Karet RI Sekarat: Kebun Menyusut, Produksi Ambles, Ekspor Babak Belur
Jakarta, CNBC Indonesia - Kejayaan karet Indonesia sebagai salah satu andalan ekspor kian meredup. Produksi merosot, puluhan pabrik pengolahan tutup, dan petani beralih menanam kelapa sawit.
Data Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) menunjukkan produksi karet nasional turun. Ekspor juga melemah. Pada Januari-Juli 2026, volume ekspor karet alam hanya mencapai 85,4% dari periode yang sama tahun sebelumnya, sementara nilai ekspor sebesar 87,5%.
Ketua DPW Apkarindo Sumatra Selatan, Supartijo, mengatakan kebun karet yang menua membuat kenaikan harga tak otomatis meningkatkan pendapatan petani. Banyak petani akhirnya beralih ke sawit.
Perkebunan karet. (Dok. Magnific) Foto: (Dok. Magnific) |
Apkarindo pun mendorong pembentukan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Karet untuk mendukung peremajaan kebun, riset, dan pengembangan industri hilir.
Supartijo memperingatkan, tanpa intervensi pemerintah, industri karet nasional terancam kehilangan masa depan.
"Kalau dibiarkan 10 tahun lagi, tinggal nama ini karet. Semua tutup. Tiap hari karet ditebangi, kayunya dijual, diganti sawit," kata Supartijo dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi IV DPR RI di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Ilustrasi panen karet. (Dok. Magnific/Nuttapong Bangnimnoi) Foto: Ilustrasi panen karet. (Dok. Magnific/Nuttapong Bangnimnoi) |
Dalam membaca data karet, karet alam merupakan komoditas yang berasal dari tanaman karet dan menjadi bahan baku berbagai produk industri.
Sementara itu, dalam statistik produksi Badan Pusat Statistik (BPS), karet dicatat dalam bentuk karet kering atau dried natural rubber.
BPS menjelaskan bahwa produksi tanaman perkebunan disajikan dalam bentuk produk olahan, dan untuk komoditas karet bentuk produksinya adalah karet kering.
Petani Karet. (Dok. Kementerian PUPR via Detikcom) Foto: Petani Karet. (Dok. Kementerian PUPR via Detikcom) |
Adapun crumb rubber atau karet remah merupakan salah satu bentuk karet alam yang telah melalui proses pengolahan.
BPS mengklasifikasikan industri karet remah sebagai kegiatan pengolahan karet yang menghasilkan karet remah atau crumb rubber. Produk ini kemudian menjadi bahan baku untuk berbagai industri hilir, termasuk ban dan komponen kendaraan.
Kebun Karet Indonesia Luas, Tapi Menyusut Perlahan
Data BPS menunjukkan Indonesia masih memiliki basis perkebunan karet yang besar. Pada 2025, luas areal perkebunan karet nasional mencapai 3.129.436 hektar, turun dari 3.676.036 hektar pada 2019 atau berkurang sekitar 14,9%.
Namun, penurunan luas lahan tersebut belum menggambarkan seluruh tekanan yang dihadapi industri karet Indonesia.
Perkebunan rakyat menjadi bagian terbesar dari areal tersebut. Pada 2025, perkebunan rakyat menguasai 2.856.356 hektar, atau sekitar 91,3% dari total areal karet nasional.
Sementara itu, perkebunan besar negara hanya memiliki 117.509 hektar dan perkebunan besar swasta 155.571 hektar.
Luas kebun rakyat sendiri turun dari 3.269.078 hektar pada 2019 menjadi 2.856.356 hektar pada 2025, atau berkurang sekitar 12,6%.
Dominasi perkebunan rakyat membuat kondisi kebun petani menjadi penentu bagi keberlangsungan produksi karet nasional. Namun, persoalannya tidak berhenti pada luas lahan.
Produksi Karet Terus Tertekan
Dalam data BPS, produksi karet disajikan dalam bentuk karet kering, yakni hasil produksi olahan dari komoditas karet.
Produksi nasional mencapai 3,30 juta ton pada 2019, turun menjadi 3,04 juta ton pada 2020, lalu relatif stabil di 3,05 juta ton pada 2021.
Setelah itu, produksi kembali melemah menjadi 2,72 juta ton pada 2022 dan terus turun hingga 2,04 juta ton pada 2025.
Artinya, produksi karet nasional merosot sekitar 38,2% sejak 2019, jauh lebih dalam dibandingkan penurunan luas areal yang sebesar 14,9%. Ini menunjukkan persoalan karet Indonesia bukan hanya berkurangnya lahan, tetapi juga produktivitas kebun yang menurun.
Tekanan tersebut paling terasa di perkebunan rakyat.
Produksi karet rakyat mencapai 2,93 juta ton pada 2019, turun menjadi 2,78 juta ton pada 2020, sempat naik tipis menjadi 2,83 juta ton pada 2021, lalu kembali melemah menjadi 2,51 juta ton pada 2022, 2,05 juta ton pada 2023, 1,94 juta ton pada 2024, dan 1,87 juta ton pada 2025.
Kondisi tersebut sejalan dengan temuan Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo). Ketua DPW Apkarindo Sumatra Selatan Supartijo mengatakan hanya sekitar 300.000-400.000 hektar yang saat ini masih memiliki produktivitas tinggi.
Menurutnya, banyak tanaman karet sudah tua, kurang mendapatkan pemupukan, serta mengalami penyadapan berlebihan atau overtapping.
Ilustrasi panen karet. (Dok. Pexels) Foto: Ilustrasi panen karet. (Dok. Pexels) |
Profesi penyadap juga semakin ditinggalkan karena pendapatannya dinilai tidak lagi menarik.
"Penyadap karet yang buruh juga sudah tidak mau kerja, karena tidak dapat Rp100.000 sehari, hanya Rp50.000-Rp60.000 sehari," ujarnya.
Ekspor Karet Juga Mengalami Tekanan
Tekanan pada sisi produksi kemudian terlihat dalam perdagangan.
Berdasarkan data BPS, ekspor karet kering Indonesia mencapai 2,44 juta ton pada 2012 dan sempat mencapai 2,99 juta ton pada 2017.
Namun setelah itu trennya cenderung melemah.
Pada 2020, ekspor turun menjadi 2,28 juta ton. Setelah sempat meningkat menjadi 2,33 juta ton pada 2021, ekspor kembali turun menjadi 2,04 juta ton pada 2022, 1,75 juta ton pada 2023, 1,62 juta ton pada 2024, dan akhirnya 1,57 juta ton pada 2025.
Jika dibandingkan dengan 2017, volume ekspor karet kering pada 2025 telah turun sekitar 47,7%.
Artinya, dalam waktu kurang dari satu dekade, volume karet kering yang keluar dari Indonesia hampir berkurang separuh.
Dengan demikian, ekspor crumb rubber juga menunjukkan tekanan dalam jangka panjang. Dibandingkan 2017, volumenya pada 2025 turun sekitar 47,6%.
Apkarindo mencatat dari 157 unit pengolahan crumb rubber yang tercatat per 30 September 2026, sebanyak 60 unit telah berhenti beroperasi. Hanya 97 unit yang masih beroperasi.
Di Sumatera Selatan, salah satu sentra karet utama Indonesia, Supartijo menyebut jumlah pabrik yang beroperasi telah menyusut dari sekitar 30 menjadi 19 unit.
Itu pun, menurutnya, sebagian tidak dapat bekerja dengan kapasitas penuh karena kekurangan bahan baku.
(slm/slm)


