Mata Uang Asia Kebakaran: Rupiah Paling Parah, Cuma 3 Negara Selamat
Jakarta, CNBC Indonesia - Dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan dominasinya di pasar valuta Asia pada perdagangan Senin (5/10/2026). Mayoritas mata uang kawasan melemah pada awal pekan, meski beberapa masih mampu bertahan di zona hijau.
Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, enam dari sembilan mata uang Asia yang dipantau terdepresiasi terhadap dolar AS, sementara tiga lainnya mencatat penguatan.
Dolar Taiwan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar setelah terapresiasi 0,05% ke posisi TWD 31,79/US$. Yen Jepang menyusul dengan kenaikan 0,03% ke JPY 157,79/US$, sementara dong Vietnam menguat 0,02% ke VND 25.979/US$.
Di antara mata uang yang melemah, rupiah mencatat tekanan paling dalam dengan depresiasi 0,21% ke level Rp17.905/US$. Baht Thailand menyusul dengan koreksi 0,15% ke THB 33,58/US$, sedangkan peso Filipina melemah 0,13% ke PHP 62,570/US$.
Won Korea Selatan turut terkoreksi 0,12% ke posisi KRW 1.344,08/US$. Dolar Singapura dan ringgit Malaysia masing-masing melemah 0,09% dan 0,07% ke SGD 1,2803/US$ dan MYR 4,084/US$.
Tekanan terhadap mayoritas mata uang Asia berlangsung seiring penguatan dolar AS. Pada pukul yang sama, indeks dolar AS (DXY) naik 0,17% ke level 102,119.
Greenback mengawali pekan dengan tetap kokoh di sekitar level tertinggi dalam 17 bulan. Kekuatan dolar masih ditopang oleh tingginya imbal hasil Treasury AS serta aliran dana menuju aset safe haven di tengah volatilitas pasar obligasi global.
Yield US Treasury tenor 10 tahun berada di kisaran 5,262%, masih dekat level tertinggi dalam 24 tahun yang disentuh pada pekan lalu.
"Dolar menjadi pemenang utama dalam kondisi saat ini karena kenaikan yield Treasury meningkatkan daya tarik aset AS, sementara aksi jual obligasi secara global turut mendorong aliran dana menuju greenback sebagai aset safe haven," ujar Matthew Ryan, Head of Market Strategy Ebury, dikutip dari Reuters.
Meski dolar masih kuat, ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve pada Oktober justru semakin mereda setelah data tenaga kerja AS menunjukkan pelemahan.
Pelaku pasar kini memperhitungkan peluang sekitar 78% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada Oktober, meningkat dari 36% sepekan sebelumnya. Meski demikian, pasar masih memperkirakan adanya kenaikan suku bunga pada Desember.