada hari ini, Kamis (8/10/2026) pukul 10.00 WIB. Pada Agustus, indeks meningkat menjadi 118,5 dari 116,8 pada Juli, menandai kenaikan pertama dalam empat bulan. Konsensus pasar untuk September belum tersedia.

Perbaikan sebelumnya ditopang penilaian yang lebih baik terhadap kondisi ekonomi saat ini, pembelian barang tahan lama, serta ketersediaan lapangan kerja.

Investor akan mencermati apakah pemulihan keyakinan tersebut berlanjut atau kembali melemah. Indeks di atas 100 menunjukkan bahwa konsumen secara keseluruhan masih berada dalam wilayah optimistis.

Namun, arah perubahannya tetap penting untuk membaca prospek konsumsi rumah tangga. Penguatan keyakinan dapat mendukung ekspektasi permintaan domestik, sedangkan penurunan berpotensi menambah kekhawatiran terhadap daya beli dan penjualan perusahaan yang bergantung pada belanja masyarakat.

7. Risalah ECB September 2026

Dari zona euro, risalah rapat kebijakan moneter ECB September dijadwalkan keluar pada hari ini Kamis pukul 18.30 WIB. Pada pertemuan tersebut, ECB menaikkan suku bunga utama sebesar 25 basis poin menjadi 2,65%, sementara suku bunga fasilitas deposito meningkat menjadi 2,50%.

Investor akan mencari penjelasan mengenai keseimbangan antara risiko inflasi dan perlambatan ekonomi. ECB mempertahankan proyeksi inflasi 2026 sebesar 3%, tetapi menaikkan perkiraan untuk 2027 dan 2028 masing-masing menjadi 2,5% dan 2,1%.

Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan tahun ini diperbaiki menjadi 0,9%. Kombinasi tersebut membuat pandangan pejabat mengenai kebijakan berikutnya menjadi penting.

Risalah bukan pengumuman kenaikan suku bunga tambahan, tetapi dapat memengaruhi ekspektasi pasar. Nada yang lebih ketat berpotensi mendukung euro sekaligus menambah kekhawatiran terhadap biaya pendanaan dan aktivitas ekonomi kawasan.

8. Klaim Pengangguran AS Pekan Berakhir 3 Oktober 2026

Hari ini AS dijadwalkan merilis klaim pengangguran awal  untuk pekan yang berakhir pada 3 Oktober 2026. Konsensus memperkirakan jumlah pengajuan meningkat menjadi 200.000, dibandingkan 197.000 pada pekan sebelumnya.

Sebagai pembanding tambahan, klaim pengangguran berkelanjutan diperkirakan mencapai 1,710 juta, naik dari 1,701 juta.

Data ini akan membantu pasar menilai kondisi ketenagakerjaan setelah mencermati risalah The Fed. Klaim awal yang lebih rendah daripada perkiraan dapat menunjukkan bahwa gelombang pemutusan hubungan kerja masih terbatas.

Sebaliknya, kenaikan yang melampaui konsensus berpotensi menambah perhatian terhadap pelemahan pasar tenaga kerja. Meski demikian, satu laporan mingguan belum cukup untuk memastikan perubahan tren.

Investor perlu membaca arah beberapa pekan sekaligus, karena respons pasar akan bergantung pada apakah data memperkuat atau justru mengubah ekspektasi kebijakan suku bunga AS.

Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

  • F&B Forward: GrabAds Marketing Summit 2026

  • Bank Mega menggelar Mega Travel Fair Fase II di tahun 2026

  • Risalah rapat kebijakan moneter ECB Zona Euro.

  • Consumer Inflation Expectations Australia Oktober 2026.

  • Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia September 2026.

  • Neraca perdagangan Jerman Agustus 2026.

  • Neraca transaksi berjalan Jepang Agustus 2026.

  • Inflasi YoY Meksiko September 2026.

  • Inflasi inti YoY Meksiko September 2026.

  • PPI YoY Meksiko September 2026.

  • Initial Jobless Claims AS untuk pekan yang berakhir 3 Oktober 2026.

  • Continuing Jobless Claims AS untuk pekan yang berakhir 26 September 2026.

Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

  • PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) - Pemberitahuan rencana RUPS.

  • PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI) - Pemberitahuan rencana RUPS.

  • PT Cashlez Worldwide Indonesia Tbk (CASH) - Pemberitahuan rencana RUPS.

  • PT United Tractors Tbk (UNTR) - Tanggal DPS dividen tunai interim.

  • PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) - Tanggal DPS HMETD.

  • PT Astra Graphia Tbk (ASGR) - Tanggal ex dividen tunai interim.

  • PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) - Tanggal cum dividen tunai interim.

  • PT Asuransi Harta Aman Pratama Tbk (AHAP) - Tanggal cum HMETD.

  • PT Berlina Tbk (BRNA) - Tanggal cum HMETD.

  • PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) - Tanggal cum dividen tunai interim.

Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]



Most Popular
Features