MARKET DATA

Di Balik Ledakan AI, Mengapa Kebutuhan Air Ikut Meningkat?

Salma Laiqa,  CNBC Indonesia
08 October 2026 10:00
Ilustrasi Data Center. (Dok. Pexels)
Foto: Ilustrasi Data Center. (Dok. Pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin banyak digunakan untuk membantu pekerjaan, menganalisis data, hingga mendukung diagnosis medis. Di balik kemudahan tersebut, ada kebutuhan air yang ikut membesar.

Layanan tersebut ditopang oleh pusat data atau data center, yakni fasilitas yang menampung server serta perangkat penyimpanan dan jaringan untuk menyimpan, mengolah, dan mengirimkan data. Infrastruktur ini mendukung berbagai aktivitas digital, termasuk layanan cloud dan AI.

Server yang bekerja terus-menerus menghasilkan panas sehingga membutuhkan pendinginan agar perangkat tetap beroperasi optimal. University of Georgia menjelaskan bahwa air terutama digunakan untuk proses pendinginan tersebut, bukan sebagai bahan baku pengolahan data.

Jejak airnya juga meluas ke luar fasilitas. Mengutip AKCP, perusahaan teknologi yang bergerak di bidang monitoring infrastruktur berbasis sensor,  selain digunakan langsung untuk pendinginan, air dikonsumsi secara tidak langsung oleh pembangkit listrik yang memasok energi ke pusat data. Karena itu, penghematan air di lokasi perlu dinilai bersama kebutuhan listriknya.

Ekspansi infrastruktur digital pun membawa tantangan bagi pengelolaan air. Di wilayah yang menghadapi kekeringan, kebutuhan pusat data dapat menambah tekanan terhadap pasokan rumah tangga, pertanian, dan industri lainnya.

Data Center Terus Meningkat

Pusat data memiliki beragam bentuk berdasarkan fungsi dan skala operasinya. Berikut jenis-jenis pusat data menurut Lawrence Berkeley National Laboratory (LBNL). 

Pertumbuhan fasilitas hyperscale menunjukkan besarnya ekspansi industri ini. Synergy Research Group mencatat jumlahnya mencapai 1.103 pada akhir 2024, setelah meningkat dua kali lipat dalam lima tahun. Pada akhir 2025, jumlahnya mencapai 1.360.

Pada Juli 2026, Synergy juga mengidentifikasi hampir 1.500 pusat data besar dalam rencana pengembangan di seluruh dunia. Hampir separuhnya berada di Amerika Serikat (AS).

Ekspansi turut diikuti pergeseran lokasi server. Lawrence Berkeley National Laboratory (LBNL) memperkirakan sekitar 74% server di AS berada di fasilitas hyperscale dan colocation pada 2023. Pangsa tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 85% pada 2028.

Mengapa Data Center membutuhkan Begitu Banyak Air?

Air terutama digunakan untuk membuang panas dari server. Salah satu metodenya adalah pendinginan evaporatif, yang memanfaatkan penguapan air untuk melepaskan panas.

Metode ini dapat menghemat listrik, tetapi membutuhkan air pengganti karena sebagian air menguap. Pendinginan berbasis udara dapat menekan penggunaan air di lokasi, meski dalam kondisi tertentu membutuhkan lebih banyak listrik untuk menjalankan kipas dan kompresor.

Karena itu, konsumsi air antar fasilitas bisa berbeda jauh. Ukuran pusat data, beban komputasi, teknologi pendinginan, dan iklim setempat turut menentukan kebutuhannya.

Mengutip riset dari University of Georgia, fasilitas berukuran menengah dengan pendinginan evaporatif dapat menggunakan sekitar 300.000 galon AS atau 1,14 juta liter air per hari. Pada fasilitas hyperscale besar di iklim panas, penggunaannya dapat mencapai 1 juta-5 juta galon, setara 3,79 juta-18,93 juta liter per hari.

Angka tersebut merupakan gambaran fasilitas dengan karakteristik tertentu, bukan rata-rata seluruh pusat data.

Konsumsi Air Terus Meningkat

Dalam laporan Energy and AI pada 2025, Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan konsumsi air global terkait pusat data mencapai sekitar 560 miliar liter pada 2023. Volumenya diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 1,2 triliun liter per tahun pada 2030 dalam skenario dasar, atau lebih dari dua kali lipat.

Perhitungan tersebut mencakup pendinginan langsung, pasokan energi, dan pembuatan chip. Sekitar dua pertiga konsumsi pada 2023 berasal dari pasokan energi primer dan pembangkitan listrik, sementara sekitar seperempat berasal dari pendinginan langsung.

Pengambilan air merupakan seluruh air yang ditarik dari sumber. Sementara itu, konsumsi adalah bagian yang tidak dikembalikan ke sumber asal setelah digunakan, misalnya karena menguap. Karena itu, volume pengambilan dapat jauh lebih besar daripada konsumsi.

Pengambilan dan Konsumsi Air Data Center Global, 2023 dan 2030Pengambilan dan Konsumsi Air Data Center Global, 2023 dan 2030 Foto: IEA, Energy and AI (2025)

Khusus AI, artikel dalam jurnal Water Research pada 2026, yang tersedia melalui ScienceDirect, mengutip proyeksi bahwa pengambilan air global terkait teknologi tersebut dapat mencapai 4,2-6,6 triliun liter pada 2027.

Estimasi ini mencakup penggunaan langsung serta pembangkitan listrik untuk operasional AI. Angka tersebut mengukur pengambilan air, sehingga berbeda dari konsumsi air yang dilaporkan IEA.

Google menjadi salah satu contoh meningkatnya kebutuhan air pusat data. Pada 2021, perusahaan melaporkan konsumsi air pusat datanya secara global sekitar 16,3 miliar liter. Angka tersebut mencapai 39,83 miliar liter pada 2025, atau sekitar 2,4 kali lipat dalam empat tahun.

Kenaikan juga berlanjut dalam setahun terakhir. Konsumsi air pusat data Google meningkat dari 29,48 miliar liter pada 2024 menjadi 39,83 miliar liter pada 2025, atau naik 35,1%. Angka ini mencakup pusat data yang menopang berbagai layanan digital Google, termasuk AI.

Menjaga Keberlanjutan Air untuk Data Center

Keberlanjutan air perlu diperhitungkan sejak pemilihan lokasi dan desain pusat data. Artikel The Water Footprint of Artificial Intelligence: Emerging Solutions and Governance Imperatives 2026 menekankan bahwa solusi teknologi perlu disertai pengelolaan dampak terhadap sumber air dan masyarakat setempat.

Studi Using Life Cycle Assessment to Drive Innovation for Sustainable Cool Clouds dalam jurnal Nature (2025) menemukan bahwa pendinginan cold plate dan immersion cooling berpotensi menurunkan konsumsi air permukaan dan air tanah sebesar 31%-52% dibandingkan konfigurasi pendinginan udara yang diteliti. Penghematan dihitung sepanjang siklus hidup sistem dan bergantung pada desain fasilitas serta sumber listrik.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa penggunaan air dipengaruhi efisiensi server, pendinginan, dan pasokan listrik. Dengan demikian, pertumbuhan pusat data perlu disertai efisiensi seluruh sistem serta pengelolaan yang sesuai dengan ketersediaan air setempat.

(slm/slm)



Most Popular