AS-Iran Kuasai 86% Ekspor Drone Dunia, Turki Bikin Kaget!
Jakarta, CNBC Indonesia - Drone militer kini bukan lagi sekadar alat untuk mengintai pergerakan musuh. Teknologi ini telah berkembang menjadi salah satu komponen penting dalam operasi militer, termasuk untuk melancarkan serangan dari jarak jauh.
Seiring meningkatnya penggunaan drone di medan perang, perdagangan drone militer global ikut berkembang. Namun, pasar ekspor senjata jenis ini masih sangat terkonsentrasi pada sejumlah negara.
Data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi dua negara yang mendominasi ekspor drone militer dunia sepanjang 2022-2025.
Bayraktar TB2 (Baykartech.com) Foto: Bayraktar TB2 (Baykartech.com) |
AS dan Iran Kuasai 86% Ekspor Drone
Perdagangan drone militer global pada 2022-2025 sangat terkonsentrasi pada dua negara. Dari total 16.822 drone militer yang diekspor sepanjang periode tersebut, Amerika Serikat (AS) memasok 7.593 unit atau 45,1% dari total global.
Iran menyusul dengan 6.800 unit atau 40,4%. Jika digabungkan, kedua negara tersebut menyumbang sekitar 86% dari seluruh drone militer yang diekspor dunia.
Jaraknya cukup lebar dengan negara-negara eksportir lainnya. Jerman berada di posisi ketiga dengan 1.000 unit, disusul Polandia sebanyak 690 unit.
Sementara itu, Turki, yang dikenal sebagai salah satu produsen drone militer utama dunia, berada di posisi kelima dengan 381 unit.
Namun, dominasi AS dan Iran tidak dapat dilepaskan dari dinamika perang Rusia-Ukraina.
Sebuah drone tempur Bayraktar TB2 Turki terlihat selama presentasi di Pangkalan Angkatan Udara Lithuania di Siauliai, Lituania, Rabu (6/7/2022). Lithuania memamerkan drone militer buatan Turki yang rencananya akan dikirim ke Ukraina untuk membantu negara yang dilanda perang melawan invasi Rusia. Orang-orang di negara anggota NATO mengumpulkan 5,9 juta euro untuk drone Bayraktar TB2 selama tiga hari bulan lalu, sebelum produsen Turki Baykar mengumumkan akan menyumbangkan drone secara gratis. (Photo by PETRAS MALUKAS/AFP via Getty Images) Foto: Sebuah drone tempur Bayraktar TB2 Turki terlihat selama presentasi di Pangkalan Angkatan Udara Lithuania di Siauliai, Lituania, Rabu (6/7/2022). Lithuania memamerkan drone militer buatan Turki yang rencananya akan dikirim ke Ukraina untuk membantu negara yang dilanda perang melawan invasi Rusia. Orang-orang di negara anggota NATO mengumpulkan 5,9 juta euro untuk drone Bayraktar TB2 selama tiga hari bulan lalu, sebelum produsen Turki Baykar mengumumkan akan menyumbangkan drone secara gratis. (Photo by PETRAS MALUKAS/AFP via Getty Images) |
Sekitar 95% drone yang diekspor AS dikirim ke Ukraina, sementara 99% ekspor drone Iran mengalir ke Rusia. Dengan demikian, sebagian besar perdagangan drone militer yang tercatat selama periode tersebut berkaitan langsung dengan kebutuhan perang di Ukraina.
Yang juga menarik, sekitar 97% drone yang tercatat merupakan drone serang satu arah atau loitering munition. Jenis senjata ini dapat berputar atau berkelana di sekitar area target sebelum mengunci sasaran dan kemudian meledak saat menghantam target.
Ekspor Drone AS Anjlok, Iran Bertahan Tinggi
Pola ekspor AS dan Iran mulai menunjukkan perbedaan pada 2025.
Ekspor drone militer AS meningkat tajam dari 1.010 unit pada 2022 menjadi 3.219 unit pada 2024. Namun, pengiriman tersebut kemudian merosot menjadi hanya 402 unit pada 2025.
Sebagian besar ekspor AS pada 2025 justru mengarah ke Taiwan, yang menerima 291 loitering munition. Sementara itu, Ukraina menerima 100 unit buatan AS yang pembiayaannya berasal dari Inggris.
Di sisi lain, negara-negara Eropa mulai mengambil peran lebih besar dalam memasok drone ke Ukraina. Jerman, misalnya, mengirim seluruh 1.000 drone yang tercatat dalam ekspornya selama periode tersebut ke Ukraina pada 2025. Seluruhnya berupa loitering munition yang diberikan sebagai bantuan.
Iran menunjukkan pola berbeda. Setelah mengekspor 735 unit pada 2022, jumlahnya melonjak menjadi 2.031 unit pada 2023, kemudian 2.032 unit pada 2024 dan 2.002 unit pada 2025.
Dengan angka tersebut, Iran menjadi eksportir drone terbesar pada 2025.
Sebagian besar drone Iran yang tercatat dalam data SIPRI merupakan Shahed-136, yang digunakan Rusia dan juga diproduksi melalui perakitan berlisensi di Rusia.
Turki Bukan yang Terbesar, tapi Punya Pembeli Terbanyak
Jika ukurannya hanya jumlah unit, Turki masih berada jauh di bawah AS dan Iran. Namun, peta perdagangan drone berubah ketika indikator yang digunakan adalah jumlah negara pembeli.
Turki memasok drone militer ke 28 negara sepanjang 2022-2025, terbanyak di antara seluruh eksportir. Angka ini hampir tiga kali lipat dibandingkan AS dan China, yang masing-masing memasok ke 10 negara.
Jaringan pembeli Turki juga tersebar luas. Sebanyak 12 negara pembeli berada di Afrika, sementara lainnya mencakup anggota NATO seperti Polandia dan Rumania, serta Pakistan, Kuwait, dan Ukraina.
Karakter ekspor Turki juga berbeda dari AS dan Iran. Sekitar tiga perempat drone yang diekspor Turki merupakan pesawat nirawak berukuran lebih besar, seperti Bayraktar TB2, yang dapat digunakan untuk lebih dari satu misi.
Dari total 486 drone besar yang diekspor secara global selama periode tersebut, Turki memasok 281 unit atau sekitar 58%.
Bukan Sekadar Jumlah Unit
Untuk melihat skala perdagangan senjata secara lebih luas, SIPRI menggunakan Trend-Indicator Value (TIV). Ukuran ini memberikan nilai standar berdasarkan biaya produksi senjata yang sebanding.
TIV bukan harga jual sebenarnya, melainkan indikator untuk membandingkan volume dan kemampuan militer yang ditransfer antarnegara.
Dengan menggunakan ukuran tersebut, Turki justru tercatat sebagai eksportir drone terbesar pada periode 2022-2025.
Pada akhirnya, peta ekspor drone global tidak hanya menggambarkan siapa yang menjual drone paling banyak. Data tersebut juga menunjukkan bagaimana perang, jenis drone yang diperdagangkan, serta luasnya jaringan pembeli dapat menentukan posisi sebuah negara dalam industri drone dunia.
(mae/mae)
